Sabtu, 02 Juli 2022

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

 

BAB II 

UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA

MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING

STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU


BAB II

LANDASAN TEORI

A.    Kerangka Teori

1.    Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Berbicara tentang belajar dan pembelajaran adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah berakhir sejak manusia ada dan berkembang di muka bumi sampai akhir zaman nanti. Banyak yang beranggapan bahwa belajar adalah segudang aktivitas yang dilaksanakan disekolah. Belajar di artikan terlalu sempit jika hanya dimaknai didapatkan disekolah, karena belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan, dan dengan cara apa saja.

 Belum lagi fakta di lapangan belajar disekolah terkadang malah membuat peserta didik tidak nyaman, bosan dan merasa terikat. Belajar juga merupakan kewajiban setiap manusia, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an suroh an-Nahl 43-44 yaitu:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣

Artinya: Dan kami tidak mengutuskan sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.[1]

بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِۗ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤

Artinya: Keterangan-keterangan (mukjizat) dengan kitab-kitab. Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.[2]

 Ayat tersebut cukup jelas menyatakan bahwah belajar itu adalah kewajiban setiap manusia agar memiliki ilmu pengetahuan dan bisa memikirkan atau membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yang benar dan yang salah serta yang bermanfaat dan yang memudhoratkan. Menurut Dimyanti dan Mudjiono belajar adalah tindakan dan prilaku siswa yang kompleks.[3] Tindakan berarti, belajar itu hanya di alami oleh siswa itu sendiri. Siswa adalah penentuan terjadi atau tindakan terjadinya proses belajar.

James O. Wittaker yang dikutip oleh Wasty Soemanto belajar didefenisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.[4] Selanjutnya Thorndike yang merupakan tokoh teori Behavioristik yang dikutif oleh Asri Budiningsih mengatakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Sitimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan.[5] Pengertian belajar yang berbeda diungkapkan  oleh Sardiman A.M. yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membacara, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Belajar itu akan lebih baik, kalau si subjek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.[6]

Jadi, dari beberapa pendapat Ahli tersebut dapat disimpulkan belajar adalah usaha untuk mengubah tingkah laku atau tindakan menjadi lebih baik lagi melalui latihan dan pengalaman.Pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukkan kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya kita menggunakan istilah “ Proses belajar-mengajar” dan “pengajaran”. Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction”. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.[7] Menurut Trianto, ”pembelajaran merupakan interaksi dua arah antara seorang guru dan peserta didik, dimana antar keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada sesuatu target yang telah ditargetkan sebelumnya”.[8]

2.    Pembelajaran Matematika

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang menggunakan prinsip deduktif, yaitu suatu prinsip dari tinjauan umum ke tinjauan khusus. Pembelajaran matematika merupakan suatu kegiatan yang berkenan dengan penyeleksian himpunan-himpunan dari unsur matematika yang sederhana dan merupakan himpunan-himpunan baru, yang selanjutnya membentuk himpunan-himpunan baru yang lebih rumit. Belajar matematika pada tahap yang lebih tinggi, harus didasarkan pada tahap belajar yang lebih rendah.[9]

Secara terminologi, istilah matematika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ”mathemetike” yang berarti ”relating to learning”, kata tersebut memiliki akar kata yaitu ”mathema”  yang berarti pengetahuan atau ilmu. Kata mathematike berhubungan erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa yaitu ”mathenain” yang mengandung arti belajar (berpikir).[10] Menurut Johnson dan Myklebust yang dikutip oleh Mulyono Abdurrahman, ”matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir”.[11] Menurut John A. Van De Walle, ”matematika adalah ilmu tentang sesuatu yang memiliki pola keteraturan dan urutan yang logis. Defenisi ini menantang pandangan popular masyarakat terhadap matematika sebagai ilmu yang didominasi oleh perhitungan dan tanpa alasan-alasan.[12]

Jadi, matematika dapat dikatakan suatu ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui berpikir (bernalar). Akan tetapi bukan berarti ilmu lainnya diperoleh tidak melalui penalaran, perbedaannya matematika lebih menekankan keaktifan penalaran, sedangkan ilmu yang lainnya lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaan. Oleh karena itu, matematika pada hakikatnya berkenaan dengan ide-ide abstrak yang dituangkan ke dalam bahasa simbolis, susunan materi yang saling terurut dan terkait, dan tidak bertentangan antara konsep yang satu dengan yang lainnya. Untuk itu pada pembelajaran matematika di sekolah, terdapat karakteristik pembelajaran matematika yang dikemukakan oleh Erman Suherman,dkk. yaitu:

a.         Pembelajaran matematika adalah berjenjang (bertahap) , maksutnya bahan kajian matematika diajarkan secara berjenjang atau bertahap, yaitu dimulai dari hal yang konkrit ke abstrak, atau dapat dikatakan dari hal yang sederhana ke kompleks yaitu dari konsep yang mudah ke konsep yang sulit.

b.         Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral, maksudnya bahan yang akan diajarkan dengan bahan sebelumnya.

c.         Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif,maksutnya proses pengerjaan matematika itu bersifat deduktif dan berdasarkan pembuktian deduktif.

d.        Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsisten, artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya.[13]

Suatu konsep pernyataan dianggap benar didasarkan atas pernyataan-pernyataan yang terdahulu yang telah diterima kebenarannya. Pembelajaran matematika di sekolah bertujuan agar setiap siswa memiliki kemampuan matematika sehingga siswa dapat berpikir secara matematika harus dilakukan secara bertahap.

Pembelajaran matematika bukan sekedar transfer ilmu dari guru ke siswa, melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungan. Selain itu juga perlu dipahami pembelajaran matematika bukan hanya sekedar transfer of knowledge, yang bermakna bahwa siswa adalah objek belajar, namun hendaknya dalam pembelajaran matematika siswa adalah subjek belajar. Jadi, seseorang dikataka belajar matematika apabila pada diri seseorang tersebut terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan matematika.

3.   Hasil Belajar

a.   Pengertain Hasil Belajar

Menurut Nana Sudjana, hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu.[14]Hasil belajar menurut kunandar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam kompetensi dasar. Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petunjuk tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan.[15] Sebagaimana juga disebutkan oleh Dimyati bahwa, hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.[16]Hasil belajar pada dasarnya menunjukkan suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan prilaku baru sebagai akibat latihan atau pengalaman.[17]

        Dimana dalam hasil belajar yang dicapai adalah ranah kognitif, ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental  (otak). Menurut bloom  segala upaya menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang terendah sampai jenjang tertinggi. Keenam jenjang itu adalah:

a.       Pengetahuan, hapalan, ingatan.

b.      Pemahaman.

c.       Penerapan.

d.      Analisis

e.       Sintesis

f.       Penilaian.

 

Hasil belajar adalah suatu tujuan pengajaran yang dapat meningkatkan kemampuan mental siswa. Dimana komunikasi merupakan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran. Dengan adanya komunikasi yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa maka proses belajar mengajar akan terjalin dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik pula. Proses komunikasi yang baik yang disampaikan guru  kepada peserta didik dapat dimengerti sehingga komunikasi yang dilakukan  dapat tercapai dengan baik dan maksimal.[18]

Keberhasilan dalam proses komunikasi sangat dipengaruhi oleh kecakapan guru dan siswa dalam pelaksanaan dalam proses belajar  mengajar. Dalam proses belajar mengajar mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yakni tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman (proses) belajar mengajar,dan hasil belajar. Hubungan ketiga unsur ini digambarkan dalam diagram sebagai berikut :

                           Tujuan Intruksioal

                       a                            c

 

           

Pengalaman                                   b                Hasil Belajar

Garis (a) menunjukkan hubungan antara tujuan intruksional dengan pengalaman belajar,garis (b) menunjukkan hubungan antara pengalaman belajar dengan hasil belajar, garis (c) menunjukkan hubungan tujuan intruksional dengan hasil belajar. Dari diagram di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan penilaian dinyatakan oleh garis (c),yakni suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan intruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang di perlihatkan setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Garis (b) merupakan kegiatan penilaian untuk mengetahui keefektipan pengalaman belajar dalam mencapai hasil belajar yang optimal sehingga mata pelajaran matematika yang diajarkan dapat dikuasai oleh peserta didik dan hasilnya dapat memuaskan peserta didik dan guru matematika tersebut.[19] Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian suatu pengalaman belajar yang berupa nilai-nilai, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan setelah peserta didik menerima pengalaman belajarnya yang mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.

b.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, antara lain:

a)      Tujuan

Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kapasitas dari perjalanan proses belajar mengajar bertitik tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan sama halnya berhasilnya pelajaran.

 

b)      Guru

Guru adalah tenaga pendidikan yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan keilmuan yang dimilikinya guru dapar menjadikan anak didik menjadi anak yang cerdas.

c)        Anak didik

Anak didik adalah orang yang sengaja datang ke sekolah. Anak didik dengan segala perbedaannya , seperti motivasi,, minat, bakat, perhatian, harapan, latar belakang, sosial kultural dan latar belakang keluarga menyatu dalam sistem belajar di kelas.

d)     Kegiatan pengajaran

Pola umum terjadinya kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya.

 

 

 

 

 

 

 

e)      Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan apakah benar-benar sudah mengevaluasi tujuan yang telah ditetapkan, bahan yang diajarkan dan proses yang dilakukan.[20]

c.       Indikator Hasil Belajar

Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah sebagai berikut:

1)      Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok.[21]

Namun demikian indikator yang banyak dicapai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap. Daya serap dapat diartikan sebagai kemampuan siswa setelah menerima pelajaran yang telah diajarkan.

Tabel 2.1

Indikator Hasil Belajar

No.

Aspek

Kompetensi

Indikator hasil belajar

1.

Kognitif

Pengetahuan (C1)

 

 

 

 

 

Pemahaman (C2)

 

 

 

 

 

 

 

Penerapan (C3)

 

 

 

 

Analisis (C4)

 

Sintesis (C5)

 

 

 

Evaluasi (C6)

Menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokkan, memberi nama, memberi label, melukiskan.

Menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasikan, menguraikan, merumuskan kembali, merangkum, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, mengemukakan pendapat, dan menjelaskan.

Mengoperasikan, menghasilkan, mengubah,mengatasi, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung.

Menguraikan, membagi-bagi, memilih, dan membedakan.

Merancang, merumuskan, mengorganisasikan, menerapkan, memadukan, dan merencanakan.

Mengkritisi, menafsirkan, mengadili dan memberikan evaluasi.

Pada penelitian ini untuk mengukur hasil belajar siswa menggunakan indikaator hasil belajar yaitu indikator kompetensi pengetahuan (C1), kompetensi pemahaman (C2), dan kompetensi penerapan (C3), kompetensi anlisi (C4), kompetensi sintesi (C5), kompetensi evaluasi (C6). Hal ini ditunjukkan dengan melakukan tes kemampuan siswa pada materi bilangan bulat di kelas IV-A.

Tabel 2.2

Tes kemampuan hasil belajar materi bilangan bulat

No

Kompetensi

Jumlah Siswa

1

C1

17 orang

2

C2

9 orang

3

C3

5 orang

4

C4

3 orang

5

C5

2orang

6

C6

1orang

Dari tabel di atas, terlihat bahwa kemampuan siswa hanya sampai pada C3, karena pada C4, C5, C6 hanya sebagian kecil dari siswa yang mampu mengerjakan soal yang diberikan.

4.    Bilangan Bulat

a.    Mengenal Bilangan Bulat

Bu Risya baru membeli sebuah kulkas. Saat dinyalakan, suhu di ruangan pembeku 25oC. Setelah dinyalakan selama 1 jam, ternyata suhunya turun 30oC menjadi 5oC di bawah 0oC. Bilangan mana yang dapat menyatakan suhu 5oC di bawah 0oC ini?

Bilangan cacah tentu tidak dapat digunakan untuk menyatakan suhu ini. Untuk itu, diperlukan bilangan yang lebih kecil dari nol. Bilangan ini disebut bilangan negatif. Coba perhatikan garis bilangan berikut.

Bilangan-bilangan di sebelah kanan bilangan nol, yaitu 1, 2, 3… disebut bilangan asli atau bilangan bulat positif, sedangkan bilangan – bilangan di sebelah kiri bilangan nol, yaitu …-3,-2,-1 disebut bilangan bulat negatif. Gabungan antara bilangan bulat negatif, bilangan nol, dan bilangan positif inilah yang disebut sebagai bilangan bulat.

Bilangan bulat merupakan kumpulan bilangan negative dan bilangan positif, atau bilangan yang terdiri atas bilangan bulat positif, bilangan nol, dan bilangan bulat negatif.[22]

Bilangan bulat : (….,-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3,…)

Bilangan bulat negatif: (….,-6, -5, -4, -3, -2,-1)

Bilangan bulat positif: (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,….)

 

 

 

 

 


Biasanya ditulis:…,-3. -2, -1, 0, 1, 2, 3…yang dimana tanda (-) dikatakan sebagai bilangan bulat nengative dan yang bertanda (+) dikatakan bilangan bulat positif. [23] Pada umumnya bilangan bulat mempunyai kelompok (himpunan) yaitu:

Bilangan bulat dapat digambarkan pada sebuah garis bilanga seperti melalui garis bilangan kita dapatkan bilangan-bilangan,  Salah satu contoh alat yang menggunakan bilangan bulat pada skla ukuran adalah thermometer. Jika indikator air raksa menunjukkan keangka 30 berarti derajat celcius diatas nol disebut bilangan bulat positif atau bilangan asli.

Contoh:

Seekor kodok yang sedang melompat terjatuh di seb uah lubang. Lubang ini berada pada kedalaman 2m. Dengan menggunakan lambang bilangan bilangan bulat, pernyataan kedalama laman 2m dapat ditulis -2m.

b.    Membandingkan Bilangan Bulat

 Pada sebuah akuwarium kecil yang berisi ikan yang berenang di kedalaman akuwarium 5cm. Ditulis -5. Seekor ikan melompat dari akuwarium kepermukaan akuwarium yang disampingnya setinggi 6cm. Ditulis 6.

Coba kamu perhatikan, posisi ikan yang melompat lebih tinggi dari pada posisi ikan yang berenang di kedalaman akuwarium. Ini menunjukkan 6cm > -5cm.

Perhaikan contoh berikut!

(1). Manakah yang lebih besar bilangan 5 dengan bilangan 7?

Jawab:

5 terletaknya di sebelah kiri dari 7 berarti 5 kurang dari 7 ditulis 5< 7, atau 7 > 5.

(2). bilangan -3 dengan bilangan -5?

Jawab:

-3 letaknya di sebelah kanan dari -5 berarti -3 lebih dari -5 ditulis-3 > -5 atau -5 < -3.

c.    Operasi Hitung Bilangan Bulat

1)    Penjumlahan bilangan bulat

Suhu udara A tercatat 30 celsius dibawah nol, sedangkan suhu udara di kota B tercatat 50 celsius. Berapakah derajat gabungan suhu udara kota A dan kota B?

Kalimat matematikanya -3 + 5 = n

                                                           n = 2

Agar lebih jelas tentang penjumlahn bilangan bulat, perhatikan contoh satu berikut ini!

Seorang laki-laki berdiri diatas permukaan air 50 m. Kemudian ia melompat dari permukaan menuju kedalaman 55 m di bawah permukaan air. Dengan memisalkan permukaan air sebagai titik 0, di atas permukaan air sebagai positif 50, dan 55 m ke dalamam air sebagai negatif ditulis -55 maka kalimat matematika untuk permasalahan ini adalah 50 + -55 =…

Contoh ke dua

2)    Pengurangan bilangan bulat

Contoh pengurangan bilangan bulat

a)        Suhu udara puncak gunung tercatat 50 celsius, sedangkan suhu di puncak bukit tercatat 90 celsius. Berapakah derajat selisih suhu puncak gunung   terhadap suhu di puncak bukit ?

Kalimat matematikanya 5 8 = n

                                                           n = -3

d.      Operasi Hitung Campuran Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat

Bunga tampak sedang bigunf atas sejumlah persoalan yang menimpahnya. Hingga bunga pun mondar mandir memikirkan penyelesaian.

 

       Awalnya, bunga berjalan 4 langkah ke utara. Kemudian, berbalik melangkah 5 langkah  keselatan. Setelah itu bunga berbalik lagi melangkah 2 langkah ke utara. Dimana letak posisi bunga? Sehinga kalimat matematikanya untuk permasalahan tersebut sebagai berikut.

      

      

Biar lebih jelas Perhatikan contoh berikut ini!

(1).

(2).

Jawaban mulai dari operasi hitung paling kiri!

(1). -3

-3

5 -1

Jadi -3 -1

(2) 6

6 -3

-3

Jadi, 6

5.    Model Pembelajaran Talking Stick

a.    Pengertian Model Pembelajaran

Penggunaan istilah “model” barangkali lebih kenal dalam dunia fashion. Dalam pembelajaran istilah model juga banyak dipergunakan. Mills berpendapat bahwa model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau kelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model.[24] Model merupakan interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem. Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran yang diturunkan dari teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas.[25] Joyce & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rancangan atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rancangan pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.[26] Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran  yang di lakukan guru serta sengala fasilitas yang terkait yang dingunakan secara langsung atau tidak langsung.[27]

Model-model pembelajaran biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

b.    Pengertian Talking Stick

Pembelajaran Talking Stick adalah salah satu model pembelajaran yang dipergunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran dengan menggunakan Talking Stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat, melatih kesiapan siswa, memahami materi dengan cepat. Pembelajaran dengan model Talking Stick di awali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang dipelajari. Siswa diberi kesempatan membaca dan mempelajari materi tersebut dengan waktu yang cukup .

 Guru selanjutnya meminta kepada peserta didik menutup bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya, kemudian tongkat tersebut diberikan kepada salah satu peserta didik. Peserta didik yang menerima tongkat tersebut diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru demikian sampai seterusya. Kemudian ketika stick bergulir dari peserta didik lainya diiringi musik atau diiringi lagu.[28]

Langkah akhir dari model Talking Stick adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajari. Kemudian guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan peserta didik. Selanjutnya guru bersama peserta didik merumuskan kesimpulan.

c.    Langkah-Langkah Model Pembelajaran Talking Stick

Biar lebih jelas adapun langkah-langkah model pembelajaran Talking Stick yaitu:

1)      Guru menyiapkan sebuah tongkat.

2)      Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi.

3)      Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, peserta didik menutup bukunya.

4)      Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik sambil diiringi dengan musik atau lagu. Jika musik atau lagu yang diputar oleh guru dihentikan, guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang memengang tongkat. Siswa harus menjawab pertanyaan dari gurunya. Demikian sampai seterusnya hingga sebagian besar peserta didik mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.

5)      Guru memberikan kesimpulan

6)      Evaluasi

7)      Penutup

Setiap model atau metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan begitu juga dengan model pembelajaran talking stick yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan model pembelajaran talking stick pada materi Bilangan Bulat ini yaitu.

1)    Siswa lebih dapat memahami materi karena diawali dari penjelasan seorang guru.

2)    Siswa lebih dapat menguasai materi ajar  karena siswa diberikan kesempatan untuk mempelajarinya kembali melalui buku paket yang tersedia.

3)    Daya ingat siswa lebih baik sebab siswa akan ditanyai kembali tentang materi yang diterangkan dan dipelajarinya.

4)    Siswa tidak jenuh karena ada tongkat sebagian pengikat daya tarik siswa mengikuti pelajaran hal tersebut.

5)    Pelajaran materi pecahan akan tuntas sebab pada bagian akhir akan diberikan kesimpulan oleh guru.

Kekurangan model pembelajaran talking sitik ini pada materi bilangan bulat yaitu:

1)   Kurang menciptakan interaksi antara siswa dalam proses belajar mengajar.

2)   Kurangnya menciptakan daya nalar siswa siswa lebih bersifat memahami apa yang ada di dalam buku.

3)   Kemampuan menganalisis permasalahan tersebut sebab siswa hanya mempelajari dari apa-apa yang ada di dalam buku saja.

B.     Kajian Terdahulu

Adapun yang membahas tentang penelitian tindakan kelas dalam bentuk skripsi yang berkaitan dengan variabel penelitian ini yaitu:

1.      Penelitian yang dilakukan oleh Ratno afandi.Penelitian yang dilakukan ini mennjukkan bahwa penggunaan alat peraga potongan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa dalam menyelesaikan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan nilai rata-rata kelas siswa. Sebelum tindakan nilai rata-rata kelas siswa sebesar 45 dengan peresntase ketuntasan klasikal 18,18% ( 4 siswa yang tuntas) , pada siklus I pertemuan ke 1 nilai rata-rata Kelas meningkat menjadi 57,08 dengan presentase ketuntasan klasikal 37,5% (9 siswa yang tuntas), dan pada siklus I pertemuan ke 2 nili rata-rata kelas siswa meningkat menjadi 65,83 dengan presentase ketuntasan klaskal 58,33% ( 14 siswa yang tuntas). Sedangkan pada siklus II pertemuan ke 1 nilai rata-rata kelas siswa yang ditemukan adalah 70,41 dengan presentase 70,83% ( 17 siswa yang tuntas) dan pada siklus II pertemuan ke 2 nilai rata-rata kelas siswa menjadi 75 dengan presentase ketuntasan klsikal 91,67%(22 siswa yang tuntas)[29]. Perbedaan penilitian ini adalah penelitian Ratno afandi menggunakan alat perga potong balok, sedangkan penelitian ini meenggunakan model pembelajaran dalam proses pembelajaran.

2.      Agussalim Pulunan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan benda konkret abacus biji dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dapat dilihat pada tes siklus II hasil tes meningkat dari 70% menjadi 80%.[30]

C.    Kerangka Pikir              

Menggunakan model pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat membangun keterampilan dan meningkatkan kemampuan siswa untuk mencapai sasaran belajar. Setiap guru pasti berharap agar anak didiknya berhasil menguasai materi yang guru ajarkan. Akan tetapi tidak semua siswa dapat mencapainya. Pembelajaran yang selama ini guru terapkan dalam mengajar, belum memaksimalkan, yang diajarkan akan cenderung pasif, tidak bergairah dalam belajar. Dengan demikian model pembelajaran Talking stick model pembelajaran yang efisien terhadap kondii siswa yang cenderung pasif, meggunakan model pembelajaran talking sitik ini diharapkan siswa lebih aktif dan menimbulkan daya tarik untuk belajar matematika dan yang terpenting siswa tidak merasa kesulitan untuk menjawab soal-soal yang diberikan guru. Jadi dengan adanya model ini dalam pembelajaran akan adanya peningkatan hasil belajar materi bilangan bulat.

 

 

 

 

Skema Kerangka pikir

Hasil belajar matematika rendah disebabkan pembelajaran yang monoton sehingga daya tarik siswa tidak ada untuk belajar ditambah lagi bahwa belajar matematika itu menengangkan. Guru hanya menggunakan ceramah tampa mingiringgi model pembelajaran

Melalui model pembelajaran Talking Stick

·         Siswa lebih tertarik mengikuti proses pembelajaran

·         Siswa yang belum paham menjadi paham.

·         Siswa lebih bersemangat

Hasil belajar matematika siswa pada materi meningkta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


D.    Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori , dapat dirumuskan bahwa hipotesis dalam penelitian ini adalah: ”Penerapan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasi belajar materi bilangan bulat di kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu”.

 



[1] Manteri Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya (Semarang: CV. Asy Syiva, 2001), hlm. 272.

[2] Ibid.

[3] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), hlm.7.

[4] Wasty Soemanto. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1998), hlm. 104.

[5] Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), hlm.21.

[6] Sardiman , Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm.20.

[7] Udin S. Winataputra, dkk, Teori Belajar Dan Pembelajaran (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), hlm. 18-19.

                [8] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif (Jakarta: Kencana, 2010), hlm.82.

[9] Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat, Strategi Memenangkan Persaingan Mutu, (Jakarta : PT Nimas Multima, 2005), hlm.110.

                [10] Erman Suherman,dkk., Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (JICA: UPI, 2003) , hlm.15-16.

                [11] Mulyono Abdurrahman, Anak Berkesulitan Belajar Teori, Diagnosis, dan Remediasinya (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012), hal.202.

                [12] John A. Van De Walle, Pengembangan Pengajaran Matematika Sekolah Dasar dan Menengah, diterjemahkan dari“ (Jakarta: Erlangga, 2006), hal.13.

[13] Erman Suherman,dkk.,Op.Cit., hlm.19.

[14]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 2.

[15] Kunandar, Guru Profesional (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 251.

[16] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 10.

[17]Syafaruddin, Pendidikan dan Transformasi Sosial (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009), hlm. 120.

[18] Nana Sudjana.,Op.Cit., hlm 3.

[19]Nana Sudjana., Op. Cit. hlm. 3.

[20] Syaiful Bahri Djamrah,  Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 109.

[21] Syaiful Bahri Djamrah,  Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm.106.      

[22] Alfarabi, Pintar Matematika Seri: Bilangan Bulat, Bilangan Cacah dan Perpangkatan (Tengerang: Delta Edukasi Prima, 2017), hlm. 23.

[23] A. Malik Thachir, Matematika IV Untuk Kelas IV SD/MI (Jawa Timur: Masmedia, 2012), hlm.123.

[24] Agus Suprijono, Cooperative Learning, Op. Cit., hlm. 45

[25] Agus Suprijono. Loc. Cit.

[26] Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru ( Jakarta: PT Grafindo Persada, 2012), hlm.133.

[27] Istarani, 58 Model Pembelajaran Inovatif,  Op. Cit., hlm.1

[28] Istarani.Loc.Cit.

[29] Ratno Afandi,” Upaya Meningkatkan HHasil Belajar Matematika Siswa dengan Menggunakan Alat Perga Potong Balok dalam Menyelesaikan Soal Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan” ( Skripsi, IAIN PSP, 2014).

[30] Agussalim Pulungan,” Pemanfaatan Benda KOnkret Abacus Biji dalam Menigkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Penjumlahan dan Pengurangan di Kelas II SD Negeri 0512 Bonal Jae Batu Kecamatan Lubuk Barumun Kabupaten Padang Lawas” ( Skripsi, IAIN PSP, 2015).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...