Rabu, 15 Juni 2022

BAB II PERBANDINGAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA ANTARA PENGGUNAAN PEMBELAJARAN TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DI M.Ts.S SYAHBUDDIN MUSTAFA NAULI KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA

 

BAB II

LANDASAN TEORI

A.      Kerangka Teori

1.    Model Pembelajaran

Model Pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Sedangkan menurut Joycae dan Weil model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pelajaran di kelas atau yang lain. Salah satu model pembelajaran yang dapat menumbuhkan semangat siswa di kelas,[1]

2.      Pembelajaran kooperatif

Pembelajaran Kooperatif merupakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk bias bekerja sama. Fase utama dalam proses pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:

a.       Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

b.      Menyajikan informasi

c.       Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar

d.      Membantu kerja kelompok dalam belajar

e.      

13

Evaluasi

f.       Memberikan penghargaan[2]

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Sthal dalam Wiyanto  diantaranya adalah :

1)        belajar bersama teman,

2)        Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman,

3)        saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok

4)         belajar dari teman sendiri dalam kelompok,

5)         belajar dalam kelompok kecil,

6)         produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat,

7)         keputusan tergantung pada siswa sendiri,

8)         siswa aktif. Dengan demikian pembelajaran kelompok.

Berhubungan dengan proses belajar yang dilakukan siswa secara bersama-sama melalui komunikasi interaktif dengan dipimpin oleh seorang pemimpin untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi sehubungan dengan materi pelajaran.[3]

 

 

3.      Model Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament )

a.       Pengertian Model Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) TGT (Teams Games Tournament ) merupakan pembelajaraan kooperatif  yang terdiri dari kegiatan pengajaran, kelompok belajar dan pertandingan antar kelompok. [4]

TGT merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Selain itu, dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing.  

Menurut Ai Sholihah, “Teams Games Tournament adalah salah satu tipe atau metode pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan  mengandung unsur peramainan”. Sedangkan menurut Kusumandari,  Teams Games Tournament  merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5-6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku/ras yang berbeda”.[5]  Dan menurut Slavin, “Teams Games Tournament pada awalnya dikembangkan oleh David De Vries dan Keith Edwards, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins”. Model pembelajaran Teams Games Tournament adalah metode berkelompok yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. [6]

b.      Kelebihan dan Kekurangan model pembejaran TGT

Menurut Ai Sholihah menyatakan model pembelajaran Teams Games Tournament memiliki beberapa kelebihan diantaranya:

1)   Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas.

2)   Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu.

3)   Dengan waktu yang sedikit siswa dapat menguasai materi secara mendalam.

4)   Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa.

5)   Motivasi belajar lebih tinggi.

6)   Mendidik siswa untuk terlatih bersosialisasi dengan orang lain.

 

 Adapun kelemahanya di anataranya: bagi guru sulitnya mengelompokkan siswa berkemampuan heterogen dari segi akademis, serta adanya siswa kemampuan tinggi yang kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan pada temannya. [7]

 

c.       Langkah-langkah Model TGT (Teams Games Tournament )

Tahapan pembelajaran TGT (Teams Games Tournament),   sebagai berikut:

1)        Pada awal pembelajaran, guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas. biasanya, dilakukan dengan pengajaran langsung.

2)        Kemudian guru membagi kelompok terdiri atas 4-5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin, ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah agar lebih memahami atau mendalami materi bersama teman sekelompoknya untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.

3)        Selanjutnya Game, yang mana Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang diperoleh siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri atas pertanyaan bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab benar akan mendapat skor. Skor ini dikumpulkan siswa untuk tournament.

4)        Tournamen dilakukan pada akhir minggu atau setiap unit setelah guru melakukan persentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Pada tournament pertama, guru membagi siswa ke dalam beberapa meja tournament. 

5)        Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, dan masing masing kelompok akan mendapat   sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. [8]

 

4.      Model Pembelajaran Jigsaw

a.    Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw

Model Pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menitik beratkan pada kerjasama kelompok dalam kelompok kecil.  Model pembelajaran ini juga disebut model tim ahli adalah teknik pembelajaran yang memusatkan perhatian pada kemampuan penguasaan materi pelajaran tertentu secara spesifik.[9]

Dalam Jigsaw, siswa bekerja dalam kelompok yang sama, siswa ditugaskan untuk membaca materi. Tiap anggota tim ditugaskan secara acak untuk menjadi “ahli” dalam materi tertentu. Setelah membaca materinya, para ahli dari tim berbeda bertemu untuk mendiskusikan materi kemudian mereka kembali pada timnya untuk mengajarkan materi kepada teman satu timnya.

Ciri khas pembelajaran ini dengan tipe kooperatif lainnya, yaitu adanya kelompok belajar dan kelompok ahli (expert-team).

Model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diuji cobakan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin di Universitas John Hopkin. Tipe ini bisa digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, bahasa dan lain-lain.Tipe ini cocok untuk semua kelas. [10]

Mengikuti Fitri Haryani model pembelajaran Jigsaw dilakukan dengan membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dalam hal ini 4 kelompok diskusi.  Masing-masing kelompok bekerja menggunakan worksheet. [11]

b.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw

 Tahapan pembelajaran Jigsaw yaitu sebagai berikut:

1)        Diawali dengan pengenalan topik yang akan dibahas oleh guru. Guru biasa menuliskan topik yang akan dipelajari pada papan tulis. Setelah itu menanyakan pada siswa apa yang mereka ketahui mengenai topik tersebut.

2)        Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok tergantung pada jumlah konsep yang terdapat pada topik yang dipelajari konsep yang terdapat pada topik yang dipelajari, dan membentuk kelompok asal

3)        Setelah kelompok asal terbentuk, guru membagi materi tekstual pada tiap-tiap kelompok dan memahami materi konsteksual yang diberikan oleh guru.

4)        Selanjutnya membentuk kelompok ahli. Jika kelompok asal terdiri darai 4 kelompok maka kelompok ahlinya terdiri dari 4 kelompok juga.

5)        Kemudian kembali ke kelompok asal, artinya anggota-anggota yang berasal dari kelompok heuristik kembali ke kelompoknya.

6)        Setelah mereka kembali  ke kelompok, kemudian memberikan kesempatan untuk mereka berdiskusi dengan pengetahuan yang mereka ketahui dengan kelompok ahli.

7)        Tiap kelompok mempersentasikan hasil diskusi

8)        Guru memberikan test individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah di bahas dan siswa mengerjakan test yang diberikan guruyang mencakup semua materi [12]

c.       Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Jigsaw

Guru perlu memperhatikan bahwa dalam menggunakan Jigsaw untuk mempelajari materi  baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran Jigsaw

Ada beberapa keuntungan cooperative learning dalam proses pembelajaran, menurut Yamin dan Ansari yaitu:

1)        Cooperative learning mengajarkan siswa untuk percaya pada guru dan lebih lagi percaya pada kemampuan sendiri untuk berpikir, mencari informasi dan sumber lain, dan dapat belajar dari siswa lain.

2)        Cooperative learning mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan ide dengan temannya. Ini secara khusus bermakna ketika dalam proses pemecahan masalah.

3)        Cooperative learning membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa yang lemah dalam menerima perbedaan ini.

4)        Cooperative learning merupakan strategi efektif bagi siswa untuk mencapai hasil akademik dan social termasuk meningkatkan prestasi, percaya diri, dan hubungan interpersonal positif antara satu siswa dengan lainnya, meningkatkan keterampilan manajemen waktu dan sikap positif terhadap sekolah.

5)        Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan diskusi.

6)        Memudahkan siswa melakukan interaksi sosial

7)        Menghargai ide orang lain yang dirasa lebih

8)        Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. [13]

Adapun keterbatasannya adalah sebagai berkut:

1)        beberapa siswa mungkin pada awalnya segan untuk mengeluarkan ide dan takut dinilai temannya dalam grup.

2)        tidak semua siswa otomatis memahami dan menerima philosophy cooperative learning. Guru banyak menyita waktu dalam mensosialisasikan siswa belajar dengan cara ini.

3)        Penggunaan cooperative learning harus sangat rinci melaporkan setiap penampilan siswa dan tiap tugas siswa, dan begitu banyak menghabiskan waktu untuk menghitung hasil prestasi grup.

4)        Meskipun kerja sama sangat penting untuk ketuntasan belajar siswa, banyak aktivitas kehidupan didasarkan pada usaha individual. Namun siswa harus belajar menjadi percaya diri. Itu sulit dicapai karena memiliki latar belakang yang berbeda.

5)        Sulit untuk membentuk kelompok yang solid, yang dapat bekerja sama dengan secara harmonis.

6)        Penilaian terhadap murid sebagai individu menjadi sulit karena tersembunyi di belakang kelompok.  [14]

5.      Komunikasi Matematis

a.    Pengertian Komunikasi.

Komunikasi secara umum dapat di artikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan dari pembawa pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, orang dapat menyampaikan dengan berbagai bahasa termasuk bahasa Matematis. [15]

 “unsur-unsur komunikasi dalam pembelajaran terdiri dari: guru, siswa, materi pelajaran, tujuan pembelajaran, media dan evaluasi”. Selanjutnya, menurut Eri Widyastuti, “Komunikasi adalah suatu proses memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator”. [16]

Kemampuan komunikasi Matematis adalah kemampuan siswa dalam menyampaikan ide Matematika baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan komunikasi Matematis peserta didik dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran di sekolah, salah satunya adalah proses pembelajaran Matematika. Dengan demikian, Matematika memiliki peran penting terhadap perkembangan kemampuan komunikasi Matematisnya. Karena pentingnya kemampuan komunikasi Matematis tersebut, seorang pendidik harus memahami komunikasi Matematis serta mengetahui aspek-aspek atau indikator-indikator dari komunikasi Matematis, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika perlu dirancang sebaik mungkin agar tujuan mengembangkan kemampuan komunikasi Matematis.

b.    Indikator kemampuan komunikasi Matematis

Eri Widyastuti mengungkapkan beberapa indikator yang mengukur kemampuan komunikasi matematis siswa, antara lain sebagai berikut:

1)        Menghubungkan atau merefleksikan benda nyata, gambar dan diagram kedalam ide Matematika.

2)        Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematis secara lisan atau tulisan dengan benda nyata, gambar, garafik atau bentuk aljabar.

3)        Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.

4)        Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang Matematika. Kemudian Membaca presentasi Matematika tertulis dan menyusun pertanyaan yang relevan.[17]

Sedangkan menurut Baroody mengemukakan lima aspek komunikasi, kelima aspek itu adalah sebagai berikut:

1)        Written Text, yaitu memberikan jawaban dengan menggunakan bahasa sendiri, membuat model situasi atau persoalan menggunakan bahasa konkrit, grafik, aljabar, menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari, mendengarkan, mendiskusikan dan menulis tentang Matematika membuat konjektur, menyusun argument dan generealisasi.

2)        Drowwing, yaitu mereflesikan benda nyata, gambar, dan diagram dalam ide Matematika.

3)        Athematical Exprossion, yaitu mengesksperesikan konsep Matematika dengan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa simbol Matematika.

Indikator kemampuan Matematis dalam penelitian ini  secara tertulis adalah sebagai berikut:

1)        Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematis secara lisan dan tertulis dengan benda nyata, gambar, grafik dan  aljabar.

2)        Menjelaskan kembali secara lisan pemahaman mereka mengenai suatu  presentasi  matematika  tertulis.

3)        Menyatakan  peristiwa sehari-hari  dalam  bahasa  atau  simbol Matematika secara lisan dan tertulis.

4)        Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang Matematika yang telah dipelajari.

5)        Kemampuan  dalam  menggunakan  istilah-istilah,  notasi -notasi Matematika  dan  struktur strukturnya  untuk  menyajikan  ide-ide, menggambarkan hubungan-hubungan dengan model-model situasi.

6)        Keruntutan jawaban dalam menjelaskan konsep Matematika.

c.    Aspek-Aspek Dalam Komunikasi Matematis

Afria Alfitri Riqky juga menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang termasuk dalam kemampuan berpikir matematis di antaranya adalah sebagai berikut:

1)        kemampuan pemecahan masalah matematis

2)        komunikasi matematis

3)        penalaran dan pembuktian matematis

4)         Melalui pembelajaran   Matematika, 

Siswa  di harapkan  dapat  mengkomunikasikan   gagasan dengan  simbol,  tabel,  diagram,  atau  media  lain  untuk  memperjelas  keadaan  atau masalah  eksi matematis dan representasi matematis. [18]

B.       Penelitian Yang Relevan

1.    Penelitian yang di lakukan oleh Raras Triastuti merupakan mahasiswi dari Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2014,  dengan judul penelitian “Perbandingan Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan Tipe Jigsaw Melalui Pendekatan Problem Solving Ditinjau Dari Motivasi Dan Pretasi Belajar Matematika Siswa kelas VIII SMPN 3 Pakem Slemen Yogyakarta”, dengan hasil dan pembahasan, sesuai dengan rumusan masalah maka dapat di simpulkan tidak ditemukannya adanya perbedaan Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan Tipe Jigsaw Melalui Pendekatan Problem Solving Ditinjau Dari Motivasi Dan Pretasi Belajar Matematika Siswa kelas VIII SMPN 3 Pakem Slemen Yogyakarta.[19]

Berdasarkan rujukan penelitian di atas terdapat perbedaan dengan penelitian yang saya lakukan, dalam penelitian sebelumnya perbandingan keefektipan belajarnya dengan menggunakan model pembelajaran TGT dan Jigsaw, sedangkan penelitian yang saya lakukan ialah terpokus pada komunikasi matematisnya. Adapun letak kesamaannya adalah penelitian sebelumnya menggunakan model pembelajran TGT dan Jigsaw begitu juga dengan penelitian yang saya lakukan juga menggunakan model pembelajaran TGT dan Jigsaw.

2.    Penelitian yang dilakukan oleh Agus Tianto dan Asnil Aida Ritonga dengan hasil penelitian dan pembahasan, maka sesuai dengan rumusan masalah, peneliti dapat disimpulakan bahwa  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa pada materi bagun datar dan persegi panjang.

Berdasarkan rujukan penelitian di atas terdapat perbedaan dengan penelitian yang saya lakukan, dalam penelitian sebelumnya hanya menggunakan satu model pembelajaran kooperatif  yang bertujauan untuk meningkatkan komunikasi matematika, sedangkan penelitian yang saya lakukan menggunakan dua model pembelajaran kooperatif dan untuk membandingakan komunikasi matematis siswa. Dan letak persamaannya dengan penelitian yang saya lakukan ialah disini sama-sama menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan sama-sama menguji komunikasi Matematika. [20]

3.      Penelitian yang dilakukan oleh Nila Ubaidah dengan judul “Pemanfaatan CD Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa melalui Pembelajaran Make a Match”. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa melalui make a match berbantuan CD pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas X-4 SMAN 1 Rowosari Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal.

Berdasarkan rujukan penelitian di atas letak perbedaan dengan penelitian yang saya lakukan adalah sekolah dan pemanfaatan CD pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis, beda halnya dengan penelitian yang saya lakukan yang terkhusus pada kemampuan komunikasi matematis saja dengan menggunakan Model Pembelajaran Teams Games Tournament dan Jigsaw. [21]

C.      Kerangka Fikir

Kemampuan komunikasi Matematis adalah suatu kemampuan dalam menyatakan suatu situasi/soal cerita kedalam bahasa/simbol Matematika, kemampuan dalam menyelesaikan masalah serta kemampuan dalam menarik kesimpulan. Kerangka fikir ini lahir bedasarkan kajian teori dan penelitian yang relevan, untuk menguji kembali kendala mengenai kemampuan komunikasi Matematis siswa ini sudah sesuai dengan penelitian relevan yang sebelumnya maka peneliti melakukan observasi awal dengan mewancarai salah satu guru bidang  studi Matemaatika, masih banyak siswa yang memiliki tingkat kemampuan akan komunikasi Matematisnya lemah, hal ini dapat dibuktikan saat ditanya oleh guru kebanyakan dari siswa tidak bias menyatakankannya dalam bentuk Matematisnya dan pernyataan tersebut dapat pula dibuktikan dengan mendapatkan informasi dari salah satu siswa di  M.Ts.S yang mana kenyataan pembelajaran yang digunakan masih dengan  pembelajaran yang biasa digunakan yang sebelum-sebelumnya yaitu metode ceramah dan model pembelajaran langsung, sehingga siswa merasa bosan, jenuh dan sutuk untuk mengikuti pembelajaran Matematika tersebut, sehingga mengakibatkan lemah cara berfikir juga komunikasi Matematis siswa yang mana tadi merupakan sauatu yang sangat mudah di pahami sehingga menjadi sesuatu yang sulit untuk dipahami siswa itu sendiri.

Adapun cara yang ditempuh untuk mencegah permasalah tersebut adalah dengan melakukan sedikit perombakan pembelajaran yakni menerapkan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dan model Pembelajaran Jigsaw, peneliti akan melakukan instrumen model pembelajaran yang manakah paling tepat untuk pembelajran Matematika. Kerena kedua-keduanya memiliki kaitan yang erat dengan kemampuan komunikasi Matematis disekolah M.Ts.S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.

D.      Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.      Ha=  terdapat perbedaan komunikasi Matematis dengan menggunakan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dengan model pembelajaran Jigsaw di M.Ts.S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.

2.      H0 = tidak ada perbandingan komunikasi Matematis dengan menggunakan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dengan model pembelajaran Jigsaw di M.Ts.S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.



[1] Roisatun Nisak, “Perbedaan Komimikasi Matematis Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Dengan Numbered Heads Together (NHT) pada Siswa Kelas VIII Materi Lingkaran di MTsN 4 Tulunggagung, Tahun Ajaran 2017/2018”, Skiripsi Matematika, hlm.20.

[2] Unugroho dan Hartono, “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STDA Bereontasi Keterampilan Proses,”  Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, ISSN: 1693-1246, no.5 (2009):107, http://journal.unnes.ac.id.

[3] Ning Endah Sri Rezeki, “Meningkatkan  Hasil  Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Siswa VIII G Semester 2 SMP Negeri Toroh Grombongan,”  Jurnal Lemlit, Vol 3, no.2 (2009), hlm 62. 

[4] Siska Waryuni dkk, “ Perbandingan Model Pembelajaran  Tipe Jigsaw Dengan Tipe Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPS SMA Negri Batam Tahun Pelajaran 2013/2014” Jurnal Ptygoras, Vol 3, no.2(2014): 68, ISSN 2301-5314, hlm.217-218.  

[5]Kusumndari , ‘’Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TeamsGames Tournameent di Kelas  X SMA N 4 Bengkulu Kota Bengkulu’’, Jurnal Pendidikan  Vol X, Nomor 1, 2017, hlm.21.

[6] Ai Sholihah, “Pengaruh Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Hasul Belajar Matematika”, Jurnal SAP, Vol.1, No.1 (2016), ISSN:2527-967X, hlm 47-48.

[7]  Ai Sholihah, “Pengaruh Model Pembelajaran…, halm 47-48.

 

[8] Abdul Kodir, Strstegi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), hlm. 92.

[9] Jasa Unggun Muliawan, 45 Model Pembelajaran Spektakuler, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) hlm 150.

[10] Sugianto,dkk, “Perbedaan Penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Tipe Jigsaw Dan STAD Ditinjau dari Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematis Siswa SMA”, Jurnal Didaktik Matematika, Vol 1, No.1(2014), ISSN:2355-4185, Hlm 118.

[11] Fitri Haryani, “Meningkatkan Motivasi dan Pemahaman Konsep Perbandingan Fungsi Trigonometri Melalui Model Pembelajaran Jigsaw di SMA Negeri 8 Kota Jambi”, Jurnal Edu-Sains, Volume 1,  No.1(2012), hlm 34.

[12] Agus Suprijono, Cooperative Learning, (Celeban Timur, Pustaka Pelajar : 2014), hlm.89.

[13] Ahmad Syarifuddin, “Model Pembelajaran Coopratif Learning Tipe Jigsaw Dalam Pembelajaran”,  Jurnal Ta’dib, Vol. XVI,  No. 02, Edisi Nopember 2011, hlm 211-216.

 

[14] Ahmad Syarifuddin, “Model Pembelajaran Coopratif Learning…, hlm 211-216.

[15] Susi Sulastri dan Cici Nurul Haq, “Perbedaan Komunikasi Matematik Siswa Antara yang Mendapatkan Model Pembelajaran Jigsaw dan Cooperatif Script”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol 2, ISSN 2086-4280,  No.2 (2013), hlm.114.

[16] Eri Widyastuti,”Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Pemahaman Matematis Siswa dengan Menggunakan Pembelajaaran Kooperatif Tipe Jigsaw”hlm.43.

[17] Eri Widyastuti,”Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Pemahaman Matematis…”hlm.45.

[18] Afria Alfitri Rizqi, “Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Melalui Blended Learning Berbasih Masalah”, Guru Matematika SMK Maarif Tegalsambi Jepara Jalan Sunan Mantingan No. 106 Tegalsambi Tahunan Jepara fria.sassy@gmail.com, 2016, hal. 195-196.

[19] Raras Triastuti “Perbandingan Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan Tipe Jigsaw Melalui Pendekatan Problem Solving Ditinjau dari Motivasi dan Pretasi Belajar Matematika Siswa kelas VIII SMPN 3 Pakem Slemen Yogyakarta”, Skiripsi (Yogyakarta:UNY,2014), hlm. 65.

[20] Agus Tianto dan Asnil Aida Ritonga, “Meningkatakan kemampuan Komuniksi Matematika Siswa Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Materi Bagun Datar dan PerSegi Panjang Kelas VII-2 MTSN Binjai T.A 2016/2017” ,  Jurnal Axiom, Vol VI, No.1 (2017), ISSN: 2087-8249. Hlm 124.

[21] Ismail, ‘’ Perbandingan Komunikasi Matematis Siswa yang Menggunakan Metode silih Tanya berbantuan Kartu Model dengan Metode Make a Match pada Kelas VII SMP N 4 Sungguminasa Kab. Gowa”, Skiripsi, Makasar ; UIN Alaudiin, 2017, hlm.24.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...