UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA
MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING
STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang sangat
penting, karena matematika sebagai mata pelajaran yang memungkinkan untuk
mengembangkan kemampuan berfikir kreatif dan bernalar.[1] Suatu sarana
atau cara untuk menentukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia,
suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan
ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung dan paling penting adalah salah satu ilmu yang menunjang
perkembangan ilmu-ilmu lainya. Matematika merupakan salah satu ilmu yang
diperlukan peserta didik dalam mempelajari dan memahami mata pelajaran lain,
baik di dalam perkembangan sains dan teknologi. Sebagai ratunya ilmu sekaligus pelayanan
ilmu sangat dibutuhkan dalam menghadapi zaman modern ini.
Hal ini juga terbukti dengan semakin banyaknya
kegiatan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, Matematika
juga sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah yang dinilai cukup memegang
peranan penting dalam membentuk peserta didik menjadi berkualitas karena matematika
merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan
sistematis. Seperti yang di
kemukakan oleh Sujana:
“Matematika memengang peran penting karena dengan
bantuan matematika semua ilmu pengetahuan menjadi sempurnah. Matematika
merupakan alat yang efisien dan diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan dan
tanpa bantuan matematika semuanya akan mendapatkan kemajuan yang tidak
berarti”.[2]
Penguasaan matematika yang kuat sejak
dini diperlukan siswa untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan.
Oleh karena itu, mata pelajaran matematika perlu diajarkan di setiap jenjang
pendidikan. Kurikulum Depdiknas menyebutkan bahwa standar kompetensi
matematika di sekolah dasar yang harus dimiliki siswa setelah melakukan
kegiatan pembelajaran bukanlah penguasaan matematika, namun yang diperlukan
adalah mampu memahami dunia sekitar, mampu bersaing dan berhasil dalam
kehidupan.[3]
Menurut Hudojo dalam buku Hasratuddin mendefenisikan
bahwa matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu
tersusun secara hirarki dan penalarannya deduktif, sehingga beajar matematika
itu merupakan kegiatan mental yang tinggi. Masih dalam buku Hasratuddin, James
dalam kamus matematikanya menyatakan bahwa “ matematika adalah ilmu tentang
logika, mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep berhubungan lainnya
dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang yaitu aljabar,
analisis, dan geometri.[4]
Dalam
pembelajaran matematika guru harus memiliki kemampuan mengajar agar
pembelajaran lebih membangkitkan. Peranan guru tidak hanya sekedar
meberikan pokok-pokok bahan pelajaran terhadap siswa, tetapi guru harus dapat
menciptakan suasana proses belajar yang menyenangkan dan memberikan ikatan yang baik dengan siswa. Dengan kata
lain guru harus dapat menciptakan suasana yang hidup dan
situasi belajar yang melibatkan siswa secara aktif sekaligus, diharapkan
seorang guru dapat memberikan bekal yang maksimal kepada siswanya untuk
mencapai hasil yang maksimal itu perlu adanya kemampuan dari guru untuk
menciptakanya.
Suasana belajar
mengajar yang menyenangkan dapat memusatkan perhatian peserta didik secara
penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian,
tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar, seperti disimpulkan
Suyadi bahwa memetik senar kegembiraan pada anak akan memunculkan keriangan dan
vitalitas dalam jiwanya. Hal itu juga akan menjadikan peserta didik selalu siap
untuk menerima perintah, peringatan, atau bimbingan apapun. Menabur kegembiraan
dan keceriaan pada peserta didik akan membuatnya mampu mengaktualisasikan
kemampuannya dalam bentuk yang sempurna.[5] Berdasarkan
observasi yang dilakukan peneliti di SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu ditemukan beberapa permasalahan di kelas yaitu banyak
diantara siswa yang tidak menyukai matematika. Ada yang
berpendapat bahwa matematika itu mengerikan, sehingga mendengar namanya saja
sudah tidak ingin mempelajari matematika, pada saat pembelajaran berlangsung
siswa kurang aktif dan sebagian siswa terlihat malas mengikuti pembelajaran.
Permasalahan lainnya adalah terlihat saat guru menerangkan materi pelajaran
matematika, ada siswa yang tidak memperhatikan, antara lain ada siswa yang tidur-tiduran,
berbicara dengan teman sebelahnya bahkan di belakangnya dan ada juga siswa yang
menulis pelajaran yang lain.
Ini terjadi karena siswa cenderung hanya mendengarkan dan mencatat
materi yang disampaikan guru tanpa diberikan latihan-latihan atau berupa
pertanyaan kepada siswa untuk melihat ranah kognitif siswa terhadap materi yang
disampaikan atau diajarkan.[6] Ada
juga yang disebabkan oleh kesenjangan antara materi dengan cara mengajar. Kebanyakan siswa tidak dapat mencapai hasil belajar yang diinginkan
disebabkan terjadi guru tidak terlalu mengetes ranah kognitif peserta didik
dalam proses pembelajaran yaitu berupa pengetahuan atau ingatan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi siswa yaitu berupa latihan-latihan
soal kepada peserta didik. Sehingga hasil belajar yang didapatkanpun rendah
ditambah lagi suasana kelaspun jadi
membosankan karena tidak adanya pengikat daya tarik siswa mengikuti pelajaran.
Hasil studi pendahuluan berdasarkan wawancara dengan guru kelas IV
SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu Fitra Susanti Siregar, S.Pd yang
menyatakan bahwa ketika guru menjelaskan
kepada siswa materi tersebut kebanyakan siswa tidak bersemangat mendengarkan
atau tidak acuh terhadap apa yang di sampaikan guru, sehingga pada saat
diberikan soal hanya sebagian kecil yang bisa mengerjakannya dan memahaminya.
Hasil
wawancara dari 3 orang siswa di SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu juga menunjukkan ada permasalahan dalam proses pembelajaran. Hasil
wawancara dengan siswa yang berkemampuan tinggi dengan nama inisial R,
menyatakan bahwa matematika adalah salah satu mata pelajaran yang sulit, untuk
memahaminya harus betul-betul balajar. Saat guru menerangkan pelajaran
matematika, metode mengajar yang digunakan guru kurang manarik sehingga siswa
merasa jenuh dan bosan di dalam kelas.[7] Sedangkan
siswa yang berkemampuan sedang dengan nama inisial I,
mengatakan bahwa matematika pelajaran yang sangat sulit diantara
pelajaran-pelajaran lainnya, hanya sebagian materi dari matematika yang bisa
dipahami, dan saat belajar matematika semangat belajar siswa kurang karena
susana di ruangan sangat membosankan, ada sebagian siswa yang ribut dan tidak
peduli dengan matematika, ada yang hanya diam tidak ikut aktif dalam ruangan.[8] Siswa
lain yang berkemampuan rendah dengan nama inisial H
mengatakan bahwa matematika adalah pelajaran yang sama sekali tidak dipahami
sedikitpun, matematika itu membosankan, penuh dengan perhitungan, selain itu
juga sangat banyak rumus-rumus dan simbol-simbol matematika yang tidak
diketahui. [9]
Dari hasil
wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika di SD Negeri 100215 Persiapan
Mosa Julu masih rendah. Dengan demikian
peneliti tertarik untuk memilih materi bilangan bulat di kelas IV di SD Negeri
100215 Persiapan Mosa karena bilangan bulat merupakan awal pengenalan siswa dalam
pengoperasian tanda bilangan negative dan bilangan positif. Dibuktikan
dengan tes awal pemberian soal bentuk essay yang diberikan kepada siswa
SDN 100215 Persiapan Mosa Julu dari total jumlah
siswa 20 orang, 9 orang laki-laki dan 11 orang perempuan hanya 4 orang yang
mencapai nilai ketuntasan, sesuai dengan standar ketuntasan yang dipakai di
sekolah tersebut yaitu
Mengapa
model pembelajaran dipilih karena setiap model membangun keterampilan dan
meningkatkan kemampuan siswa untuk mencapai sasaran belajar, model-model dapat
dingunakan untuk siswa dengan kemampuan yang beragam, mudah digunakan dan mudah
dipahami.[11]Berdasarkan
permasalahan di atas, mengajar itu seharusnya mengunakan model-model pembelajaran,
maka dari itu peneliti ingin melakukan penelitian
untuk perbaikan terhadap pembelajaran matematika di kelas tersebut, karena
apabila permasalahan tersebut tidak segera diatasi akan merugikan siswa. Siswa
akan kesulitan mempelajari materi bilangan bulat maupun materi-materi matematika
yang lain yang menyebabkan hasil belajar siswa menjadi meningkat.
Dengan adanya permasalahan
tersebut, maka peneliti mendorong untuk
mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK). Salah satu model pembelajaran yang
dapat diterapkan oleh guru yaitu model pembelajaran inovatif yaitu model
pembelajaran Talking stick (tongkat bicara) yang menggunakan alat bantu.
Model pembelajaran ini merupakan pendekatan komunikatif pendekatan pembelajaran
yang berbasis komunikasi.
Model pembelajaran Talking Stick adalah salah satu model
untuk mengubah persepsi siswa terhadap matematika menjadi pelajaran yang tidak sulit siswa lebih dapat menguasai
materi ajar karena siswa diberikan kesempatan untuk mempelajarinya tidak
mebosankan khususnya materi bilangan bulat dan membuat daya ingat siswa lebih baik sebab siswa akan ditanyai
kembali tentang materi yang diterangkan atau dipelajari siswa dan lebih dapat memahami materi bilangan bulat karena diawali penjelasan
seorang guru.
Penerapan model pembelajran Talking Stick ini akan
melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Melatih
siswa berbicara mengeluarkan pendapatnya, sehingga terbiasa berbicara di
hadapan guru, dan menimbulkan rasa percaya diri sesuai dengan visi dari
pendidikan matematika masa kini yaitu penguasaan konsep dalam pembelajaran
matematika yang dingunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah. Sedangkan
visi pendidikan matematika masa depan adalah memberikan peluang mengembangkan
pola pikir, rasa percaya diri, keindahan, sikap objektif dan terbuka.[12]
Melalui model pembelajaran Talking Stick Proses belajar mengajar menjadi
lebih menyenangkan dan tidak jenuh bagi siswa dan
diharapkan akan lebih terbantu meningkatkan hasil belajar terhadap materi bilangan bulat,
karena dengan aturan model pembelajaran Talking
Stick ini siswa akan termotivasi dan mendorong siwa untuk berani mengemukakan
jawabannya sehingga hasil belajar akan meningkat pada materi bilangan bulat dimana aturan model pembelajaran Talking Stick ini yaitu
diawali oleh
penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari.
Siswa diberi kesempatan membaca dan
mempelajari materi, guru selanjutnya meminta kepada siswa untuk menutup
bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya kemudian
tongkat tersebut diberikan kepada salah satu siswa. Siswa yang menerima tongkat
diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru. Ketika Stick bergulir dari
siswa kesiswa lainya, diiringi dengan musik jika musik berhenti, stick
berhenti bergulir siap-siap guru memberikan soal kepada siswa yang memengan stick.
Dengan banyaknya pertanyaan atau soal-soal yang diberikan oleh guru
maka akan meningkatkan hasil belajar terhadap
materi bilangan bulat dan para siswa akan lebih
termotivasi untuk belajar sekalingus bermain tapi tidak mengabaikan indikator
yang harus dicapai siswa. Siswa akan diajak belajar dengan suasana yang
menyenangkan bukan yang menengangkan walaupun diberikan pertanyaan–pertanyaan,
tetapi tetap menjadi suasana menyenangkan karna dengan adanya tongkat musik sebagai
pendukung proses pembelajaran sebagai daya tarik siswa untuk tercapainya
peningkatan hasil belajar materi bilangan
bulat tersebut. Dalam uraian di atas maka diharapkan hasil belajar matematika meningkat pada materi bilangan bulat dengan
menggunakan model pembelajaran Talking Stick.
Berdasarkan latar
belakang yang telah
diuraikan di atas maka penelitian mengadakan penelitian yang berjudul:
“UPAYA MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK KELAS
IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU”.
B.
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,
dapat diidentifikasi beberapa masalah penelitian ini sebagai berikut:
1.
Hasil belajar
materi bilangan bulat masih sangat
rendah, dibuktikan dengan tes awal yang
dilakukan peneliti, banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan.
2.
Guru belum
menggunakan model pembelajaran inovatif.
3.
Banyak siswa yang tidak bisa menyelesaikan soal-soal operasi hitung bilangan bulat.
4.
Metode
pembelajaran yang dingunakan monoton.
5.
kurangnya latihan.
6.
Guru kurang
mampu memanfaatkan model-model pembelajaran yang dapat dijangkau langsung oleh
siswa.
7.
Guru kelas IV SDN 100215 Persiapan Mosa Julu belum pernah menggunakan metode Talking Stick sebagai model
pembelajaran.
C.
Batasan Masalah
Berdasarkan beberapa masalah yang teridentifikasi di atas
penelitian ini dibatasi yaitu hanya pada masalah penggunaan model pembelajaran Talking
Stick dalam meningkatkan hasil belajar materi bilangan bulat pada kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu.
D.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah model
pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi bilangan bulat di kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu?
E.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan
untuk mengetahi upaya meningkatkan hasil belajar materi bilangan bulat melalui
model pembelajaran talking stick di kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu.
F.
Manfaat
Penelitian
Setelah penelitian ini dilaksanakan
diharapkan dapat memberikan manfaat, di antaranya:
1.
Manfaat secara teoritis
a.
Menambah
wawasan pengetahuan dalam upaya meningkatkan hasil belajar materi bilangan bulat melalui model pembelajaran Talking Stick.
b.
Menambah
pengalaman secara real dalam model pembelajaran Talking Stick.
2.
Manfaat secara praktis
a.
Sebagai bahan
masukan dalam mengajarkan matematika terutama dengan menggunakan model
pembelajaran Talking Stick.
b.
Dapat meningkatkan
hasil belajar materi bilangan bulat dikelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu. Dalam pembelajaran matematika melalui model pembelajaran Talking Stick.
c.
Meningkatkan
kemampuan matematika di kelas IV SD Negeri 100215 Persiapan Mosa
Julu. Melalui model pembelajaran Talking Stick.
d.
Meningkatkan hasil
belajar dan
mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing siswa.
e.
Mampu memahami
pelaksanaan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran Talking Stick,
sehingga tidak sekedar mengetahui teorinya saja.
G.
Batasan Istilah
Batasan istilah perlu untuk menyamakan persepsi terhadap masalah
yang ada. Adapun batasan istilah dalam penelitian ini adalah:
1.
Peningkatan
Peningkatan adalah proses,
cara, perbuatan meningkatkan.[13] Upaya Peningkatan
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perubahan nilai rata-rata hasil belajar terhadap materi yang meningkat pada setiap siklusnya.
2.
Hasil belajar
Hasil adalah sesuatu yang menjadi akibat dari usaha. Belajar adalah suatu bentuk
pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara
bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Jadi hasil belajar
adalah kemampuan-kemapuan yang dimiliki siswa setelah ia mengalami pengalaman
belajarnya.[14] Hasil belajar
dalam proposal ini yang dimaksudkan adalah hasil belajar materi bilangan bulat.
3.
Bilangan bulat
Bilangan bulat adalah menurut buku matematika SMP VII bilangan bulat
merupakan kumpulan bilangan bulat negative nol bilang bulat positif.[15]
4.
Model pembelajaran
Talking Stick adalah model pembelajaran yang dingunakan guru dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.[16]
H.
Indikator
Tindakan
Indikator tindakan dalam penelitian ini adalah
meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada materi bilangan bulat yang
dilaksanakan tiap pertemuan dalam beberapa siklus. Peningkatan terjadi tiap
criteria yang ditentukan, yaitu: adanya perubahan dari hasil belajar matematika
kepada yang lebih baik yang akan menimbulkan suatu perbuatan belajar yang lebih
baik, misalnya siswa lebih terarah dalam belajar karena adanya daya tarik
belajar, artinya guru mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Siswa juga lebih bergerak aktif karena daya tarik tongkat.
Penelitian ini dikatakan berhasil apabila hasil belajar matematika pada materi
yang diperoleh siswa mencapai nilai kkm 70.
[1]Tim Penyusun, Strategi
Pembelajaran Matematika Kontemporer (Bandung: LIPI, 2001), hlm. 56.
[2]
Sujana, Pengajaran Matematika (Jakarta:
Depdikbud, 1998), hlm.20.
[3]
Ahmad Susanto, Teori
Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2013), hlm.183-184
[4] Hasratuddin, Mengapa Harus Belajar Matematika?, (
Medan: Perdana Publishing, 2015),
hlm.
27-28.
[5] Suyadi, Strategi
Pembelajaran Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013),
hlm.163.
[6] Observasi
Peneliti di kelas IV-A SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu Rabu 03 September 2016 pukul 09.10 WIB
[7]R, kelas VIII-A, Wawancara dengan siswa-siswi SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu, 03 September 2016 pukul 10.30 WIB.
[8] I, kelas
VIII-A, Wawancara dengan siswa-siswi SD Negeri
100215 Persiapan Mosa Julu, 03 September 2016 pukul 10.35 WIB.
[9]B, kelas VIII-A, Wawancara dengan siswa-siswi SD Negeri 100215 Persiapan Mosa Julu, 03 September 2016 pukul 10.40 WIB.
[10]
Fitra Susanti
Siregar, Guru kelas SDN 100215 Persiapan Mosa
Julu, Wawancara Pribadi, 10 September 2016.
[11]
Utami Munandar,
Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat (Jakarta: Rineka Cipta,1995),
hlm.161.
[12] Hasratuddin.,Op.Cit.,
hlm.137.
[13]Sulhan Yasyin, Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Surabaya: Amanah, 1995), hlm. 234.
[14]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar
(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2001). hlm. 22
[15] Simangunsong, Wilson, Matematika SMP VII (Jakarta: Erlangga 2004), hlm. 1.
[16] Israni, 58
Model Pembelajaran Inovatif ( Medan: Media Persada, 2014),hlm.89.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar