PENGGUNAAN BLOK ALJABAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII
KAJIAN PUSTAKA
A.
Kajian
Teori
1.
Pembelajaran
Matematika
Kegiatan
belajar dan mengajar merupakan proses yang berlangsung dengan melibatkan siswa
secara penuh agar terjadinya perubahan perilaku. Belajar dan mengajar merupakan
dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Belajar menunjukkan pada apa yang harus
dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar
menunjukkan pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Oleh
karena itu, dalam kegiatan belajar dan mengajar guru diharapkan dapat
menerapkan metode yang sesuia dengan merencanakan langkah-langkah kegiatan
pembelajaran yang dapat diikuti siswa.
Dalam
kegiatan ini guru dituntut dapat berperan sebagai pembimbing, pengajar,
pelatih, dan memotivasi serta memfasilitasi siswa agar terjalin interaksi yang
baik. Interaksi yang terjalin dikelas adalah interaksi edukatif, maksudnya
siswa dilibatkan secara penuh agar tersimpan pengalaman yang bermakna bagi
mereka. Selanjutnya, interaksi juga harus menciptakan kerja sama yang baik
(kooperatif).
14
sama dan saling
membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar
dan mengajar, proses yang akan berlangsung dalam tiga kegiatan, yakni kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.[1]
Matematika adalah ilmu murni yang memiliki sifat tetap dan pasti.
Ilmu murni merupakan dasar bagi ilmu pengetahuan yang lain. Fungsi matematika
itu tidak hanya untuk matematika itu sendiri, melainkan juga membantu ilmu
lainnya. Oleh karena itu, matematika disebut juga sebagai pelayan ilmu lain.
Konsep-konsep dalam matematika sangat diperlukan oleh ilmu-ilmu yang
lain, seperti fisika, kimia, biologi dan ilmu-ilmu lainnya. Bahkan semua ilmu
lain juga menggunakan matematika. Sebagai contoh dalam ilmu fisika, kimia, dan
biologi kita sering dihadapkan dengan rumus-rumus yang tentu menggunakan konsep
matematika yaitu bilangan, dan dalam setiap ilmu lainnya konsep ini pasti
diturut sertakan.[2]
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang penting dikuasai
siswa di sekolah karena banyak kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataannya
penguasaan siswa terhadap pelajaran matematika kebnyakan masih sangat rendah.
Hal ini sesuai dengan yang digkapkan oleh Negoro yaitu tingkat penguasaan siswa
SMP dan SMU terhadap pelajaran matematika hanya 34%, begitu pula dengan
rata-rata nilai matematika dibandingkan dengan nilai pelajaran yang lainnya.
Salah satu faktor yang sangat strategis yang perlu dibenahi adalah
faktor proses pembelajaran, sehingga siswa dapat belajara secara bermakna.
Dalam hal ini dari semua variabel pembelajaran, variabel strategi pembelajaran
yang berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi oleh setiap guru atau perancang
pengajaran sehingga dapat mengatasi masalah rendahnya hasil belajar siswa.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh dengan melakukan pembenahan pada aspek
pembelajaran. pembelajaran yang dapat dilakukan dengan mempertimbangkan
penerapan pendekatan realistik.
Pendekatan realistik seharusnya diterapkan dalam pembelajaran
matematika pada hakikatnya matematika merupakan salah satu ilmu yang didasarkan
atas akal (rasio) yang berhubungan benda-benda alam pikiran yang abstrak atau
matematika memiliki objek kajian yang abstrak. Karena keabstrakan dari objek
matematika maka pemebelajaran dengan pendekatan realistik yaitu menggunakan
dunia nyata yang konkrit sebagai titik pangkal pembelajaran, hal ini sangat
relevan dengan pembelajaran matematika dengan matematika harus dihubungkan
dengan kenyataan, berada dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan
masyarakat agar memiliki nilai yang memuaskan.[3]
2.
Model
Pembelajaran Kooperatif
Istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak
dimiliki oleh srategi atau metode tertentu yaitu, rasional teoritik yang logis
yang disusun oleh penciptanya, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah
laku mengajar yang diperlakukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara
berhasil, dan lingkungan belajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan secara berhasil, dan lingkungan belajar yang diperlukan agar
tujuan pembelajaran itu dapat dicapai.
Menurut Joyce & Weil didalam buku Lefudin yang berjudul Belajar
dan Pembelajaran bahwa model pengajaran sebenarnya adalah model
pembelajaran karena tujuan pengajaran adalah membantu siswa memperoleh
informasi, ide-ide, keterampilan-keterampilan, nilai-nilai, cara-cara berfikir,
alat-alat untuk mengekspresikan diri, serta cara belajar. Sesungguhnya tujuan
jangka panjang pengajaran yang terpenting adalah agar siswa nantinya mampu meningkatkan
kemampuan belajar kearah lebih mudah dan efektif, karena pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai telah diperoleh disamping siswa telah menguasai
proses-proses belajar.[4]
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
mengutamakan eksistensi kelompok. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan
kolaborasi dalam memecahkan masalah untuk menerapkan pengetahuan dan
keterampilan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran
kooperatif telah diperkenalkan sejak awal abad XX oleh Dewey dkk. Pembelajaran
kooperatif merupakan ide yang lama dalam pendidikan yang telah mengalami
kebangkitan yang penting dalam penelitian pendidikan serta praktek pendidikan
dalam beberapa kurun waktu penelitian yang praktis. Istilah pelajaran kooperatif
mengacu pada teknis kelas dimana siswa melakukan kegiatan belajar dalam
kelompok-kelompok kecil dan menerima penghargaan berdasarkan hasil kinerja
mereka.
Pembelajaran
kooperatif telah terbukti memperbaiki
hubungan kelompok dan ras. Guru seharusnya mempertimbangkan pemakaian metode
ini untuk meningkatkan pendidikan perdamaian. Satu kenyataan yang tak
terelakkan dalam kelas yaitu keanekaragaman latar belakang siswa yang setiap
siswa berbeda karakter, dengan demikian metode pembelajaan kooperatif ini
menjadi solusi yang sangat baik dalam proses pemebelajaran dilaksanakan.[5]
Pelaksanaan
pembelajaran kooperatif disertai dengan keterampilan-keterampilan khusus agar
siswa dapat bekerjasama didalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang
baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang
direncanakan untuk dikerjakan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok
adalah mencapai ketuntasan.
Perlu
ditekankan kepada siswa bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya sebelum
mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas. Siswa diminta
menjelaskan jawabannya dilembar kerja siswa (LKS). Apabila ada siswa memiliki
pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk menjelaskan, sebelum menanyakan
jawabannya kepada guru. Pada saat siswa bekerja dalam kelompok, guru
berkeliling diantara anggota kelompok, memberikan pujian dan mengamati
bagaimana kelompok bekerja.[6]
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ialah sebagai berikut:
1) Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa.
2) Menyajikan
informasi.
3) Mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
4) Membimbing
kelompok bekerja dan belajar.
5) Evaluasi.
6) Memberikan
penghargaan.[7]
Adapun secara lebih rinci tentang
langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ialah sebagai berikut:
1) Pada
awal pembelajaran, guru mendorong peserta didik untuk menemukan dan mengekspresikan
ketertarikan mereka terhadap subjek yang dipelajari.
2) Guru
mengatur peserta didik kedalam kelompok heterogen yang terdiri 4-5 peserta
didik.
3) Guru
membiarkan peserta didik memilih topik untuk kelompok mereka.
4) Tiap
kelompok membagi topiknya untuk membuat pembagian tugas diantara anggota
kelompok dan anggota kelompok didorong untuk saling membagi referensi dan bahan
pelajaran.
5) Tiap
topik kecil harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha kelompok.
6) Setelah
para peserta didik membagi topik kelompok mereka menjadi kelompok – kelompok
kecil, mereka akan bekerja secara individual dan bertanggungjawab terhadap
topik yang masing-masing mereka bagi, dan kemudian mengumpulkan
referensi-referensi yang terkait.
7) Para
peserta didik didorong untuk memadukan semua topik kecil dalam presentasi
kelompok.
8) Tiap
kelompok mempresentasikan hasil diskusinya pada topik kelompok, semua anggota
kelompok bertanggung jawab terhadap semua presentasi kelompok.
9) Evaluasi,
evaluasi dilakukan tiga tingkatan, yaitu pada saat presentasi kelompok
dievaluasi oleh kelas, kontribusi individual oleh teman satu kelompok,
presentasi kelompok dievaluasi oleh semua peserta didik.[8]
3.
Faktorisasi
Bentuk Aljabar
Faktor
bentuk aljabar adalah cara untuk memfaktorkan bentuk aljabar. Memfaktorkan
bentuk aljabar berarti menyatakan bentuk penjumlahan menjadi bentuk perkalian.
Bentuk penjumlahan suku-suku yang memiliki faktor yang sama difaktorkan dengan
menggunakan hukum distributif. Terdapat beberapa macam faktorisasi bentuk
aljabar, yaitu[9]:
a. Faktorisasi
bentuk aljabar
b. Faktorisasi
bentuk aljabar
c. Faktorisasi
bentuk aljabar
d. Faktorisasi
bentuk aljabar
e. Faktorisasi
bentuk aljabar
Aljabar
adalah cabang matematika yang mempelajari struktur, hubungan dan kuantitas.
Untuk mempelajari hal-hal dalam aljabar digunakan simbol (biasanya berupa
huruf) untuk mempresentasikan bilangan secara umum sebagai sarana
penyederhanaan dan alat bantu memecahkan masalah.
Umumnya
aljabar berisi kalimat matematika yang memuat variabel-variabel, koefisien atau
konstanta. Meskipun merupakan materi yang abstrak, aljabar kini tidak asing
lagi bagi siswa disekolah menengah. Adapun klasifikasi aljabar terbagi menjadi
4 kelompok besar yaitu aljabar elementer, aljabar abstrak, aljabar linier dan
aljabar universal. Aljabar linier mempelajari tentang sistem persamaan linier
dan solusinya, vektor, serta transformasi linier.[10]
Aljabar
adalah bentuk persamaan yang terdiri dari variabel (peubah) dan konstanta yang
dihubungkan dengan tanda operasi hitung serta tidak menggunakan tanda sama
dengan.
Contoh bentuk
aljabar:
1.
2.
3.
4.
|
|
|
|
|
|
Hal tersebut dapat diilustrasikan sebagai
berikut:
a
Sebuah daerah pada gambar ilustrasi
diatas dapat dinyatakan sebagai berikut:
Contohnya:
1)
2)
Istilah
yang harus dipahami adalah [12]:
a)
Variabel,
pengganti bilangan yang masih dicari, misalnya dilambangkan dengan a, b, x, y
dan lain-lain.
b)
Konstanta,
bagian dari bentuk aljabar yang tidak memuat variabel.
c)
Koefisien,
konstanta dari suatu suku.
d)
Suku,
variabel beserta koefisien atau konstanta pada bentuk aljabar yang dipisahkan
oleh tanda operasi hitung.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
mengerjakan operasi hitung aljabar adalah:
a) Penjumlahan
dan pengurangan.
1) Suku-suku yang sejenis.
2) Sifat yang distributif perkalian terhadap
penjumlahan dan pengurangan.
3) Hasil perkalian dua bilangan bulat positif dan
negatif.
Setelah memperhatikan ketiga hal diatas,
hasil operasi hitung aljabar dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih sederhana
dengan memperhatikan suku-suku yang sejenis.
b) Perkalian.
1)
2)
3)
4)
c) Pembagian
Jika
bentuk aljabar memiliki faktor-faktor yang sama, maka hasil pembagia kedua
bentuk aljabar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk yang sederhana dengan
memperhatikan faktor-faktor yang sama. Bentuk aljabar
Selain
itu diperlukan juga materi tentang pembagian dan perkalian bilangan berpangkat,
yaitu untuk bilangan bulat
Setelah
memperhatikan ketiga hal diatas hasil operasi hitung aljabar dapat dinyatakan
dalam bentuk yang lebih sederhana dengan memperhatikan suku-suku yang sejenis.
4.
Blok
Aljabar
Blok
aljabar merupakan salah satu model media pembelajaran yang dapat digunakan
untuk membantu menarik minat dan meningkatkan pemahaman siswa dalam
pembelajaran matematika materi Faktorisasi Suku Aljabar. Wahyudi dalam “Ensiklopedia
Matematika (Topik-Topik Pengayaan Untuk SLTP)”, menjelaskan bahwa dalam
melakukan operasi hitung aljabar seperti penjumlahan dan perkalian dapat dilakukan
dengan bentuk Blok Aljabar. Begitu pula
hanya dengan operasi pemaktoran. Sedangkan untuk operasi pembagian belum dapat
diterapkan penggunaan Blok Aljabar ini.
Blok
aljabar merupakan sebuah alat bantu untuk menghitung operasi suku-suku aljabar.
Blok aljabar terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Blok
untuk lambang
b. Blok
unntuk lambang
c. Blok
untuk lambang satuan.
Bentuk Blok Aljabar
Gambar 2.1
Blok
dan
a)
Operasi
Penjumlahan.
Contoh:
b)
Operasi
Pengurangan
Contoh:
c) Operasi
Perkalian
Pada operasi perkalian dengan blok aljabar digunakan prinsip
luas persegi panjang atau persegi, dimana luas persegi panjang adalah panjang
kali lebar
Contoh:
5
5
d) Pemfaktoran
Bentuk-bentuk aljabar yang dapat difaktorkan dengan blok
adalah:
1.
2.
3.
Contoh:
1)
2)
3)
4)
5.
Minat
Belajar Siswa
Minat
belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa
gejala seperti: gairah, keinginan, semangat, perasaan, suka untuk melakukan
proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari
pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain minat belajar adalah perhatian,
rasa suka, ketertarikan seseorang (warga belajar) terhadap proses belajar yang
dijalaninya dan yang kemudian ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan
keaktifan dalam mengikuti proses belajar yang ada.[14]
Dengan
adanya minat, mampu memperkuat ingatan seseorang terhadap apa yang telah
dipelajarinya. Sehingga dapat dijadikan sebuah pondasi seseorang dalam proses
pembelajaran dikemudian hari. Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan
dan merupakan dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk
berinteraksi dengan dunia luar, motif yang menggunakan dan menyelidiki dunia
luar. Menurut Edy Syahpurta, seorang
siswa yang memiliki minat belajar ditandai dengan:
a. Rasa
lebih suka terhadap belajar dari pada kegiatan lain.
b. Rasa
keterkaitan terhadap kegiatan belajar.
c. Menyukai
kegiatan akademis, dan
d. Memiliki
partisipasi yang tinggi terhadap belajar.[15]
Dari berbagai pendapat yang telah
dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa minat merupakan rasa suka atau
tertarik terhadap suatu hal atau aktifitas seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan suatu kegiatan, dan minat juga dikatakan sebagai suatu keinginan atau
kemauan yang merupakan dorongan seseorang untuk melakukan suatu hal atau
aktifitas tanpa adanya paksaan dari luar dirinya.
6.
Hasil
Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah mereka
menerima pengalaman belajar dalam proses pembelajaran. Prestasi belajar pada
dasarnya adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah mengikuti kegiatan
belajar. Prestasi belajar biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, simbol, huruf
ataupun kalimat. Adapun hasil belajar siswa dapat diartikan sebagai nilai yang
diperoleh siswa selama kegiatan belajar mengajar. Secara umum pengertian hasil
belajar adalah perubahan perilaku dan kemampuan secara keseluruhan yang
dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif,
afektif, dan psikomotorik yang disebabkan oleh pengalaman dan bukan hanya salah
satu aspek potensi saja. [16]
Hasil belajar
seseorang dapat ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku yang ditampilkan dan
dapat diamati antara sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan belajar. Jadi
hasil belajar adalah merupakan penilaian hasil-hasil kegiatan belajar pada diri
siswa setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar tersebut berupa
pengalaman yang menyangkut segi kognitif, afektif, dan psikomotorik.[17]
Akan tetapi dari ketiga domain diatas yang menjadi objek peneliti adalah ranah
kognitif.
Menurut Purwanto didalam buku Motivasi Berprestasi dan Disiplin
Peserta Didik Serta Hubungannya dengan Hasil Belajar, karangan Mirdanda
Arsyi bahwa “Yang dapat mempengaruhi hasil belajar terdiri dari faktor dari
dalam diri peserta didik (intern) dan faktor dari luar diri peserta didik (ekstern)”.
Faktor dari dalam dalam yakni fisiologi dan psikologi sedangkan faktor dari
luar yakni lingkungan dan instrumental. Faktor yang mempengaruhi proses dan
hasil belajar yaitu:
1)
Fakor
Intern.
a)
Faktor
Fisiologis, terdiri dari kondisi fisiologis, kondisi panca indra.
b)
Faktor
Psikologi, terdiri dari minat kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan kognitif.
2)
Faktor
ekstern
a)
Faktor
lingkungan, terdiri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial.
b)
Faktor
instrumental, terdiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas guru.
Slameto menyatakan didalam buku Mirdanda Arsyi yang berjudul Motivasi
Berprestasi dan Disiplin Peserta Didik Serta Hubungannya dengan Hasil Belajar bahwa
“Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua yakni
faktor intern (jasmaniah, psikologi dan kelelahan) dan ekstern (keluarga,
sekolah, masyarakat)”.[18]
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar
adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan
belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dapat
dinyatakan dengan simbol-simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat
mencerminkan kualitas kegiatan individu dalam proses tertentu. Dengan
membandingkan antara tingkah laku sebelum dan sesudah melaksanakan belajar
dapat ditentukan seberapa besar hasil belajar yang dicapai seseorang.
B.
Penelitian
terdahulu
Untuk memperkuat penelitian ini, maka diambil
penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini adalah:
1.
Rif’atul
Muthi’ah, dari prodi matematika FTIK IAIN Antasari dengan judul “Penggunaan
Blok Aljabar Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams –
Achievement Divisions (STAD) Pada Materi Faktorisasi Suku Aljabar Di Kelas
VIII MTs Siti Mariam Banjarmasin Tahun Pelajaran 2014/2015”. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa meningkat dimana
pembelajaran dengan menggunakan alat peraga lebih tinggi dibandingkan dengan
pembelajaran yang tidak menggunakan alat peraga (monoton).[19]
Kelemahan dalam penelitian ini yaitu belum mampu meninjau kemampuan komunikasi
matematika siswa secara individu dan keberanian siswa dalam mengungkapkan
gagasan maupun tanggapan dalam belajar belum terlihat.
2.
Christiana
Erlin Disasmitowati, dari prodi matematika Universitas Sanata Dharma dengan
judul “Penggunaan Blok Aljabar Untuk Membelajarkan Persamaan Kuadrat Dengan
Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik”. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa siswa dapat menentukan akar-akar persamaan kuadrat dengan menggunakan
cara pemfaktoran dan menyelesaikan masalah nyata terkait dengan persamaan
kuadrat dengan pemfaktoran.[20]
Kelemahan dalam penelitian ini yaitu hanya berfokus pada pendekatan PMR
pembelajaran pemfaktoran pada materi persamaan kuadrat saja.
3.
Nurul
Astuty Yensi, dari prodi matematika JPMIPA FKIP UNIB dengan judul “Penerapan Active
Learning Dengan Menggunakan Blok Aljabar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIB Pada Materi Persamaan Kuadrat”. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan active learning dengan
menggunakan alat peraga pada pokok bahasan persamaan kuadrat dapat memberikan
respon positif pada mahasiswa pendidikan matematika Universitas Bengkulu, dan
membuat kerjasama antar mahasiswa lebih baik dan memberikan suasana baru dalam
belajar.[21]
Kelemahan dalam penelitian ini yaitu hanya berfokus pada aspek kognitif yaitu
mengetahui materi (C1), memahami (C2), dan mengevaluasi materi (C6).
Berdasarkan uraian diatas adapun
perbedaan yang ada dalam penelitian ini adalah:
1.
Model
pembelajaran kooperatif, dimana pada model pembelajaran kooperatif yang digunakan oleh Rif’atul Muthi’ah
menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Teams – Achievement
Divisions (STAD), pada penelitian Christiana Erlin Disasmitowati
menggunakan Pendekatan Matematika Realistik (PMR), pada penelitian Nurul Astuty
Yensi menggunakan Penerapan Active Learning, sdangkan dalam penelitian
ini menggunakan model pembelajaran kooperatif kelompok kecil dan tanya jawab
tercepat setiap kelompok.
2.
Materi,
dimana materi yang digunakan oleh Christiana Erlin Disasmitowati dan Nurul
Astuty Yensi adalah persamaan kuadrat, pada penelitian Rif’atul Muthi’ah
menggunakan materi faktorisasi suku aljabar dan meskipun materi penelitian sama
tetapi penyampaian dan model pembelajaran yang digunakan berbeda.
3.
Tempat,
dimana tempat penelitian yang akan dilaksanakan oleh Rif’atul Muthi’ah adalah
MTs Siti Mariam Banjarmasin, kemudian tempat penelitian yang dilakukan oleh
Christiana Erlin Disasmitowati adalah SMP N 12 Yogyakarta, dan tempat
penelitian yang dilakukan Nurul Astuty Yensi adalah Mahasiswa Universita
Bengkulu semester IA angkatan 2012 pendidikan matematika, sedangkan tempat yang
dilaksanakan dalam penelitian ini adalah M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara berada di daerah Gunung Tua Desa Sigama.
C.
Kerangka
Berpikir
Proses
belajar disekolah adalah proses yang sifatnya
kompleks dan menyeluruh. Beberapa kendala yang terdapat dalam proses
belajar mengajar adalah kurangnya keterampilan guru menyampaikan materi kepada
siswa dan kemampuan siswa yang beragam dalam memahami materi. Dua permasalahan
tersebut akhirnya menimbulkan masalah yang baru bagi siswa yaitu membuat minat
dan kepedulian siswa terhadap pelajaran matematika semakin menurun. Daya serap
siswa dalam memahami materi turut menjadi rendah, mengakibatkan prestasi belajar
siswa rendah pula.
Guru
kurang dalam memperhatikan siswa terhadap apa yang dibutuhan siswa sehingga
jarang sekali mengubah cara pembelajaran konvensional yang sering dilakakukan.
Dengan pelajaran yang sama dalam setiap pertemuan, tentunya siswa akan merasa
bosan dan minat belajarnya akan menurun. Selain itu kemampuan dan cara belajar
siswa yang berbeda-beda mengakibatkan perlunya strategi pembelajaran yang aktif
untuk meningkatkan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika.
Model
pembelajaran kooperatif (kelompok) merupakan salah satu strategi pembelajaran
aktif yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan sistem
belajar kelompok ini guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa
terhadap materi pelajaran yang telah diberikan, atau sejauh mana hasil belajar
yang telah dicapai oleh siswa. Disamping itu strategi ini dapat mengubah
aktifitas kelas menjadi menarik dan menyenangkan.
Materi
Faktorisasi Suku Aljabar adalah materi yang cukup abstrak bagi siswa. Guru perlu
mencari solusi dari masalah ini seperti
menyimbolkan sesuatu yang abstrak dengan benda yang konkrit agar siswa dapat
cepat menyerap materi yang disampaikan. Untuk membuat materi Faktorisasi Suku
Aljabar tampak lebih konkrit bagi siswa dibutuhkan alat peraga atau media yang
tepat.
Blok
Aljabar merupakan media atau model yang sesuia untuk membantu siswa
memfaktorkan bentuk aljabar. Dengan Blok Aljabar siswa akan merasa visualisasi
(mengungkapkan gagasan) variabel-variabel yang abstrak pada bentuk fisik Blok
Aljabar tersebut. Dengan demikian siswa akan lebih mudah dalam berfikir dan
merasa senang seperti bermain.
Berdasarkan kerangka berfikir tersebut, maka
digambarkan kerangka berfikir Ssebagai berikut:
Skema Kerangka Berfikir
Gambar 2.2
Pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional Pembelajaran
kurang optimal Pembelajaran
menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan blok aljabar Meningkatkan
hasil belajar Kondis
akhir perlakuan Kondisi
awal
D.
Hipotesis
Penelitian
Hipotesis
adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih
perlu diuji akan kebenarannya. Berdasarkan hal tersebut hipotesis penelitian
ini yaitu: “Penerapan model pembelajaran kooperatif disertai dengan penggunaan blok
aljabar dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan minat dan hasil
belajar siswa kelas VIII M.Ts
Negeri 2 Padang Lawas Utara”.
[1]Saifuddin
Mahmud dan Muhammad Idham, “Srategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia”, Tesis,
(Bandung: Syiah Kuala University Press, 2017), hlm. 15 – 16.
[2]Fahrurrozi
dan Syukrul Hamdi, Metode Pembelajaran
Matematika (NTB: Universitas Hamzanwadi Press, 2017), hlm. 8.
[3]
Yuharsimi, “Pendekatan Realistik dalam Pembelajaran Matematika”, Jurnal
Peluang, volume 1, No. 1, Oktober 2012.
[4]Lefudin,
Belajar dan Pembelajaran (Yogyakarta: Deepublish, 2017), hlm. 172 - 173.
[5]Siti
Mina Tamah, “Pernak – Pernik Kinerja
Kelompok Berbasis Pembelajaran Kooperatif” Tesis, (Surabaya: Universitas Katolilk Widya Mandala, 2017), hlm.
20 – 22.
[6]Pardi
Kururu, “Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses alam Setting Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Belajar IPA Siswa SLTP” www.dediknas.co.id,
diakses 06 Agustus 2020 pukul 10.15 WIB.
[7]Aris
Kurniawan, “Pembelajaran Kooperatif” https://www.gurupendidikan.co.id/pembelajaran-kooperatif, diakses
02 Juni 2021 Pukul 10.08 WIB
[8]Zuriatun
Hasana, “Model Pembelajaran Kooperatif Dalam Menumbuhkan Kreatif Belajar
Siswa”, Jurnal Studi Kemahasiswaan, vol. 1 no. 1 2021 (https://jurnal.stituwjombang.ac.id/index.php/irsyaduna,
diakses 11 Juni 2021 pukul 10.40 WIB).
[9]M.
Cholik A. Sugijono, Matematika Untuk SMP
Kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 4 – 24.
[10]Netty
J. Marlin Gella dan Yusak , Aljabar
Linier Dasar Berbasis IT (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2020), hlm. 1.
[11]Joko
Untoro, Buku Pintar Matematika SMP Untuk
Kelas 1, 2 dan 3 (Jakarta: Wahyu Media, 2017), hlm. 69.
[12]Prasetya
Adhi Nugroho dan Dedy Gunarto, Soal –
Bahas Matematika SMP/MTs Kelas VII, VIII & IX (Jakarta Selatan: Wahyu
Media, 2013), hlm. 151.
[13]Wahyudin
dan Sudrajad, Ensiklopedia
Matematika (Jakarta: C.V Tarity Samudra Berlian, 2004), hlm. 118 – 119.
[14]Indah Lestari, “Pengaruh Waktu Belajar Dan Minat
Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Formatif:
Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 3, no. 2 (2015): hlm,115–25,
https://doi.org/10.30998/formatif.v3i2.118.
[15]Edy
Syahputra, Snowball Throwing Tingkatkan
Minat Dan Hasil Belajar (Sukabumi: Haura Publishing, 2020), hlm. 12 – 14.
[16]Endang
Sri Wahyuni, Model Pembelajaran Mastery
Learning Upaya Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa (Yogyakarta: Deepublish,2020),
hlm. 65.
[17]Endang
Sri Wahyuni, Model Pembelajaran…, hlm. 65.
[18]Mirdanda
Arsyi, Motivasi Berprestasi dan Disiplin
Peserta Didik Serta Hubungannya dengan Hasil Belajar (Pontianak: Yudha
English Gallery, 2018), hlm. 36 - 37.
[19]Rif’atul
Muthi’ah, “Penggunaan Blok Aljabar Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student
Teams-Achievement Divisions (STAD) Pada Materi Faktorisasi Suku Aljabar Di
Kelas VIII MTs Siti Mariam Banjarmasin Tahun Pelajaran 2014/2015” Skripsi
Banjarmasin 2014.
[20]Christiana
Erlin Disasmitowati, dari prodi matematika Universitas Sanata Dharma dengan
judul “Penggunaan Blok Aljabar Untuk Membelajarkan Persamaan Kuadrat Dengan
Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik” Tesis Yogyakarta 2020.
[21]Nurul
Astuty Yensi, “Penerapan Active Learning Dengan Menggunakan Blok Aljabar
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIB Pada
Materi Persamaan Kuadrat”, Skripsi JPMIPA FKIP UNIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar