PERBANDINGAN
KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA ANTARA PENGGUNAAN PEMBELAJARAN TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN JIGSAW DI M.Ts.S
SYAHBUDDIN MUSTAFA NAULI KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pembelajaran
merupakan proses penting yang menentukan keberhasilan pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan,
khususnnya di sekolah tidak terlepas dari keberhasilan proses belajar mengajar.
Proses belajar mengajar tersebut
dipengaruhi oleh beberapa komponen, diantaranya guru, peserta didik,
metode mengajar, media pembelajaran ,
keaktifan peserta didik mapun motivasi peserta didik itu sendiri dalam belajar.
Komponen-komponen tersebut memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan
proses pembelajaran sehingga akan mempengaruhi hasil belajar siswa khususnya di
pembelajaran Matematika.
Matematika ialah
salah satu mata pelajaran di setiap sekolah memegang peranan penting dalam meningkatkan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Sehingga dalam proses pembelajaran harus
terlaksana dengan baik dan membentuk siswa untuk jadi berkualitas, karena
matematika sebagai salah satu saran berpikir untuk mengkaji suatu dengan secara
logis dan sistemasis.
Pelajaran
matematika adalah pelajaran yang berhubungan dengan banyak konsep. Konsep
tersebut merupakan ide abstrak yang dapat mengelompokkan objek-objek kedalam
contoh dan bukan contoh. sebab konsep merupakan kondisi utama
yang diperlukan untuk menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif
fundamental sebelumnya berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus
dan objek-objeknya.[1]
Mempelajari Matematika diperlukan
kemauan, ketekunan serta konsentrasi yang tinggi baik oleh guru maupun siswa,
apabila siswa tersebut telah memahami matematika maka siswa tersebut akan mampu
menyelesaikan berbagai persoalan Matematika. Siswa seharusnya dilibatkan secara
komunikatif dalam mengerjakan masalah Matematika, siswa diminta untuk
memikirkan ide atau konsep dari suatu permasalahan, berbicara dan mendengarkan
pendapat teman yang lain,
Dalam pembelajaran Matematika,
komunikasi Matematika siswa sangat dibutuhkan karena dapat menemukan
keberhasilan siswa dalam belajar Matematika. Keterlibatan siswa dalam bertanya,
memberikan suatu gagasan/ide Matematika, menarik kesimpulan, bahkan bertanya
selama proses kegiatan belajar dapat tertampung dalam ingatan siswa. Namun
sering kali kita melihat bahwa banyak siswa yang merasa kesulitan khususnya
dalam mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan Matematika. Kesulitan
yang dialami siswa tersebut mungkin saja disebabkan oleh model pembelajaran
guru yang bersifat konvensional sehingga siswa kurang diberi kesempatan untuk
terlatih mengkomunikasikan segala sesuatu yang mereka pelajari.
Mengingat pentingnya komunikasi
Matematis, maka perlu di kembangkan suatu model pembelajaran yang erat
kaitannya dengan kemampuan komunikasi Matematis, salah satunya adalah model
pembelajaran Teams Games Tournament
(TGT) dan Jigsaw. Kedua model ini sangat cocok digunakan dalam proses pembelajaran di kelas agar memicu ide-ide kreatif siswa
juga menumbuhkan tanggung jawab siswa yang pada dasarnya semua siswa
memilikinya sejak di bangku persekolahan namun keterbatasan ilmu dan metode
yang diterapkan. Seperti hal kebanyakan guru-guru masih menerapkan metode
cearamah atau pembelajaran langsung saja. tidak dihadapakan dengan berbagai
maslah sehingga dengan mudah memecahkan masalah tersebut. Untuk memcahkan
masalah tersebut dibutuhkan desain pembelajaran semenarik mungkin dengan
menggunakan Model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan
pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk berinteraksi satu sama lainnya dan
menyenangkan adalah model pembelajaran Jigsaw dan Teams Games Tournament (TGT), karena model ini merupakan model
pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang melibatkan seluruh siswa
dalam prosesnya dan diharapkan setiap siswa mampu bertanggung jawab atas
kegiatan yang dilakukannya. Dalam jigsaw dan TGT siswa memiliki peran dan
tanggung jawab masing-masing dalam kelompoknya. Jigsaw dan TGT menghilangkan
sikap pasif siswa dalam kegiatan pembelajaran.[2]
Berdasarkan hasil wawancara yang
dilaksanakan tepatnya pada tanggal
20 Oktober 2020 dengan Ibu Masrawiyah
Tanjung,S.Pd selaku guru Matematika di M.Ts.S Syahbuddin Mustafa Nauli
sekaligus guru di kelas VIII beliau mengatakan bahwa:
“kemampuan
komunikasi Matematis siswa masih rendah, hal ini dikarenakan siswa menganggap
bahwa gurulah satu-satunya pusat sumber belajar. Saat proses pembelajaran yang
aktif secara lisan hanya siswa yang berkemampuan tinggi saja yang ikut sertakan
dalam proses belajar mengajar atau yang ikut berpartisipasi, selain itu tidak
yang memberikan ide-ide gagasan untuk menjawab pertanyaan dari guru tersebut,
padahal sebenarnya ada ide-ide cemerlang yang ingin siswa-siswa tersebut
sampaikan akan tetapi siswa malu juga takut nantinya jawaban atau ide-ide
gagasan yang mereka paparkan tidak sesuai yang dipertanyakan atau salah
sehingga ditertakawakan oleh teman-temannya. Selain itu, siswa juga merasa
kesulitan jika guru meminta menjelaskan kembali apa yang telah mereka pelajari.
Hal ini disebabkan kurangnya model atau
metode seorang guru disaat pembelajaran
untuk mengajak siswa melatih berkomunikasi. Dan kurangnya keterlibatan siswa
sedang dan rendah dalam pembelajaran Matematika”.
Berdasarkan hasil observasi yang
dilakukan peneliti di kelas VIII M.Ts.S
Syahbuddin Mustafa Nauli tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2020, proses
pembelajaran yang terjadi memperlihatkan bahwa siswa jarang sekali aktif
bertanya, menjawab, memberikan gagasan, juga saling tukar pikiran atau berbagi
ilmu sesama mereka, sehingga kemampuan
komunikasi juga menuliskan ide-ide
mereka di papan tulis tidak terasa
dengan baik.
Berdasarkan hal di atas
peneliti mencoba menggunakan model pembelajaran yang dapat meningakatkan
komunikasi Matematis siswa. Dengan menggunakan model ini akan menumbuhkan
kerjasama, dan tanggung jawab khususnya
komuniksi Matematik siswa yang baik karena untuk langkah-langkah model ini sendiri
menuntut untuk aktif dalam hal berkelompok maupun perseorangan. Peneliti akan
mencoba membandingkan model pembelajaran yang manakah yang dapat membangun atau
meningkatkan komunikasi Matematis. Model pembelajaran yang dibandingkan adalah
model pembelajaran TGT (Teams Games
Tournament) dan model pembelajaran Jigsaw. Model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament ) adalah Model
pembalajaran Teams Games Tournament
(TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooporatif yang mudah
diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan
status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur
permaianan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif
model Teams Games Tournament
memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung
jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. [3]
Sedangkan model pembelajaran Jigsaw atau disebut juga model tim ahli
adalah teknik pembelajan yang memusatkan perhatian pada
kemampuan penguasaan materi[4].
Jigsaw didesain untuk meningkatkan tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya dan pembelajaran orang lain. [5]
Adapun tujuan dari digunakannya
kedua model ini ialah kedua model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam
kegiatan pembelajaran yang dapat melatih siswa berinteraksi satu sama lainnya
dan menyenangkan. Selain itu juga pembelajaran yang dilakukan secara
berkelompok dalam prosesnya diharapkan siswa mampu bertanggung jawab atas
kegiatan yang dilakukannya. Kedua model pembelajran ini menghilangkan sikap
pasif siswa dalam kegiatan pembelajaran. [6]
Berdasarkan hasil wawancara sekaligus uraian di atas bahwa pembelajaran
akan lebih menyenangkan dan lebih mudah di pahami dengan menggunakan model
pembelajaran, sehingga peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang
‘’Perbandingan Komunikasi Matematis Antara Penggunaan Model Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dengan Model
Pembelajaan Jigsaw Kelas VIII M.Ts.S SYAHBUDDIN
MUSTAFA NAULI KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA
B.
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasi
beberapa masalah yaitu sebagai berikut:
1. Masih rendahnya
kemampuan komunikasi Matematis siswa kelas VIII M.Ts.S
Syahbuddin Mustafa Nauli baik secara lisan dan tulisan dalam pembelajaran
Matematika.
2. Nilai Matematika
siswa kelas VIII belum tercapai seperti yang diharapkan guru.
3. Model
pembelajaran TGT (Teams Games Tournament )
dan Jigsaw belum pernah diterapkan di M.Ts.S Syahbddin
Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.
C.
Batasan Masalah
Demi tercapai tujuan yang diinginkan, maka perlu adanya batasan masalah,
supaya permasalahan dalam penelitian ini lebih mudah dipaham, semakin terarah
dan jelas, maka peneliti membatasi permasalahan yang dikaji “Perbandingan
Komunikasi Matematis Siswa Antara Penggunaan Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament ) dengan Model
Pembelajaran Jigsaw di M.Ts.S Syahubuddin
Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.
D.
Defenisi Operasional Variabel
Defenisi Operasional Variabel disini bertujuan untuk memberikan gambaran
secara jelas kepada pembaca, serta menghindari adanya penafsiran yang salah
memahami judul di atas, sehingga perlu ditegaskan istilah-istilah yang termuat
dalam judul tersebut. Adapun defenisi dari variabel tersebut sebagai berikut:
1. Model
Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament )
Model
pembelajaran Teams Games Tournament
adalah Pembelajaran yang menggunakan model yang mana siswa memainkan permainan
dengan anggota-anggota tim lain untuk
memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka[7]
Adapun
langkah-langkahnya yaitu: Mengelompokkan siswa, Guru menyajikan materi dan
siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing, Memberikan LKS kepada setiap
kelompok, belajar dalam kelompok (teams), games tournament, penghargaan
kelompok (team Recognition)[8]
2. Model
Pembelajaran Jigsaw
Model
pembelajaran jigsaw adalah model yang mana didalamnya guru membagi satuan suatu
informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil.[9]
Adapun
langkah-langkahnya yaitu: Guru membagi kelompok terdiri dari kelompok ahli dan
kelompok asal, setelah siswa berdiskusi dalam kelompok asal dan ahli, guru
memberikan kuis untuk siswa secara individual, pemberian skor pada setiap
kelompok, dan materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa
bagian materi pembelajaran.
3. Komunikasi
Matematis
Kemampuan
komunikasi matematis adalah kemampuan siswa dalam menyampaikan ide Matematika
baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan komunikasi matematis peserta didik
dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran di sekolah, salah satunya adalah
proses pembelajaran Matematika.[10]
Eri
Widyastuti mengungkapkan beberapa indikator yang mengukur kemampuan komunikasi
matematis siswa:
Menghubungkan
atau merefleksikan benda nyata, gambar dan diagram kedalam ide Matematika.
Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematis secara lisan atau tulisan dengan
benda nyata, gambar, garafik atau bentuk aljabar.Menyatakan peristiwa
sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika. Mendengarkan, berdiskusi, dan
menulis tentang Matematika. Kemudian Membaca presentasi Matematika tertulis dan
menyusun pertanyaan yang relevan.[11]
E.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di
atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana
gambaran kemampuan komunikasi Matematis
siswa yang menggunakan model pembelajaran Team
Games Tournament (TGT)?.
2. Bagaimanakah
gambaran kemampuan komunikasi Matematis siswa yang menggunakan model
pembelajaran Jigsaw?.
3. Apakah
terdapat perbedaan kemampuan komunikasi Matematis siswa antara yang menggunakan
model Pembelajaran Team Games Tournament
(TGT) dan model pembelajaran Jigsaw?.
F.
Tujuaan
Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui:
1.
Gambaran kemampuan komunikasi matematis siswa
yang menggunakan model pembelajaran Team
Games Tournament (TGT).
2.
gambaran kemampuan
komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Jigsaw.
3.
Perbedaan kemampuan
komunikasi matematis siswa antara yang menggunakan model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dan model
pembelajaran Jigsaw.
G.
Manfaat
Penelitian
Adapun hasil penelitian ini berguna sebagai
berikut :
1. Bagi
mahasiswa
a. Sebagai
salah satu kajian penelitian untuk mengembangkan khasanah keilmuan yang telah
diperoleh dalam proses perkuliahan.
b. Mahasiswa
calon guru matematika dapat mengetahui keterampilan mengajar yang harus
dimiliki sebelum mengajar di dalam kelas.
c. Sebagai
masukan dan kritik saran dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa khususnya yang
berkenaan.
d. Acuan
bagi mahasiswa yang akan melaksanakan PPL berikutnya dan mampu memperbaiki
kekurangan yang ada.
2. Bagi
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padangsidimpuan
a. Sebagai
salah satu sumbangsih penulis untuk almamater tercinta IAIN Padangsidimpuan.
b. Sebagai
salah satu pertimbangan untuk mengevaluasi kembali keterampilan-ketarampilan
mengajar mahasiswa calon guru khususnya pada mata kuliah micro teaching.
c. Sebagai
bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian yang
sejenis, namun dalam pandangan yang berbeda.
3. Bagi
para guru menjadi bahan pertimbangan dan masukan dalam rangka melaksanakan
pembelajaran matematika. Guru memperoleh satu teknik mengajar yang baru.
H.
Sistematik
Pembahasan
Untuk
memudahkan memahami pembahasan ini, maka penulis membuat sistematika
pembahasan sebagai berikut:
Bab
Pertama, merupakan Pendahuluan dengan membahas Latar Belakang Masalah,
Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, Defenisi Operasiona Variable, Rumusan
Masalah, Tujuan Penelitian, dan Kegunaan
Penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pokok permasalahan yang akan
dibahas.
Bab
Kedua, merupakan Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, melihat buku-buku, Kajian
Penelitian terdahulu yang membahas tentang Metode Pembelajaran TGT dan Model
Pembelajaran Jigsaw terhadap Komunikasi Matematis siswa.
Bab
Ketiga, Metodologi Penelitian terdiri dari waktu dan lokasi penelitian, Jenis
Penelitian, unit analisi/subjek Penelitian, Sumber Data, Tekhnik Pengumpulan
Data, Tekhnik Pengolahan Data dan Analisis Data dalam Metodologi Penelitian
merupakan gambaran konkrit langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian
bahkan alat-alat apa yang akan digunakan dalam penelitian ini untuk memudahkan
dalam membuat satu penelitian.
Bab
IV, Deskripsi Hasil Penelitian, Perbandingan Hasil Tindakan, Pembahasan Hasil
Penelitian, Keterbatasan Hasil Penelitian.
Bab
V, Kesimpulan dan Saran
[1]Trianto, Mendesain
Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2009), hlm. 158.
[2] Siska
Waryuni dkk, “ Perbandingan Model Pembelajaran
Tipe Jigsaw Dengan Tipe Teams
Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPS
SMA Negri Batam Tahun Pelajaran 2013/2014” Jurnal
Ptygoras, vol 3, no.2(2014): 68, ISSN 2301-5314,
[3] Khoiru Ahmad, Strategi
Pembelajaran Sekolah Terpadu, (Pubalingga : Pustaka Pelajar. 2012), hlm. 63
[4] Ungguh Muliawanan Jasa, Model
Pembelajaran Spektakuler, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016),
hlm 150
[5] Hamdani
dkk, Strategi
Belajar Mengajar, ( Bandung:CV
Pustaka Setia, 2011). Hlm. 37.
[6] Siska Wuryani dkk, “Perbandingan Model Pembelajaran
Tipe Jigsaw dengan Tipe TGT (Team Game Tournament) Terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 5 BatamTahun Pelajaran”, Jurnal Pythagoras, Vol.3
(2), ISSN 2301-5314, Hlm 67.
[7]Trianto,
Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif; (Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup, 2013). hlm.
83.
[8] Fathurrahman Muhammad, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media,
2015), hlm. 55
[9] Lif Khoiru hmadi dkk, Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu, (Padangsidempuan: Prestai
Pustaka, 2012). hlm.62
[10] Hodiyanto,
“Kemampuan Komunikasi Matematis dalam
Pembelajaran Matematika”, Jurnal Program
Studi Pendidikan Matematika Fakultas MIPATEK IKIP PGRI Pontianak, Vol 7,
No.1(2017):11, ISSN 2088-687X, hlm 57.
[11] Eri
Widyastuti,”Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Pemahaman
Matematis…”hlm.45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar