Jumat, 01 Juli 2022

BAB 1 UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

 

UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA

MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING

STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang sangat penting, karena matematika sebagai mata pelajaran yang memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif dan bernalar.[1] Suatu sarana atau cara untuk menentukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung dan paling penting adalah salah satu ilmu yang menunjang perkembangan ilmu-ilmu lainya. Matematika merupakan salah satu ilmu yang diperlukan peserta didik dalam mempelajari dan memahami mata pelajaran lain, baik di dalam perkembangan sains dan teknologi. Sebagai ratunya ilmu sekaligus pelayanan ilmu sangat dibutuhkan dalam menghadapi zaman modern ini.

Hal ini juga terbukti dengan semakin banyaknya kegiatan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, Matematika juga sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah yang dinilai cukup memegang peranan penting dalam membentuk peserta didik menjadi berkualitas karena matematika merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan sistematis. Seperti yang di kemukakan oleh Sujana:

“Matematika memengang peran penting karena dengan bantuan matematika semua ilmu pengetahuan menjadi sempurnah. Matematika merupakan alat yang efisien dan diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan dan tanpa bantuan matematika semuanya akan mendapatkan kemajuan yang tidak berarti”.[2]

Penguasaan matematika yang kuat sejak dini diperlukan siswa untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan. Oleh karena itu, mata pelajaran matematika perlu diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Kurikulum Depdiknas menyebutkan bahwa standar kompetensi matematika di sekolah dasar yang harus dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran bukanlah penguasaan matematika, namun yang diperlukan adalah mampu memahami dunia sekitar, mampu bersaing dan berhasil dalam kehidupan.[3]

Menurut Hudojo dalam buku Hasratuddin mendefenisikan bahwa matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarki dan penalarannya deduktif, sehingga beajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi. Masih dalam buku Hasratuddin, James dalam kamus matematikanya menyatakan bahwa “ matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.[4]

Dalam pembelajaran matematika guru harus memiliki kemampuan mengajar agar pembelajaran lebih membangkitkan. Peranan guru tidak hanya sekedar meberikan pokok-pokok bahan pelajaran terhadap siswa, tetapi guru harus dapat menciptakan suasana proses belajar yang menyenangkan dan memberikan  ikatan yang baik dengan siswa. Dengan kata lain guru harus dapat menciptakan suasana yang hidup dan situasi belajar yang melibatkan siswa secara aktif sekaligus, diharapkan seorang guru dapat memberikan bekal yang maksimal kepada siswanya untuk mencapai hasil yang maksimal itu perlu adanya kemampuan dari guru untuk menciptakanya.

Suasana belajar mengajar yang menyenangkan dapat memusatkan perhatian peserta didik secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar, seperti disimpulkan Suyadi bahwa memetik senar kegembiraan pada anak akan memunculkan keriangan dan vitalitas dalam jiwanya. Hal itu juga akan menjadikan peserta didik selalu siap untuk menerima perintah, peringatan, atau bimbingan apapun. Menabur kegembiraan dan keceriaan pada peserta didik akan membuatnya mampu mengaktualisasikan kemampuannya dalam bentuk yang sempurna.[5] Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu ditemukan beberapa permasalahan di kelas yaitu banyak diantara siswa yang tidak menyukai matematika. Ada yang berpendapat bahwa matematika itu mengerikan, sehingga mendengar namanya saja sudah tidak ingin mempelajari matematika, pada saat pembelajaran berlangsung siswa kurang aktif dan sebagian siswa terlihat malas mengikuti pembelajaran. Permasalahan lainnya adalah terlihat saat guru menerangkan materi pelajaran matematika, ada siswa yang tidak memperhatikan, antara lain ada siswa yang tidur-tiduran, berbicara dengan teman sebelahnya bahkan di belakangnya dan ada juga siswa yang menulis pelajaran yang lain.

Ini terjadi karena siswa cenderung hanya mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan guru tanpa diberikan latihan-latihan atau berupa pertanyaan kepada siswa untuk melihat ranah kognitif siswa terhadap materi yang disampaikan atau diajarkan.[6] Ada juga yang disebabkan oleh kesenjangan antara materi dengan cara mengajar. Kebanyakan siswa tidak dapat mencapai hasil belajar yang diinginkan disebabkan terjadi guru tidak terlalu mengetes ranah kognitif peserta didik dalam proses pembelajaran yaitu berupa pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi siswa yaitu berupa latihan-latihan soal kepada peserta didik. Sehingga hasil belajar yang didapatkanpun rendah ditambah lagi  suasana kelaspun jadi membosankan karena tidak adanya pengikat daya tarik siswa mengikuti pelajaran.

Hasil studi pendahuluan berdasarkan wawancara dengan guru kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu Fitra Susanti Siregar, S.Pd yang menyatakan bahwa ketika  guru menjelaskan kepada siswa materi tersebut kebanyakan siswa tidak bersemangat mendengarkan atau tidak acuh terhadap apa yang di sampaikan guru, sehingga pada saat diberikan soal hanya sebagian kecil yang bisa mengerjakannya dan memahaminya.

Hasil wawancara  dari 3 orang siswa di SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu juga menunjukkan ada permasalahan dalam proses pembelajaran. Hasil wawancara dengan siswa yang berkemampuan tinggi dengan nama inisial R, menyatakan bahwa matematika adalah salah satu mata pelajaran yang sulit, untuk memahaminya harus betul-betul balajar. Saat guru menerangkan pelajaran matematika, metode mengajar yang digunakan guru kurang manarik sehingga siswa merasa jenuh dan bosan di dalam kelas.[7] Sedangkan siswa yang berkemampuan sedang dengan nama inisial I, mengatakan bahwa matematika pelajaran yang sangat sulit diantara pelajaran-pelajaran lainnya, hanya sebagian materi dari matematika yang bisa dipahami, dan saat belajar matematika semangat belajar siswa kurang karena susana di ruangan sangat membosankan, ada sebagian siswa yang ribut dan tidak peduli dengan matematika, ada yang hanya diam tidak ikut aktif dalam ruangan.[8] Siswa lain yang berkemampuan rendah dengan nama inisial H mengatakan bahwa matematika adalah pelajaran yang sama sekali tidak dipahami sedikitpun, matematika itu membosankan, penuh dengan perhitungan, selain itu juga sangat banyak rumus-rumus dan simbol-simbol matematika yang tidak diketahui. [9]

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika di SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu masih rendah. Dengan demikian peneliti tertarik untuk memilih materi bilangan bulat di kelas IV di SD Negeri 100215 Persiapan Mosa karena bilangan bulat merupakan awal pengenalan siswa dalam pengoperasian tanda bilangan negative dan bilangan positif. Dibuktikan dengan tes awal pemberian soal bentuk essay yang diberikan kepada siswa SDN 100215 Persiapan Mosa Julu dari total jumlah siswa 20 orang, 9 orang laki-laki dan 11 orang perempuan hanya 4 orang yang mencapai nilai ketuntasan, sesuai dengan standar ketuntasan yang dipakai di sekolah tersebut yaitu , dan yang lainnya di bawah nilai standar kelulusan. Hasil belajar yang didapatkanpun selalu rendah. [10] Bilangan bulat merupakan materi yang sangat penting dalam matematika Pembelajaran yang berupa ceramah tampa diiringgi model pembelajara membuat siswa kurang bisa memahami bilangan bulat sehingga diperlukan adanya pembelajaran yang lebih  dan bervariasi untuk memudahkan siswa memahami, mengingat serta memberikan daya tarik siswa dalam belajar, penggunaan model pembelajaran merupakan salah satu solusi yang harus dipakai oleh seorang guru dalam menghidupkan suasana daya tarik pembelajaran serta meningkatkan hasil belajar siswa.

Mengapa model pembelajaran dipilih karena setiap model membangun keterampilan dan meningkatkan kemampuan siswa untuk mencapai sasaran belajar, model-model dapat dingunakan untuk siswa dengan kemampuan yang beragam, mudah digunakan dan mudah dipahami.[11]Berdasarkan permasalahan di atas, mengajar itu seharusnya mengunakan model-model pembelajaran, maka dari itu peneliti ingin melakukan penelitian untuk perbaikan terhadap pembelajaran matematika di kelas tersebut, karena apabila permasalahan tersebut tidak segera diatasi akan merugikan siswa. Siswa akan kesulitan mempelajari materi bilangan bulat maupun materi-materi matematika yang lain yang menyebabkan hasil belajar siswa menjadi meningkat.

Dengan adanya permasalahan tersebut, maka peneliti mendorong untuk mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK). Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru yaitu model pembelajaran inovatif yaitu model pembelajaran Talking stick (tongkat bicara) yang menggunakan alat bantu. Model pembelajaran ini merupakan pendekatan komunikatif pendekatan pembelajaran yang berbasis komunikasi.

Model pembelajaran Talking Stick adalah salah satu model untuk mengubah persepsi siswa terhadap matematika menjadi pelajaran yang tidak sulit siswa lebih dapat menguasai materi ajar karena siswa diberikan kesempatan untuk mempelajarinya tidak mebosankan khususnya materi bilangan bulat dan membuat daya ingat siswa lebih baik sebab siswa akan ditanyai kembali tentang materi yang diterangkan atau dipelajari siswa dan lebih dapat memahami materi bilangan bulat karena diawali penjelasan seorang guru.

Penerapan model pembelajran Talking Stick ini akan melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Melatih siswa berbicara mengeluarkan pendapatnya, sehingga terbiasa berbicara di hadapan guru, dan menimbulkan rasa percaya diri sesuai dengan visi dari pendidikan matematika masa kini yaitu penguasaan konsep dalam pembelajaran matematika yang dingunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah. Sedangkan visi pendidikan matematika masa depan adalah memberikan peluang mengembangkan pola pikir, rasa percaya diri, keindahan, sikap objektif dan terbuka.[12] Melalui model pembelajaran Talking Stick Proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak jenuh bagi siswa dan diharapkan akan lebih terbantu meningkatkan hasil belajar terhadap materi bilangan bulat, karena dengan aturan model pembelajaran Talking Stick ini siswa akan termotivasi dan mendorong siwa untuk berani mengemukakan jawabannya sehingga hasil belajar akan meningkat pada materi  bilangan bulat dimana aturan model pembelajaran Talking Stick ini yaitu diawali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari.

Siswa diberi kesempatan membaca dan mempelajari materi, guru selanjutnya meminta kepada siswa untuk menutup bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya kemudian tongkat tersebut diberikan kepada salah satu siswa. Siswa yang menerima tongkat diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru. Ketika Stick bergulir dari siswa kesiswa lainya, diiringi dengan musik jika musik berhenti, stick berhenti bergulir siap-siap guru memberikan soal kepada siswa yang memengan stick.

Dengan banyaknya pertanyaan atau soal-soal yang diberikan oleh guru maka akan meningkatkan hasil belajar terhadap materi  bilangan bulat  dan para siswa akan lebih termotivasi untuk belajar sekalingus bermain tapi tidak mengabaikan indikator yang harus dicapai siswa. Siswa akan diajak belajar dengan suasana yang menyenangkan bukan yang menengangkan walaupun diberikan pertanyaan–pertanyaan, tetapi tetap menjadi suasana menyenangkan karna dengan adanya tongkat musik sebagai pendukung proses pembelajaran sebagai daya tarik siswa untuk tercapainya peningkatan hasil belajar  materi bilangan bulat tersebut. Dalam uraian di atas maka diharapkan hasil belajar matematika meningkat pada materi bilangan bulat dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka penelitian mengadakan penelitian yang berjudul: “UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU”.

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah penelitian ini sebagai berikut:

1.      Hasil belajar materi bilangan bulat masih sangat rendah, dibuktikan dengan tes awal yang dilakukan peneliti, banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan.

2.      Guru belum menggunakan model pembelajaran inovatif.

3.       Banyak siswa yang tidak bisa menyelesaikan soal-soal operasi hitung bilangan bulat.

4.      Metode pembelajaran yang dingunakan monoton.

5.       kurangnya latihan.

6.      Guru kurang mampu memanfaatkan model-model pembelajaran yang dapat dijangkau langsung oleh siswa.

7.      Guru kelas IV SDN 100215 Persiapan Mosa Julu belum pernah menggunakan metode Talking Stick sebagai model pembelajaran.

C.    Batasan Masalah

Berdasarkan beberapa masalah yang teridentifikasi di atas penelitian ini dibatasi yaitu hanya pada masalah penggunaan model pembelajaran Talking Stick  dalam meningkatkan hasil belajar materi bilangan bulat pada kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu.

D.    Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bilangan bulat di kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu?

E.     Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahi upaya meningkatkan hasil belajar materi bilangan bulat melalui model pembelajaran talking stick di kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu.

F.     Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini dilaksanakan diharapkan dapat memberikan manfaat, di antaranya:

1.    Manfaat secara teoritis

a.    Menambah wawasan pengetahuan dalam upaya meningkatkan hasil belajar materi bilangan bulat melalui model pembelajaran Talking Stick.

b.   Menambah pengalaman secara real dalam model pembelajaran Talking Stick.

2.    Manfaat secara praktis

a.    Sebagai bahan masukan dalam mengajarkan matematika terutama dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick.

b.   Dapat meningkatkan hasil belajar materi bilangan bulat dikelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu. Dalam pembelajaran matematika melalui  model pembelajaran Talking Stick.

c.    Meningkatkan kemampuan matematika di kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu. Melalui model pembelajaran Talking Stick.

d.   Meningkatkan hasil belajar dan mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing siswa.

e.    Mampu memahami pelaksanaan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran Talking Stick, sehingga tidak sekedar mengetahui teorinya saja.

 

G.    Batasan Istilah

Batasan istilah perlu untuk menyamakan persepsi terhadap masalah yang ada. Adapun batasan istilah dalam penelitian ini adalah:

1.         Peningkatan

Peningkatan adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan.[13] Upaya Peningkatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perubahan nilai rata-rata hasil belajar terhadap materi yang meningkat pada setiap siklusnya.

2.         Hasil belajar

Hasil adalah sesuatu yang menjadi akibat dari usaha. Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Jadi hasil belajar adalah kemampuan-kemapuan yang dimiliki siswa setelah ia mengalami pengalaman belajarnya.[14] Hasil belajar dalam proposal ini yang dimaksudkan adalah hasil belajar materi bilangan bulat.

3.         Bilangan bulat

Bilangan bulat adalah menurut buku matematika SMP VII bilangan bulat merupakan kumpulan bilangan bulat negative nol bilang bulat positif.[15]

4.         Model pembelajaran Talking Stick adalah model pembelajaran yang dingunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.[16]

H.    Indikator Tindakan

Indikator tindakan dalam penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada materi bilangan bulat yang dilaksanakan tiap pertemuan dalam beberapa siklus. Peningkatan terjadi tiap criteria yang ditentukan, yaitu: adanya perubahan dari hasil belajar matematika kepada yang lebih baik yang akan menimbulkan suatu perbuatan belajar yang lebih baik, misalnya siswa lebih terarah dalam belajar karena adanya daya tarik belajar, artinya guru mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Siswa juga lebih bergerak aktif karena daya tarik tongkat. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila hasil belajar matematika pada materi yang diperoleh siswa mencapai nilai kkm 70.

 

 

 

 

 

 



[1]Tim Penyusun, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (Bandung: LIPI, 2001), hlm. 56.

[2] Sujana, Pengajaran Matematika (Jakarta: Depdikbud, 1998), hlm.20.

[3] Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hlm.183-184

[4] Hasratuddin, Mengapa Harus Belajar Matematika?, ( Medan: Perdana Publishing, 2015),

hlm. 27-28.

[5] Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hlm.163.

[6] Observasi Peneliti di kelas IV-A SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu Rabu 03 September 2016 pukul 09.10 WIB

[7]R, kelas VIII-A, Wawancara dengan siswa-siswi SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu, 03 September 2016 pukul  10.30 WIB.

[8] I, kelas VIII-A, Wawancara dengan siswa-siswi SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu, 03 September 2016 pukul  10.35 WIB.

[9]B, kelas VIII-A, Wawancara dengan siswa-siswi SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu, 03 September 2016 pukul  10.40 WIB.

[10] Fitra Susanti Siregar, Guru kelas SDN 100215 Persiapan Mosa Julu, Wawancara Pribadi, 10 September 2016.

[11] Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat (Jakarta: Rineka Cipta,1995), hlm.161.

[12] Hasratuddin.,Op.Cit., hlm.137.

[13]Sulhan Yasyin, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Surabaya: Amanah, 1995), hlm. 234.

[14]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2001). hlm. 22

[15] Simangunsong, Wilson, Matematika SMP VII  (Jakarta: Erlangga 2004), hlm. 1.

[16] Israni, 58 Model Pembelajaran Inovatif ( Medan: Media Persada, 2014),hlm.89.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...