Kamis, 09 Juni 2022

BAB IV PENGARUH COOPERATIVE LEARNING TIPE PROBING PROMPTING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DI SMP NEGERI 1 ANGKOLA BARAT

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

A.  Deskripsi Data

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian di kelas VIII SMP Negeri 1 Angkola barat yang disebarkan melalui tes dengan bentuk essay test yang terdiri 8 soal untuk pretest dan 8 soal untuk posttest.  Kemudian, data tersebut dianalisis dan dideskripsikan dengan menggunakan analisis data yang telah ditetapkan pada BAB III. Selanjutnya data yang dideskripsikan adalah kemampuan berpikir kreatif pada materi sistem persamaan linear dua variabel yang diperoleh dari data pretest dan posttest yang telah diuji cobakan.

1.    Hasil Data Awal (Pretest)

a.  Kelas Eksperimen

Gambaran kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi sistsem persamaan linear dua variabel di kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1: Hasil data pretest kemampuan berpikir kreatif pada meteri sistem persamaan linear dua variabel

 

No

Nama

Skor Perolehan

Nilai

1

Abdul Latif Rtg

19

48

2

Ade Saputra Simbolon

17

42

3

Ade Saputra Harahap

21

50

4

Andi Sapurta Hasibuan

25

62

5

Awal Pramana Hasibuan

20

46

No

Nama

Skor Perolehan

Nilai

6

Bona Tua Sormin

17

40

7

Ceddin Saleh Rambe

21

50

8

Cindy Siregar

18

42

9

Ferdiansyah Harahap

18

46

10

Fitri Amelia Nasution

24

54

11

Hasanruddin Siregar

24

58

12

Ika Mahyuni Hutapea

25

56

13

Ismul Azam SMJ

20

48

14

Jainal Abidin SRG

18

44

15

Meriana Lubis

24

56

16

Mona Lisa Harahap

18

46

17

Nurajizah Lubis

21

50

18

Rahma Adinda Harahap

23

54

19

Rohima Silalahi

23

54

20

Sahut Parningotan

18

40

21

Sartika Simatupang

19

44

22

Sefti Primawati Ritonga

25

62

23

Solatia Hutagalung

21

50

24

Sukri Hamdi Siregar

18

42

25

Syahrina hutagalung

19

42

 

Dari data di atas diperoleh nilai maksimum adalah 62 dan nilai minimum adalah 40. Kemudian, setelah dilakukan analisis data, maka diperoleh hasil statistik deskriptif yaitu banyak kelas, mean, median, modus, dan standar deviasi seperti ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 4.2: Hasil analisis data statistik deskriptif pretest kelas eksperimen

No.

Keterangan

Nilai

1.      

Mean

49,19

2.       

Median

48

3.       

Modus

42

4.       

Standar Deviasi

6,420

 

Dari penyebaran data di atas, maka kemampuan awal berpikir kreatif siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3: Distribusi frekuensi nilai kemampuan awal berpikir kreatif siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel di kelas eksperimen

 

Interval

60 - 63

2

56 - 59

3

52 - 55

3

48 - 51

6

44 - 47

5

40 - 43

6

 

Dari tabel frekuensi tersebut dapat digambarkan histogram sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 Gambar 4.1: Histogaram Frekuensi Skor Nilai Awal Kelas Eksperimen

b.    Kelas Kontrol

Gambaran kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel di kelas kontrol dapat di lihat pada pada tabel berikut:

Tabel 4.4: Hasil data pretest kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel

No

Nama

Skor Perolehan

Nilai

1

Adelia Maharaja

11

58

2

Adi Cristo Saputra Aritonang

10

56

3

Aldi Lumban Tobing

3

42

4

Bernat Tua Aritonang

4

44

5

Dama Sari Nainggolan

14

64

6

Faano Laia

3

40

7

Firman Maradong Manalu

5

46

8

Gita Juliani Srg

13

54

9

Khairiahtun Nisa

11

58

10

Hotmartua Pulungan

5

46

11

Hotmatua Silitonga

6

48

12

Ismail Hasugian

4

44

13

Mila Jurianna Nasution

6

48

14

Mutia Harahap

9

54

15

Novitri Turut Marito

9

54

16

Putri Wilda Sari

5

46

17

Riyana Lubis

10

56

18

Sahat Martua Silitonga

4

44

19

Siska Arianti Sormin

11

58

20

Tasya Addiana Pohan

8

52

21

Tia Devita Manik

13

62

22

Tresia Yuliana SMJ

11

58

23

Victor Apri Yanto Giawa

5

46

24

Wandi Parningotan Sinaga

3

42

25

Wawan Pernando Nasution

6

48

 

Dari data di atas diperoleh nilai maksimum adalah 64 dan nilai minimum adalah 40. Kemudian, setelah dilakukan analisis data, maka diperoleh hasil analisis data statistik deskriptif yaitu banyak kelas, mean, median, modus, dan standar deviasi seperti ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 4.5: Hasil analisis data statistik deskriptif pretest kelas kontrol

 

No.

Keterangan

Nilai

1.       

Mean

50,2

2.       

Median

48

3.       

Modus

46

4.       

Standar Deviasi

6,595

 

Dari penyebaran data di atas, maka kemampuan awal berpikir kreatif siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6: Distribusi frekuensi kemampuan awal berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel

 

Interval

Frekuensi

60 - 64

2

55 - 59

6

50 - 54

4

45 - 49

7

40 - 44

6

 

Dari tabel frekuensi tersebut dapat digambarkan histogram sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

               

 

 

  Gambar : 4.2 Histogaram Frekuensi Skor Nilai Awal Kelas Kontrol

Pada gambar 4.2 dapat di lihat nilai siswa yang berada pada interval 40-44 sebanyak 6 siswa, interval 44-49 sebanyak 7 siswa, interval 50-54 sebanyak 4 siswa, interval 55-59 sebanyak 6 siswa, dan interval 60-64 sebanyak 2 siswa.

2.    Hasil Data Akhir (Posttest)

Setelah diberikan perlakuan kepada kelas eksperimen dengan model Probing Promting dan kelas kontrol dengan model konvensional, kemudian diberikan posttest kepada kedua kelas tersebut. Kemudian dilakukan uji normalitas dan uji homegenitas. Data yang diperoleh adalah sebagai berikut :

a.    Kelas Eksperimen

Gambaran kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi sistsem persamaan linear dua variabel di kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7: Hasil data posttest kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel di kelas eksperimen

No

Nama

Skor Perolehan

Nilai

1

Abdul Latif RTG

18

72

2

Ade Saputra SBL

14

64

3

Ade Saputra HRP

18

72

4

Andi Saputra HSB

24

84

5

Awal Pramana HSB

10

56

6

Bona Tua Sormin

8

52

7

Ceddin Saleh Rambe

13

62

8

Cindy Siregar

14

64

9

Ferdiansyah HRP

11

58

10

Fitri Amelia NST

18

72

11

Hasanruddin SRG

9

54

12

Ika Mahyuni Hutapea

20

76

13

Ismul Azam SMJ

15

66

14

Jainal Abidin SRG

19

74

15

Merianna Lubis

20

76

16

Mona Lisa Harahap

14

64

17

Nurazizah Lubis

18

72

18

Rahma Adinda HRP

23

82

19

Rohima Silalahi

23

82

20

Sahut Parningotan

7

48

21

Sartika Simatupang

22

80

22

Sefti Primawati RTG

22

80

23

Solatia Hutagalung

10

56

24

Sukri Hamdi SRG

18

72

25

Syahrina Hutagalung

12

60

 

Dari data di atas, diperoleh nilai maksimum 80 adalah dan nilai minimun adalah 48. Kemudian, setelah dilakukan analisis data, maka diperoleh hasil statistik deskriftif yaitu banyak kelas, mean, median, modus, dnstandar deviasi seperti ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 4.8: Hasil analisis data statistik deskriptif posttest kelas eksperimen

 

No.

Keterangan

Nilai

1.       

Mean

69,74

2.       

Median

72

3.       

Modus

72

4.       

Standar Deviasi

10,713

 

Dari penyebaran data di atas, maka kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel di kels eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.9: Distribusi frekuensi kemampuan akhir berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel

 

Interval

Frekuensi

80 – 87

5

72 – 79

8

64 – 71

4

56 – 63

5

 48 – 55

3

 

Dari tabel frekuensi tersebut dapat digambarkan histogram sebagai berikut:

Gambar 4.3: Histogaram Frekuensi Skor Nilai Akhir Pada Kelas     Ekperimen

 

Pada gambar 4.3 di atas dapat dilihat nilai siswa yang berada pada interval 40-43 sebanyak 6 siswa, interval 44-47 sebanyak 5 siswa, interval 48-51 sebanyak 6 siswa, interval 52-55 sebanyak 3 siswa, interval 56-59 sebanyak 3 siswa, dan interval 60-63 sebanyak 2 siswa.

b.    Kelas Kontrol

Gambaran kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel di kelas kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:

 

 

 

Tabel 4.10: Hasil data posttest kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel di kelas kontrol

No

Nama

Skor Perolehan

Nilai

1

Adelia Maharaja

11

58

2

Adi Cristo Saputra Aritonang

11

58

3

Aldi Lumban Tobing

5

46

4

Bernat Tua Aritonang

4

44

5

Dama Sari Nainggolan

18

72

6

Faano Laia

9

54

7

Firman Maradong Manalu

9

54

8

Gita Juliani Srg

14

64

9

Khairiahtun Nisa

18

72

10

Hotmartua Pulungan

8

52

11

Hotmatua Silitonga

7

50

12

Ismail Hasugian

5

46

13

Mila Jurianna Nasution

8

52

14

Mutia Harahap

11

58

15

Novitri Turut Marito

12

60

16

Putri Wilda Sari

7

50

17

Riyana Lubis

14

64

18

Sahat Martua Silitonga

2

40

19

Siska Arianti Sormin

20

74

20

Tasya Addiana Pohan

7

52

21

Tia Devita Manik

14

64

22

Tresia Yuliana SMJ

18

72

23

Victor Apri Yanto Giawa

6

48

24

Wandi Parningotan Sinaga

3

42

25

Wawan Pernando Nasution

8

52

 

Dari data di atas, diperoleh nilai maksimum adalah 76 dan nilai minimun adalah 40. Kemudian, setelah dilakukan analisis data, maka diperoleh hasil statistik deskriftif yaitu banyak kelas, mean, median, modus, dnstandar deviasi seperti ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 4.11: Hasil analisis data statistik deskriptif posttest kelas kontrol

 

No.

Keterangan

Nilai

1.       

Mean

57,14

2.       

Median

54

3.       

Modus

52

4.       

Standar Deviasi

9,18

 

Dari penyebaran data di atas, maka kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel di kels eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.12: Distribusi frekuensi kemampuan akhir berpikir kreatif siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel

 

Interval

Frekuensi

70 – 75

4

64 – 69

3

58 – 63

4

52 – 57

6

46 – 51

5

40 – 45

3

 

Dari tabel frekuensi tersebut dapat digambarkan histogram sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.4: Histogram Frekuensi Skor Nilai Akhir Kelas Kontrol

 

B.  Uji Persyaratan Analisis

1.    Uji Persyaratan Anlisis Data Awal (Pretest)

a.    Uji Normalitas

Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Perhitungan data untuk uji normalitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.5: Uji Normalitas Sebelum Perlakuan (Pretest) Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

 

Data Uji Normalitas (Pretest)

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

Nilai Maksimum

62

64

Nilai Minimum

40

40

Rentang

22

24

Banyak Kelas

6

5

Panjang Kelas

4

5

Rata-rata (mean)

49,18

50,2

Data Uji Normalitas (Pretest)

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

Simpangan baku (S)

6,420

6,595

N

25

25

5%

5%

7,73

2,55

7,815

5,591

             (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12)

Dari tabel 4.5 di atas, diperoleh hasil perhitungan untuk kelas eksperimen mean , simpangan baku (S)  untuk taraf signifikan  dengan , diperoleh  dan . Karena  , maka dapat disimpulkan bahwa data awal kelas eksperimen berdistribusi normal.

Sementara hasil perhitungan untuk kelas kontrol diperoleh mean , simpangan baku (S)  untuk taraf signifikan  dengan , diperoleh  dan . Karena  , maka dapat disimpulkan bahwa data awal kelas kontrol juga berdistribusi normal. Sehingga dapat dikatakan bahwa kedua kelas tersebut berdistribusi normal.

b.    Uji Homogenitas

Uji homogenitas data digunakan ntuk mengetahui apakah data tersebut mempuyai varians yang sama (homogen) atau tidak. Perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

 

Tabel 4.6: Uji Homogenitas Sebelum Perlakuan (Pretest) Kelas Eksperimen dan Kontrol

 

Sumber Vasiansi

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

Jumlah

1226

1268

N

25

25

Rata-rata

49,18

50,2

Varians

43,04

46,63

Standar Deviasi

6,420

6,595

 

Berdasarkan data di atas , , , dan  maka diperoleh  dan  dengan taraf signifikan , dan  dan . Sehingga dapat disimpulakan bahwa , maka tidak ada perbedaan variansi kedua kelas tersebut (homogen). Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 13)

c.    Uji Kesamaan Rata-rata

Uji kesamaan rata-rata dihitung dengan menggunakan uji t. Berdasarkan hasil perhitungan uji kesamaan dua rata-rata dengan  dan  diperoleh  dengan . Sementara dari daftar distribusi t diperoleh  dengan peluang  dan . Karena  maka dapat disimpulkan bahwa kedua sampel tidak memiliki perbedaan rata-rata yang signifikan. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 14)

Analisis data awal menunjukkan bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki data yang normal, homogen/ memiliki varians yang sama dan tidak memiliki perbedaan rata-rata yang signifikan. Hal ini berarti bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada penelitian ini berangkat dari kondisi awal yang sama.

2.    Uji Persyaratan Akhir (Posttest)

a.    Uji Normalitas

Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Perhitungan data untuk uji normalitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.7: Uji Normalitas Setelah Perlakuan (Posttest) Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

 

Data Uji Normalitas (Pretest)

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

Nilai Maksimum

84

74

Nilai Minimum

48

40

Rentang

36

34

Banyak Kelas

5

6

Panjang Kelas

8

6

Rata-rata (mean)

69,74

57,14

Simpangan baku (S)

10,71

9,81

N

25

25

5%

5%

2,0365

3,2049

5,591

7,815

 (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 15)

Dari tabel 4.7 di atas, diperoleh hasil perhitungan untuk kelas eksperimen mean , simpangan baku (S)  untuk taraf signifikan  dengan , diperoleh  dan . Karena  , maka dapat disimpulkan bahwa data awal kelas eksperimen berdistribusi normal.

Sementara hasil perhitungan untuk kelas kontrol diperoleh mean , simpangan baku (S)  untuk taraf signifikan  dengan , diperoleh  dan . Karena  , maka dapat disimpulkan bahwa data awal kelas kontrol juga berdistribusi normal. Sehingga dapat dikatakan bahwa kedua kelas tersebut berdistribusi normal.

b.    Uji Homogenitas

Uji homogenitas data digunakan ntuk mengetahui apakah data tersebut mempuyai varians yang sama (homogen) atau tidak. Perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.8: Uji Homogenitas Setelah Perlakuan (Posttest) Kelas Eksperimen dan Kontrol

 

Sumber Vasiansi

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

Jumlah

1698

1400

N

25

25

Rata-rata

69,74

57,14

Varians

107,16

99,67

Standar Deviasi

10,71

6,595

              (perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 16)

Berdasarkan data di atas , , , dan  maka diperoleh dan  dengan taraf signifikan , dan  dan . Sehingga dapat disimpulakan bahwa , maka tidak ada perbedaan variansi kedua kelas tersebut (homogen).

C.  Pengujian Hipotesis

Setelah diberikan perlakuan terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol terlihat bahwa kedua kelas berdistribusi normal dan memiliki varians yang sama, maka dapat dilanjutkan dengan uji-t yaitu uji perbedaan rata-rata. Karena sampel sudah mempunyai data yang homogen dan berdistribusi normal maka untuk melihat pengaruh model Probing Prompting dapat dilakukan dengan melakukan uji perbedaan rata-rata dengan rumus sebagai berikut:

 diterima apabila . Dengan peluang  dan  dan tolak H0 jika  mempunyai harga yang lain. Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.9: Pengujian Hipotesis Setelah Diberikan Perlakuan Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

 

Kelas

N

Mean

Eksperimen

25

12,08

189,827

9,32

1,67722

Kontrol

25

5,20

27

(perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 17)

 

Dari tabel 4.9 terlihat bahwa  tidak berada diantara  dan . Dimana thitung = 9,32 dengan peluang dan   diperoleh ttabel = 1,67722.  Dengan  yaitu  yang menunjukkan H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan model Probing Prompting terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMP Negeri 1 Angkola Barat.

D.  Pembahasan Hasil Penelitian

Dari hasil analisis data, soal posttest yang di berikan kepada siswa untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen 69,74 dan kelas kontrol 57,14. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan uji-t kedua kelas memiliki perbedaan, dimana dengan  yaitu . Berarti  diterima atau terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa melalui materi sistem persamaan linear dua variabel.

Menurut Dwight Watkins dala The Liang Ge salah satu asas penting yang muncul dalam semua kegiatan kreatif apa pun bentuknya ialah asas penggabungan (combination). Dimana, untuk memiliki pikiran kreatif seseorang perlu mencari pengalaman yang banyak dari lingkungan sekeliling dan dengan melalui segenap indera yang dimiliki, termasuk indera keenam seperti intuisi atau bisikan batin.[1]

Dalam proses pembelajaran menerapkan probing prompting, yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa pada masalah autentik. Masalah autentik dapat diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan siswa dapam kehidupan sehari-hari, dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa. Dimana setiap siswa dilibatkan langsung dalam proses tanya jawab yang membuat siswa berpikir untuk dapat menjawab setiap permasalah yang diberikan. Dengan probing prompting siswa dilatih menyusun sendiri pengetahuannya, mengembangkan keterapilan pemecahan masalah melalui penyelidikan autentik baik mandiri amupun kelopmpok, meningkatkan kepercayaan diri serta menghasilkan karya dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

Hasil di atas, di dukung oleh penelitian dari Anita Sulistyawati, dan kawa-kawan yang berjudul Analysis of Mathematic Creative Thinking Ability and Metacognition of Student on Probing Prompting Learning Models with Scaffolding Strategy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Probing mendorong model pembelajaran dengan strategi Scaffolding efektif untuk kemampuan berpikir kreatif dan metakognitif matematis. Metakognitif memiliki efek positif pada kemampuan berpikir kreatif matematis dengan model Probing Prompting dengan strategi Scaffolding.[2]

 

 

 

E.  Keterbatasan Penelitian

Pada pelaksanaan penelitian ini, peneliti menyadari banyaknya keterbatasan yang dihadapi peneliti, baik dari faktor internal maupun eksternal. Adapun faktor internal yang dirasakan peneliti adalah keterbatasan dana, dan waktu penelitian. Sedangkan dari faktor eksternal adalah pribadi masing-masing siswa dalam menanggapi model dan materi yang diberikan. Mengingat kemampuan masing-masing siswa memiliki keunikan tersendiri maka peneliti harus fokus melihat dan menanggapi tingkah laku siswa. Siswa masih susah diatur. Saat mengerjakan soal masih ada siswa yang ribut dan tidak ingin tahu dengan proses pembelajaran tersebut. Masih ada siswa yang tidak mau mendengarkan dan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dan juga, masih banyak hal yang tidak dapat terkontrol dan tidak dapat dikendalikan, sehingga hasil dari penelitian inipun belum optimal.

Faktor keterbatasa lainnya, kemampuan peneliti yang masih terbatas, sehingga belum mampu meninjau kemampuan berpikir kreatif siswa secara individu. Alokasi waktu yang masih kurang yang diberikan kepada peneliti karena dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar jika peneliti melaksanakan penelitian dalam jangka waktu yang lama.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...