BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Kerangka
Teori
1. Model
Pembelajaran
Model Pembelajaran ialah pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun
tutorial. Sedangkan menurut Joycae dan Weil model pembelajaran adalah suatu
rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran
jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pelajaran
di kelas atau yang lain. Salah satu model pembelajaran yang dapat menumbuhkan
semangat siswa di kelas,[1]
2. Pembelajaran
kooperatif
Pembelajaran
Kooperatif merupakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk bias bekerja
sama. Fase utama dalam proses pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:
a. Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
b. Menyajikan
informasi
c. Mengorganisasikan
siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
d. Membantu
kerja kelompok dalam belajar
e. 13
f. Memberikan
penghargaan[2]
Ciri-ciri
pembelajaran kooperatif menurut Sthal dalam Wiyanto diantaranya adalah :
1)
belajar bersama teman,
2)
Selama proses belajar
terjadi tatap muka antar teman,
3)
saling mendengarkan pendapat
di antara anggota kelompok
4)
belajar dari teman sendiri dalam kelompok,
5)
belajar dalam kelompok kecil,
6)
produktif berbicara atau saling mengemukakan
pendapat,
7)
keputusan tergantung pada siswa sendiri,
8)
siswa aktif. Dengan demikian pembelajaran kelompok.
Berhubungan dengan proses belajar
yang dilakukan siswa secara bersama-sama melalui komunikasi interaktif dengan
dipimpin oleh seorang pemimpin untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi
sehubungan dengan materi pelajaran.[3]
3. Model
Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament )
a. Pengertian
Model Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) TGT (Teams Games Tournament ) merupakan pembelajaraan kooperatif yang terdiri dari kegiatan pengajaran,
kelompok belajar dan pertandingan antar kelompok. [4]
TGT
merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa
dalam kelompok-kelompok belajar yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan
suku atau ras yang berbeda. Selain itu, dalam TGT siswa memainkan permainan
dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka
masing-masing.
Menurut
Ai Sholihah, “Teams Games Tournament adalah salah satu tipe atau metode pembelajaran
kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa
harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya
dan mengandung unsur peramainan”.
Sedangkan menurut Kusumandari, “Teams Games Tournament merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif
yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5-6
orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku/ras yang berbeda”.[5] Dan menurut Slavin, “Teams Games Tournament pada awalnya dikembangkan oleh David De Vries
dan Keith Edwards, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns
Hopkins”. Model pembelajaran Teams Games
Tournament adalah metode berkelompok yang mudah diterapkan, melibatkan
aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. [6]
b.
Kelebihan
dan Kekurangan model pembejaran TGT
Menurut Ai
Sholihah menyatakan model pembelajaran Teams Games Tournament memiliki beberapa
kelebihan diantaranya:
1)
Lebih
meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas.
2)
Mengedepankan
penerimaan terhadap perbedaan individu.
3)
Dengan waktu
yang sedikit siswa dapat menguasai materi secara mendalam.
4)
Proses belajar
mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa.
5)
Motivasi belajar
lebih tinggi.
6)
Mendidik siswa
untuk terlatih bersosialisasi dengan orang lain.
Adapun
kelemahanya di anataranya: bagi guru sulitnya mengelompokkan siswa berkemampuan
heterogen dari segi akademis, serta adanya siswa kemampuan tinggi yang kurang
terbiasa dan sulit memberikan penjelasan pada temannya. [7]
c.
Langkah-langkah
Model TGT (Teams Games Tournament )
Tahapan pembelajaran TGT (Teams Games Tournament),
sebagai berikut:
1)
Pada awal pembelajaran,
guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas. biasanya, dilakukan dengan
pengajaran langsung.
2)
Kemudian guru membagi
kelompok terdiri atas 4-5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari
prestasi akademik, jenis kelamin, ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah agar
lebih memahami atau mendalami materi bersama teman sekelompoknya untuk
mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat
game.
3)
Selanjutnya Game, yang mana Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji
pengetahuan yang diperoleh siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok.
Kebanyakan game terdiri atas
pertanyaan bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab benar
akan mendapat skor. Skor ini dikumpulkan siswa untuk tournament.
4)
Tournamen
dilakukan pada akhir minggu atau setiap unit setelah guru melakukan persentasi
kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Pada tournament pertama,
guru membagi siswa ke dalam beberapa meja tournament.
5)
Guru kemudian
mengumumkan kelompok yang menang, dan masing masing kelompok akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata
skor memenuhi kriteria yang ditentukan. [8]
4. Model
Pembelajaran Jigsaw
a. Pengertian
Model Pembelajaran Jigsaw
Model
Pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menitik beratkan pada kerjasama kelompok dalam kelompok kecil. Model pembelajaran ini juga disebut model tim
ahli adalah teknik pembelajaran yang memusatkan perhatian pada kemampuan
penguasaan materi pelajaran tertentu secara spesifik.[9]
Dalam
Jigsaw, siswa bekerja dalam kelompok yang sama, siswa ditugaskan untuk membaca
materi. Tiap anggota tim ditugaskan secara acak untuk menjadi “ahli” dalam
materi tertentu. Setelah membaca materinya, para ahli dari tim berbeda bertemu
untuk mendiskusikan materi kemudian mereka kembali pada timnya untuk
mengajarkan materi kepada teman satu timnya.
Ciri
khas pembelajaran ini dengan tipe kooperatif lainnya, yaitu adanya kelompok
belajar dan kelompok ahli (expert-team).
Model
pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diuji cobakan
oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan di Universitas Texas, dan kemudian
diadaptasi oleh Slavin di Universitas John Hopkin. Tipe ini bisa digunakan
dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan
sosial, matematika, bahasa dan lain-lain.Tipe ini cocok untuk semua kelas. [10]
Mengikuti
Fitri Haryani model pembelajaran Jigsaw dilakukan dengan membagi kelas menjadi
kelompok-kelompok kecil dalam hal ini 4 kelompok diskusi. Masing-masing kelompok bekerja menggunakan
worksheet. [11]
b. Langkah-langkah
Model Pembelajaran Jigsaw
Tahapan pembelajaran Jigsaw yaitu sebagai
berikut:
1)
Diawali dengan
pengenalan topik yang akan dibahas oleh guru. Guru biasa menuliskan topik yang
akan dipelajari pada papan tulis. Setelah itu menanyakan pada siswa apa yang
mereka ketahui mengenai topik tersebut.
2)
Guru membagi kelas menjadi
kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok tergantung pada jumlah konsep yang
terdapat pada topik yang dipelajari konsep yang terdapat pada topik yang
dipelajari, dan membentuk kelompok asal
3)
Setelah kelompok asal
terbentuk, guru membagi materi tekstual pada tiap-tiap kelompok dan memahami
materi konsteksual yang diberikan oleh guru.
4)
Selanjutnya membentuk
kelompok ahli. Jika kelompok asal terdiri darai 4 kelompok maka kelompok
ahlinya terdiri dari 4 kelompok juga.
5)
Kemudian kembali ke
kelompok asal, artinya anggota-anggota yang berasal dari kelompok heuristik kembali ke kelompoknya.
6)
Setelah mereka
kembali ke kelompok, kemudian memberikan
kesempatan untuk mereka berdiskusi dengan pengetahuan yang mereka ketahui
dengan kelompok ahli.
7)
Tiap
kelompok mempersentasikan hasil diskusi
8)
Guru
memberikan test individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah di
bahas dan siswa mengerjakan test yang diberikan guruyang mencakup semua materi [12]
c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Jigsaw
Guru
perlu memperhatikan bahwa dalam menggunakan Jigsaw untuk mempelajari
materi baru maka perlu dipersiapkan
suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang efektif Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran Jigsaw
Ada
beberapa keuntungan cooperative learning dalam proses pembelajaran, menurut
Yamin dan Ansari yaitu:
1)
Cooperative
learning mengajarkan siswa untuk percaya pada
guru dan lebih lagi percaya pada kemampuan sendiri untuk berpikir, mencari
informasi dan sumber lain, dan dapat belajar dari siswa lain.
2)
Cooperative
learning mendorong siswa untuk mengungkapkan
idenya secara verbal dan membandingkan ide dengan temannya. Ini secara khusus
bermakna ketika dalam proses pemecahan masalah.
3)
Cooperative
learning membantu siswa belajar menghormati
siswa yang pintar dan siswa yang lemah dalam menerima perbedaan ini.
4)
Cooperative
learning merupakan strategi efektif bagi siswa
untuk mencapai hasil akademik dan social termasuk meningkatkan prestasi,
percaya diri, dan hubungan interpersonal positif antara satu siswa dengan
lainnya, meningkatkan keterampilan manajemen waktu dan sikap positif terhadap
sekolah.
5)
Dapat mengembangkan
bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan diskusi.
6)
Memudahkan siswa
melakukan interaksi sosial
7)
Menghargai ide orang
lain yang dirasa lebih
8)
Meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif. [13]
Adapun keterbatasannya adalah
sebagai berkut:
1)
beberapa siswa mungkin
pada awalnya segan untuk mengeluarkan ide dan takut dinilai temannya dalam
grup.
2)
tidak semua siswa
otomatis memahami dan menerima philosophy cooperative learning. Guru banyak
menyita waktu dalam mensosialisasikan siswa belajar dengan cara ini.
3)
Penggunaan cooperative
learning harus sangat rinci melaporkan setiap penampilan siswa dan tiap tugas
siswa, dan begitu banyak menghabiskan waktu untuk menghitung hasil prestasi
grup.
4)
Meskipun kerja sama
sangat penting untuk ketuntasan belajar siswa, banyak aktivitas kehidupan
didasarkan pada usaha individual. Namun siswa harus belajar menjadi percaya diri.
Itu sulit dicapai karena memiliki latar belakang yang berbeda.
5)
Sulit untuk membentuk
kelompok yang solid, yang dapat bekerja sama dengan secara harmonis.
6)
Penilaian terhadap
murid sebagai individu menjadi sulit karena tersembunyi di belakang kelompok. [14]
5. Komunikasi
Matematis
a. Pengertian
Komunikasi.
Komunikasi
secara umum dapat di artikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan
dari pembawa pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku
baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Untuk
mengembangkan kemampuan berkomunikasi, orang dapat menyampaikan dengan berbagai
bahasa termasuk bahasa Matematis. [15]
“unsur-unsur komunikasi dalam pembelajaran
terdiri dari: guru, siswa, materi pelajaran, tujuan pembelajaran, media dan
evaluasi”. Selanjutnya, menurut Eri Widyastuti, “Komunikasi adalah suatu proses
memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu
pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan
yang dimaksudkan komunikator”. [16]
Kemampuan
komunikasi Matematis adalah kemampuan siswa dalam menyampaikan ide Matematika baik
secara lisan maupun tulisan. Kemampuan komunikasi Matematis peserta didik dapat
dikembangkan melalui proses pembelajaran di sekolah, salah satunya adalah
proses pembelajaran Matematika. Dengan demikian, Matematika memiliki peran
penting terhadap perkembangan kemampuan komunikasi Matematisnya. Karena pentingnya
kemampuan komunikasi Matematis tersebut, seorang pendidik harus memahami
komunikasi Matematis serta mengetahui aspek-aspek atau indikator-indikator dari
komunikasi Matematis, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika perlu
dirancang sebaik mungkin agar tujuan mengembangkan kemampuan komunikasi Matematis.
b. Indikator
kemampuan komunikasi Matematis
Eri
Widyastuti mengungkapkan beberapa indikator yang mengukur kemampuan komunikasi
matematis siswa, antara lain sebagai berikut:
1)
Menghubungkan atau
merefleksikan benda nyata, gambar dan diagram kedalam ide Matematika.
2)
Menjelaskan ide,
situasi dan relasi matematis secara lisan atau tulisan dengan benda nyata, gambar,
garafik atau bentuk aljabar.
3)
Menyatakan peristiwa sehari-hari
dalam bahasa atau simbol matematika.
4)
Mendengarkan,
berdiskusi, dan menulis tentang Matematika. Kemudian Membaca presentasi Matematika
tertulis dan menyusun pertanyaan yang relevan.[17]
Sedangkan
menurut Baroody mengemukakan lima aspek komunikasi, kelima aspek itu adalah
sebagai berikut:
1)
Written
Text, yaitu memberikan jawaban dengan
menggunakan bahasa sendiri, membuat model situasi atau persoalan menggunakan
bahasa konkrit, grafik, aljabar, menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang
matematika yang telah dipelajari, mendengarkan, mendiskusikan dan menulis
tentang Matematika membuat konjektur, menyusun argument dan generealisasi.
2)
Drowwing,
yaitu mereflesikan benda nyata, gambar, dan diagram dalam ide Matematika.
3)
Athematical
Exprossion, yaitu mengesksperesikan konsep Matematika
dengan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa simbol Matematika.
Indikator
kemampuan Matematis dalam penelitian ini
secara tertulis adalah sebagai berikut:
1)
Menjelaskan ide,
situasi dan relasi matematis secara lisan dan tertulis dengan benda nyata,
gambar, grafik dan aljabar.
2)
Menjelaskan kembali
secara lisan pemahaman mereka mengenai suatu
presentasi matematika tertulis.
3)
Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam
bahasa atau simbol Matematika secara lisan dan tertulis.
4)
Menjelaskan dan membuat
pertanyaan tentang Matematika yang telah dipelajari.
5)
Kemampuan dalam
menggunakan istilah-istilah, notasi -notasi Matematika dan
struktur strukturnya untuk menyajikan
ide-ide, menggambarkan hubungan-hubungan dengan model-model situasi.
6)
Keruntutan jawaban
dalam menjelaskan konsep Matematika.
c. Aspek-Aspek
Dalam Komunikasi Matematis
Afria
Alfitri Riqky juga menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang termasuk dalam
kemampuan berpikir matematis di antaranya adalah sebagai berikut:
1)
kemampuan pemecahan
masalah matematis
2)
komunikasi matematis
3)
penalaran dan pembuktian
matematis
4)
Melalui pembelajaran Matematika,
Siswa di harapkan
dapat mengkomunikasikan gagasan dengan simbol,
tabel, diagram, atau
media lain untuk
memperjelas keadaan atau masalah
eksi matematis dan representasi matematis. [18]
B.
Penelitian
Yang Relevan
1. Penelitian
yang di lakukan oleh Raras Triastuti merupakan mahasiswi dari Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2014, dengan judul penelitian “Perbandingan
Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan Tipe Jigsaw Melalui
Pendekatan Problem Solving Ditinjau Dari Motivasi Dan Pretasi Belajar
Matematika Siswa kelas VIII SMPN 3 Pakem Slemen Yogyakarta”, dengan hasil dan
pembahasan, sesuai dengan rumusan masalah maka dapat di simpulkan tidak
ditemukannya adanya perbedaan Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
TGT dan Tipe Jigsaw Melalui Pendekatan Problem Solving Ditinjau Dari Motivasi
Dan Pretasi Belajar Matematika Siswa kelas VIII SMPN 3 Pakem Slemen Yogyakarta.[19]
Berdasarkan rujukan penelitian di atas
terdapat perbedaan dengan penelitian yang saya lakukan, dalam penelitian
sebelumnya perbandingan keefektipan belajarnya dengan menggunakan model
pembelajaran TGT dan Jigsaw, sedangkan penelitian yang saya lakukan ialah
terpokus pada komunikasi matematisnya. Adapun letak kesamaannya adalah
penelitian sebelumnya menggunakan model pembelajran TGT dan Jigsaw begitu juga
dengan penelitian yang saya lakukan juga menggunakan model pembelajaran TGT dan
Jigsaw.
2. Penelitian
yang dilakukan oleh Agus Tianto dan Asnil Aida Ritonga dengan hasil penelitian
dan pembahasan, maka sesuai dengan rumusan masalah, peneliti dapat disimpulakan
bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa pada materi
bagun datar dan persegi panjang.
Berdasarkan rujukan penelitian di atas
terdapat perbedaan dengan penelitian yang saya lakukan, dalam penelitian
sebelumnya hanya menggunakan satu model pembelajaran kooperatif yang bertujauan untuk meningkatkan komunikasi
matematika, sedangkan penelitian yang saya lakukan menggunakan dua model
pembelajaran kooperatif dan untuk membandingakan komunikasi matematis siswa.
Dan letak persamaannya dengan penelitian yang saya lakukan ialah disini
sama-sama menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan sama-sama
menguji komunikasi Matematika. [20]
3. Penelitian
yang dilakukan oleh Nila Ubaidah dengan judul “Pemanfaatan CD Pembelajaran
untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa melalui Pembelajaran
Make a Match”. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat
disimpulkan bahwa melalui make a match berbantuan CD pembelajaran dapat
meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas X-4 SMAN 1 Rowosari
Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal.
Berdasarkan
rujukan penelitian di atas letak perbedaan dengan penelitian yang saya lakukan
adalah sekolah dan pemanfaatan CD pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi matematis, beda halnya dengan penelitian yang saya lakukan yang
terkhusus pada kemampuan komunikasi matematis saja dengan menggunakan Model
Pembelajaran Teams Games Tournament
dan Jigsaw. [21]
C.
Kerangka
Fikir
Kemampuan
komunikasi Matematis adalah suatu kemampuan dalam menyatakan suatu situasi/soal
cerita kedalam bahasa/simbol Matematika, kemampuan dalam menyelesaikan masalah
serta kemampuan dalam menarik kesimpulan. Kerangka fikir ini lahir bedasarkan
kajian teori dan penelitian yang relevan, untuk menguji kembali kendala
mengenai kemampuan komunikasi Matematis siswa ini sudah sesuai dengan
penelitian relevan yang sebelumnya maka peneliti melakukan observasi awal
dengan mewancarai salah satu guru bidang
studi Matemaatika, masih banyak siswa yang memiliki tingkat kemampuan
akan komunikasi Matematisnya lemah, hal ini dapat dibuktikan saat ditanya oleh
guru kebanyakan dari siswa tidak bias menyatakankannya dalam bentuk Matematisnya
dan pernyataan tersebut dapat pula dibuktikan dengan mendapatkan informasi dari
salah satu siswa di M.Ts.S yang mana
kenyataan pembelajaran yang digunakan masih dengan pembelajaran yang biasa digunakan yang
sebelum-sebelumnya yaitu metode ceramah dan model pembelajaran langsung,
sehingga siswa merasa bosan, jenuh dan sutuk untuk mengikuti pembelajaran Matematika
tersebut, sehingga mengakibatkan lemah cara berfikir juga komunikasi Matematis
siswa yang mana tadi merupakan sauatu yang sangat mudah di pahami sehingga
menjadi sesuatu yang sulit untuk dipahami siswa itu sendiri.
Adapun
cara yang ditempuh untuk mencegah permasalah tersebut adalah dengan melakukan
sedikit perombakan pembelajaran yakni menerapkan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dan model
Pembelajaran Jigsaw, peneliti akan
melakukan instrumen model pembelajaran yang manakah paling tepat untuk
pembelajran Matematika. Kerena kedua-keduanya memiliki kaitan yang erat dengan
kemampuan komunikasi Matematis disekolah M.Ts.S Syahbuddin Mustafa Nauli
Kabupaten Padang Lawas Utara.
D.
Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Ha=
terdapat perbedaan komunikasi Matematis dengan menggunakan model
pembelajaran TGT (Teams Games Tournament)
dengan model pembelajaran Jigsaw di M.Ts.S
Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.
2. H0 = tidak ada perbandingan komunikasi Matematis
dengan menggunakan model pembelajaran TGT (Teams
Games Tournament) dengan model pembelajaran Jigsaw di M.Ts.S
Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.
[1] Roisatun
Nisak, “Perbedaan Komimikasi Matematis Siswa Menggunakan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Teams Games Tournament
(TGT) Dengan Numbered Heads Together (NHT) pada Siswa Kelas VIII Materi Lingkaran
di MTsN 4 Tulunggagung, Tahun Ajaran 2017/2018”, Skiripsi Matematika, hlm.20.
[2] Unugroho
dan Hartono, “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STDA Bereontasi
Keterampilan Proses,” Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, ISSN:
1693-1246, no.5 (2009):107, http://journal.unnes.ac.id.
[3] Ning Endah Sri Rezeki, “Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Pada Siswa VIII G Semester 2 SMP Negeri Toroh Grombongan,” Jurnal
Lemlit, Vol 3, no.2 (2009), hlm 62.
[4] Siska
Waryuni dkk, “ Perbandingan Model Pembelajaran
Tipe Jigsaw Dengan Tipe Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPS SMA Negri Batam Tahun Pelajaran
2013/2014” Jurnal Ptygoras, Vol 3,
no.2(2014): 68, ISSN 2301-5314, hlm.217-218.
[5]Kusumndari , ‘’Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe TeamsGames Tournameent di Kelas X SMA N 4 Bengkulu Kota Bengkulu’’, Jurnal Pendidikan Vol X, Nomor 1, 2017, hlm.21.
[6] Ai Sholihah, “Pengaruh Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Terhadap
Hasul Belajar Matematika”, Jurnal SAP, Vol.1,
No.1 (2016), ISSN:2527-967X, hlm 47-48.
[7] Ai Sholihah, “Pengaruh Model
Pembelajaran…, halm 47-48.
[8] Abdul
Kodir, Strstegi Belajar Mengajar,
(Bandung: Pustaka Setia, 2011), hlm. 92.
[9] Jasa Unggun
Muliawan, 45 Model Pembelajaran Spektakuler,
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) hlm 150.
[10] Sugianto,dkk,
“Perbedaan Penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Tipe Jigsaw Dan STAD
Ditinjau dari Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematis Siswa SMA”, Jurnal Didaktik Matematika, Vol 1,
No.1(2014), ISSN:2355-4185, Hlm 118.
[11] Fitri Haryani,
“Meningkatkan Motivasi dan Pemahaman Konsep Perbandingan Fungsi Trigonometri Melalui
Model Pembelajaran Jigsaw di SMA Negeri 8 Kota Jambi”, Jurnal Edu-Sains, Volume 1, No.1(2012),
hlm 34.
[12] Agus
Suprijono, Cooperative Learning,
(Celeban Timur, Pustaka Pelajar : 2014), hlm.89.
[13] Ahmad
Syarifuddin, “Model Pembelajaran Coopratif Learning Tipe Jigsaw Dalam Pembelajaran”, Jurnal Ta’dib,
Vol. XVI, No. 02, Edisi Nopember 2011, hlm
211-216.
[14] Ahmad Syarifuddin,
“Model Pembelajaran Coopratif Learning…,
hlm 211-216.
[15] Susi
Sulastri dan Cici Nurul Haq, “Perbedaan Komunikasi Matematik Siswa Antara yang
Mendapatkan Model Pembelajaran Jigsaw dan Cooperatif Script”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol 2,
ISSN 2086-4280, No.2 (2013), hlm.114.
[16] Eri Widyastuti,”Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep
dan Pemahaman Matematis Siswa dengan Menggunakan Pembelajaaran Kooperatif Tipe
Jigsaw”hlm.43.
[17] Eri
Widyastuti,”Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Pemahaman Matematis…”hlm.45.
[18] Afria Alfitri Rizqi,
“Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Melalui Blended Learning Berbasih
Masalah”, Guru Matematika SMK Maarif Tegalsambi Jepara Jalan Sunan Mantingan
No. 106 Tegalsambi Tahunan Jepara fria.sassy@gmail.com,
2016, hal. 195-196.
[19] Raras
Triastuti “Perbandingan
Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan Tipe Jigsaw Melalui
Pendekatan Problem Solving Ditinjau dari Motivasi dan Pretasi Belajar
Matematika Siswa kelas VIII SMPN 3 Pakem Slemen Yogyakarta”,
Skiripsi (Yogyakarta:UNY,2014), hlm.
65.
[20] Agus Tianto dan Asnil
Aida Ritonga, “Meningkatakan
kemampuan Komuniksi Matematika Siswa Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Jigsaw pada
Materi
Bagun Datar dan
PerSegi Panjang Kelas VII-2 MTSN Binjai T.A 2016/2017” , Jurnal
Axiom, Vol VI, No.1 (2017), ISSN: 2087-8249. Hlm 124.
[21] Ismail,
‘’ Perbandingan Komunikasi Matematis Siswa yang Menggunakan Metode silih Tanya
berbantuan Kartu Model dengan Metode Make a Match pada Kelas VII SMP N 4
Sungguminasa Kab. Gowa”, Skiripsi,
Makasar ; UIN Alaudiin, 2017, hlm.24.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar