Selasa, 21 Juni 2022

BAB II PENGGUNAAN BLOK ALJABAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII

 PENGGUNAAN BLOK ALJABAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII 


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.  Kajian Teori

1.    Pembelajaran Matematika

Kegiatan belajar dan mengajar merupakan proses yang berlangsung dengan melibatkan siswa secara penuh agar terjadinya perubahan perilaku. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Belajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar dan mengajar guru diharapkan dapat menerapkan metode yang sesuia dengan merencanakan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dapat diikuti siswa.

Dalam kegiatan ini guru dituntut dapat berperan sebagai pembimbing, pengajar, pelatih, dan memotivasi serta memfasilitasi siswa agar terjalin interaksi yang baik. Interaksi yang terjalin dikelas adalah interaksi edukatif, maksudnya siswa dilibatkan secara penuh agar tersimpan pengalaman yang bermakna bagi mereka. Selanjutnya, interaksi juga harus menciptakan kerja sama yang baik (kooperatif).

14

Dalam pembelajaran kooperatif, Hamdani mengatakan bahwa dalam penyelesaian tugas kelompok, setiap anggota kelompok harus saling bekerja


sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar, proses yang akan berlangsung dalam tiga kegiatan, yakni kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.[1] 

Matematika adalah ilmu murni yang memiliki sifat tetap dan pasti. Ilmu murni merupakan dasar bagi ilmu pengetahuan yang lain. Fungsi matematika itu tidak hanya untuk matematika itu sendiri, melainkan juga membantu ilmu lainnya. Oleh karena itu, matematika disebut juga sebagai pelayan ilmu lain. Konsep-konsep dalam matematika sangat diperlukan oleh ilmu-ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan ilmu-ilmu lainnya. Bahkan semua ilmu lain juga menggunakan matematika. Sebagai contoh dalam ilmu fisika, kimia, dan biologi kita sering dihadapkan dengan rumus-rumus yang tentu menggunakan konsep matematika yaitu bilangan, dan dalam setiap ilmu lainnya konsep ini pasti diturut sertakan.[2]

Matematika merupakan salah satu pelajaran yang penting dikuasai siswa di sekolah karena banyak kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataannya penguasaan siswa terhadap pelajaran matematika kebnyakan masih sangat rendah. Hal ini sesuai dengan yang digkapkan oleh Negoro yaitu tingkat penguasaan siswa SMP dan SMU terhadap pelajaran matematika hanya 34%, begitu pula dengan rata-rata nilai matematika dibandingkan dengan nilai pelajaran yang lainnya.

Salah satu faktor yang sangat strategis yang perlu dibenahi adalah faktor proses pembelajaran, sehingga siswa dapat belajara secara bermakna. Dalam hal ini dari semua variabel pembelajaran, variabel strategi pembelajaran yang berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi oleh setiap guru atau perancang pengajaran sehingga dapat mengatasi masalah rendahnya hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dapat ditempuh dengan melakukan pembenahan pada aspek pembelajaran. pembelajaran yang dapat dilakukan dengan mempertimbangkan penerapan pendekatan realistik.

Pendekatan realistik seharusnya diterapkan dalam pembelajaran matematika pada hakikatnya matematika merupakan salah satu ilmu yang didasarkan atas akal (rasio) yang berhubungan benda-benda alam pikiran yang abstrak atau matematika memiliki objek kajian yang abstrak. Karena keabstrakan dari objek matematika maka pemebelajaran dengan pendekatan realistik yaitu menggunakan dunia nyata yang konkrit sebagai titik pangkal pembelajaran, hal ini sangat relevan dengan pembelajaran matematika dengan matematika harus dihubungkan dengan kenyataan, berada dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan masyarakat agar memiliki nilai yang memuaskan.[3]

2.    Model Pembelajaran Kooperatif

Istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh srategi atau metode tertentu yaitu, rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah laku mengajar yang diperlakukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan lingkungan belajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat dicapai.

Menurut Joyce & Weil didalam buku Lefudin yang berjudul Belajar dan Pembelajaran bahwa model pengajaran sebenarnya adalah model pembelajaran karena tujuan pengajaran adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide-ide, keterampilan-keterampilan, nilai-nilai, cara-cara berfikir, alat-alat untuk mengekspresikan diri, serta cara belajar. Sesungguhnya tujuan jangka panjang pengajaran yang terpenting adalah agar siswa nantinya mampu meningkatkan kemampuan belajar kearah lebih mudah dan efektif, karena pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai telah diperoleh disamping siswa telah menguasai proses-proses belajar.[4]

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan eksistensi kelompok. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kolaborasi dalam memecahkan masalah untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran kooperatif telah diperkenalkan sejak awal abad XX oleh Dewey dkk. Pembelajaran kooperatif merupakan ide yang lama dalam pendidikan yang telah mengalami kebangkitan yang penting dalam penelitian pendidikan serta praktek pendidikan dalam beberapa kurun waktu penelitian yang praktis. Istilah pelajaran kooperatif mengacu pada teknis kelas dimana siswa melakukan kegiatan belajar dalam kelompok-kelompok kecil dan menerima penghargaan berdasarkan hasil kinerja mereka.

Pembelajaran kooperatif  telah terbukti memperbaiki hubungan kelompok dan ras. Guru seharusnya mempertimbangkan pemakaian metode ini untuk meningkatkan pendidikan perdamaian. Satu kenyataan yang tak terelakkan dalam kelas yaitu keanekaragaman latar belakang siswa yang setiap siswa berbeda karakter, dengan demikian metode pembelajaan kooperatif ini menjadi solusi yang sangat baik dalam proses pemebelajaran dilaksanakan.[5]

Pelaksanaan pembelajaran kooperatif disertai dengan keterampilan-keterampilan khusus agar siswa dapat bekerjasama didalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk dikerjakan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan.

Perlu ditekankan kepada siswa bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya sebelum mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas. Siswa diminta menjelaskan jawabannya dilembar kerja siswa (LKS). Apabila ada siswa memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk menjelaskan, sebelum menanyakan jawabannya kepada guru. Pada saat siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling diantara anggota kelompok, memberikan pujian dan mengamati bagaimana kelompok bekerja.[6] Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ialah sebagai berikut:

1)   Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.

2)   Menyajikan informasi.

3)   Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.

4)   Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

5)   Evaluasi.

6)   Memberikan penghargaan.[7]

Adapun secara lebih rinci tentang langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ialah sebagai berikut:

1)   Pada awal pembelajaran, guru mendorong peserta didik untuk menemukan dan mengekspresikan ketertarikan mereka terhadap subjek yang dipelajari.

2)   Guru mengatur peserta didik kedalam kelompok heterogen yang terdiri 4-5 peserta didik.

3)   Guru membiarkan peserta didik memilih topik untuk kelompok mereka.

4)   Tiap kelompok membagi topiknya untuk membuat pembagian tugas diantara anggota kelompok dan anggota kelompok didorong untuk saling membagi referensi dan bahan pelajaran.

5)   Tiap topik kecil harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha kelompok.

6)   Setelah para peserta didik membagi topik kelompok mereka menjadi kelompok – kelompok kecil, mereka akan bekerja secara individual dan bertanggungjawab terhadap topik yang masing-masing mereka bagi, dan kemudian mengumpulkan referensi-referensi yang terkait.

7)   Para peserta didik didorong untuk memadukan semua topik kecil dalam presentasi kelompok.

8)   Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya pada topik kelompok, semua anggota kelompok bertanggung jawab terhadap semua presentasi kelompok.

9)   Evaluasi, evaluasi dilakukan tiga tingkatan, yaitu pada saat presentasi kelompok dievaluasi oleh kelas, kontribusi individual oleh teman satu kelompok, presentasi kelompok dievaluasi oleh semua peserta didik.[8]

3.    Faktorisasi Bentuk Aljabar

Faktor bentuk aljabar adalah cara untuk memfaktorkan bentuk aljabar. Memfaktorkan bentuk aljabar berarti menyatakan bentuk penjumlahan menjadi bentuk perkalian. Bentuk penjumlahan suku-suku yang memiliki faktor yang sama difaktorkan dengan menggunakan hukum distributif. Terdapat beberapa macam faktorisasi bentuk aljabar, yaitu[9]:

a.    Faktorisasi bentuk aljabar  adalah: .

b.    Faktorisasi bentuk aljabar  adalah:

c.    Faktorisasi bentuk aljabar  dan  adalah: .

d.   Faktorisasi bentuk aljabar  adalah:

     .

e.    Faktorisasi bentuk aljabar  adalah:

.

Aljabar adalah cabang matematika yang mempelajari struktur, hubungan dan kuantitas. Untuk mempelajari hal-hal dalam aljabar digunakan simbol (biasanya berupa huruf) untuk mempresentasikan bilangan secara umum sebagai sarana penyederhanaan dan alat bantu memecahkan masalah.

Umumnya aljabar berisi kalimat matematika yang memuat variabel-variabel, koefisien atau konstanta. Meskipun merupakan materi yang abstrak, aljabar kini tidak asing lagi bagi siswa disekolah menengah. Adapun klasifikasi aljabar terbagi menjadi 4 kelompok besar yaitu aljabar elementer, aljabar abstrak, aljabar linier dan aljabar universal. Aljabar linier mempelajari tentang sistem persamaan linier dan solusinya, vektor, serta transformasi linier.[10]

Aljabar adalah bentuk persamaan yang terdiri dari variabel (peubah) dan konstanta yang dihubungkan dengan tanda operasi hitung serta tidak menggunakan tanda sama dengan.

Contoh bentuk aljabar:

1.   

2.   

3.   

4.   

Hal tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:          
              

     a

Sebuah daerah pada gambar ilustrasi diatas dapat dinyatakan sebagai berikut: .[11] Bentuk aljabar terdiri atas variabel, konstanta, koefisien dan suku. Variabel dan konstanta, kombinasi keduanya melalui berbagai operasi seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan operasi campuran.

Contohnya:

1)  

2)  

Istilah yang harus dipahami adalah [12]:

a)    Variabel, pengganti bilangan yang masih dicari, misalnya dilambangkan dengan a, b, x, y dan lain-lain.

b)   Konstanta, bagian dari bentuk aljabar yang tidak memuat variabel.

c)    Koefisien, konstanta dari suatu suku.

d)   Suku, variabel beserta koefisien atau konstanta pada bentuk aljabar yang dipisahkan oleh tanda operasi hitung.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengerjakan operasi hitung aljabar adalah:

a)    Penjumlahan dan pengurangan.

1)    Suku-suku yang sejenis.

2)    Sifat yang distributif perkalian terhadap penjumlahan dan   pengurangan.

3)    Hasil perkalian dua bilangan bulat positif dan negatif.

Setelah memperhatikan ketiga hal diatas, hasil operasi hitung aljabar dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih sederhana dengan memperhatikan suku-suku yang sejenis.

b)   Perkalian.

1)  

2)  

3)  

4)  

                        

c)    Pembagian

Jika bentuk aljabar memiliki faktor-faktor yang sama, maka hasil pembagia kedua bentuk aljabar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk yang sederhana dengan memperhatikan faktor-faktor yang sama. Bentuk aljabar dan  memiliki faktor yang sama yaitu a, sehingga hasil pembagian 7a dengan a dapat disederhanakan, yaitu  Demikian pula pada  dan  yang memiliki faktor yang sama yaitu 2y, . Namun perlu disadari, penyederhanaan itu berlaku hanya bila pembagiannya tidak nol. Dalam contoh di atas berturt – turut,  dan .

Selain itu diperlukan juga materi tentang pembagian dan perkalian bilangan berpangkat, yaitu untuk bilangan bulat  dengan pangkat  dan n selalu berlaku:

.

Setelah memperhatikan ketiga hal diatas hasil operasi hitung aljabar dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih sederhana dengan memperhatikan suku-suku yang sejenis.

4.    Blok Aljabar

Blok aljabar merupakan salah satu model media pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu menarik minat dan meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika materi Faktorisasi Suku Aljabar. Wahyudi dalam “Ensiklopedia Matematika (Topik-Topik Pengayaan Untuk SLTP)”, menjelaskan bahwa dalam melakukan operasi hitung aljabar seperti penjumlahan dan perkalian dapat dilakukan dengan bentuk  Blok Aljabar. Begitu pula hanya dengan operasi pemaktoran. Sedangkan untuk operasi pembagian belum dapat diterapkan penggunaan Blok Aljabar ini.

Blok aljabar merupakan sebuah alat bantu untuk menghitung operasi suku-suku aljabar. Blok aljabar terdiri dari tiga bagian, yaitu:

a.    Blok untuk lambang -an

b.    Blok unntuk lambang -an

c.    Blok untuk lambang satuan.

Bentuk Blok Aljabar

Gambar 2.1

 

 


Blok            Blok x      Satuan

Sebagai bilangan bulat yang terdiri dari bilangan positif dan negatif, Blok Aljabar ini pun demikian, ada yang bermakna positif dan ada yang negatif. Pasangan positif dan negatif blok ini disebut sebagai pasangan nol blok.[13]

dan

dan                              

dan                                                                                                                                                                                                    Blok yang tidak diarsir bermakna positif, sedangkan blok yang diarsir bermakna negatif. Sebagaimana halnya bilangan bulat positif dan negatif yang saling meniadakan ketika bertemu dalam suatu kalimat matematika, pasangan nol blok pun akan saling meniadakan ketika bertemu dalam suatu kalimat terbuka. Contoh:

 

 

a)   Operasi Penjumlahan.

Contoh:

                             

 


b)   Operasi Pengurangan

Contoh:

 

 


c)    Operasi Perkalian

Pada operasi perkalian dengan blok aljabar digunakan prinsip luas persegi panjang atau persegi, dimana luas persegi panjang adalah panjang kali lebar  dan luas persegi adalah sisi kali sisi .

Contoh:

 

 

 5

 

  5

 

x          2                        x       2                                       7x              10                                                              10

 

d)   Pemfaktoran

Bentuk-bentuk aljabar yang dapat difaktorkan dengan blok adalah:

 

1.   

2.   

3.   

Contoh:

1)  

 

 


2)  

 


3)  

 

 


4)  

 

 


 

5.    Minat Belajar Siswa

Minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala seperti: gairah, keinginan, semangat, perasaan, suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain minat belajar adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (warga belajar) terhadap proses belajar yang dijalaninya dan yang kemudian ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam mengikuti proses belajar yang ada.[14]

Dengan adanya minat, mampu memperkuat ingatan seseorang terhadap apa yang telah dipelajarinya. Sehingga dapat dijadikan sebuah pondasi seseorang dalam proses pembelajaran dikemudian hari. Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar, motif yang menggunakan dan menyelidiki dunia luar. Menurut Edy Syahpurta, seorang siswa yang memiliki minat belajar ditandai dengan:

a.    Rasa lebih suka terhadap belajar dari pada kegiatan lain.

b.    Rasa keterkaitan terhadap kegiatan belajar.

c.    Menyukai kegiatan akademis, dan

d.   Memiliki partisipasi yang tinggi terhadap belajar.[15]

Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa minat merupakan rasa suka atau tertarik terhadap suatu hal atau aktifitas seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu kegiatan, dan minat juga dikatakan sebagai suatu keinginan atau kemauan yang merupakan dorongan seseorang untuk melakukan suatu hal atau aktifitas tanpa adanya paksaan dari luar dirinya.

6.    Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah mereka menerima pengalaman belajar dalam proses pembelajaran. Prestasi belajar pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah mengikuti kegiatan belajar. Prestasi belajar biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, simbol, huruf ataupun kalimat. Adapun hasil belajar siswa dapat diartikan sebagai nilai yang diperoleh siswa selama kegiatan belajar mengajar. Secara umum pengertian hasil belajar adalah perubahan perilaku dan kemampuan secara keseluruhan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik yang disebabkan oleh pengalaman dan bukan hanya salah satu aspek potensi saja. [16] 

Hasil belajar seseorang dapat ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku yang ditampilkan dan dapat diamati antara sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan belajar. Jadi hasil belajar adalah merupakan penilaian hasil-hasil kegiatan belajar pada diri siswa setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar tersebut berupa pengalaman yang menyangkut segi kognitif, afektif, dan psikomotorik.[17] Akan tetapi dari ketiga domain diatas yang menjadi objek peneliti adalah ranah kognitif.

Menurut Purwanto didalam buku Motivasi Berprestasi dan Disiplin Peserta Didik Serta Hubungannya dengan Hasil Belajar, karangan Mirdanda Arsyi bahwa “Yang dapat mempengaruhi hasil belajar terdiri dari faktor dari dalam diri peserta didik (intern) dan faktor dari luar diri peserta didik (ekstern)”. Faktor dari dalam dalam yakni fisiologi dan psikologi sedangkan faktor dari luar yakni lingkungan dan instrumental. Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu:

1)   Fakor Intern.

a)    Faktor Fisiologis, terdiri dari kondisi fisiologis, kondisi panca indra.

b)   Faktor Psikologi, terdiri dari minat kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan kognitif.

2)   Faktor ekstern

a)    Faktor lingkungan, terdiri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial.

b)   Faktor instrumental, terdiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas guru.

Slameto menyatakan didalam buku Mirdanda Arsyi yang berjudul Motivasi Berprestasi dan Disiplin Peserta Didik Serta Hubungannya dengan Hasil Belajar bahwa “Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua yakni faktor intern (jasmaniah, psikologi dan kelelahan) dan ekstern (keluarga, sekolah, masyarakat)”.[18]

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dapat dinyatakan dengan simbol-simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan kualitas kegiatan individu dalam proses tertentu. Dengan membandingkan antara tingkah laku sebelum dan sesudah melaksanakan belajar dapat ditentukan seberapa besar hasil belajar yang dicapai seseorang.

B.  Penelitian terdahulu

Untuk memperkuat penelitian ini, maka diambil penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini adalah:

1.    Rif’atul Muthi’ah, dari prodi matematika FTIK IAIN Antasari dengan judul “Penggunaan Blok Aljabar Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams – Achievement Divisions (STAD) Pada Materi Faktorisasi Suku Aljabar Di Kelas VIII MTs Siti Mariam Banjarmasin Tahun Pelajaran 2014/2015”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir matematis siswa meningkat dimana pembelajaran dengan menggunakan alat peraga lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran yang tidak menggunakan alat peraga (monoton).[19] Kelemahan dalam penelitian ini yaitu belum mampu meninjau kemampuan komunikasi matematika siswa secara individu dan keberanian siswa dalam mengungkapkan gagasan maupun tanggapan dalam belajar belum terlihat.

2.    Christiana Erlin Disasmitowati, dari prodi matematika Universitas Sanata Dharma dengan judul “Penggunaan Blok Aljabar Untuk Membelajarkan Persamaan Kuadrat Dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dapat menentukan akar-akar persamaan kuadrat dengan menggunakan cara pemfaktoran dan menyelesaikan masalah nyata terkait dengan persamaan kuadrat dengan pemfaktoran.[20] Kelemahan dalam penelitian ini yaitu hanya berfokus pada pendekatan PMR pembelajaran pemfaktoran pada materi persamaan kuadrat saja.

3.    Nurul Astuty Yensi, dari prodi matematika JPMIPA FKIP UNIB dengan judul “Penerapan Active Learning Dengan Menggunakan Blok Aljabar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIB Pada Materi Persamaan Kuadrat”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan active learning dengan menggunakan alat peraga pada pokok bahasan persamaan kuadrat dapat memberikan respon positif pada mahasiswa pendidikan matematika Universitas Bengkulu, dan membuat kerjasama antar mahasiswa lebih baik dan memberikan suasana baru dalam belajar.[21] Kelemahan dalam penelitian ini yaitu hanya berfokus pada aspek kognitif yaitu mengetahui materi (C1), memahami (C2), dan mengevaluasi materi (C6).

Berdasarkan uraian diatas adapun perbedaan yang ada dalam penelitian ini adalah:

1.    Model pembelajaran kooperatif, dimana pada model pembelajaran kooperatif  yang digunakan oleh Rif’atul Muthi’ah menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Teams – Achievement Divisions (STAD), pada penelitian Christiana Erlin Disasmitowati menggunakan Pendekatan Matematika Realistik (PMR), pada penelitian Nurul Astuty Yensi menggunakan Penerapan Active Learning, sdangkan dalam penelitian ini menggunakan model pembelajaran kooperatif kelompok kecil dan tanya jawab tercepat setiap kelompok.

2.    Materi, dimana materi yang digunakan oleh Christiana Erlin Disasmitowati dan Nurul Astuty Yensi adalah persamaan kuadrat, pada penelitian Rif’atul Muthi’ah menggunakan materi faktorisasi suku aljabar dan meskipun materi penelitian sama tetapi penyampaian dan model pembelajaran yang digunakan berbeda.

3.    Tempat, dimana tempat penelitian yang akan dilaksanakan oleh Rif’atul Muthi’ah adalah MTs Siti Mariam Banjarmasin, kemudian tempat penelitian yang dilakukan oleh Christiana Erlin Disasmitowati adalah SMP N 12 Yogyakarta, dan tempat penelitian yang dilakukan Nurul Astuty Yensi adalah Mahasiswa Universita Bengkulu semester IA angkatan 2012 pendidikan matematika, sedangkan tempat yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara berada di daerah Gunung Tua Desa Sigama.   

C.  Kerangka Berpikir

Proses belajar disekolah adalah proses yang sifatnya  kompleks dan menyeluruh. Beberapa kendala yang terdapat dalam proses belajar mengajar adalah kurangnya keterampilan guru menyampaikan materi kepada siswa dan kemampuan siswa yang beragam dalam memahami materi. Dua permasalahan tersebut akhirnya menimbulkan masalah yang baru bagi siswa yaitu membuat minat dan kepedulian siswa terhadap pelajaran matematika semakin menurun. Daya serap siswa dalam memahami materi turut menjadi rendah, mengakibatkan prestasi belajar siswa rendah pula.

Guru kurang dalam memperhatikan siswa terhadap apa yang dibutuhan siswa sehingga jarang sekali mengubah cara pembelajaran konvensional yang sering dilakakukan. Dengan pelajaran yang sama dalam setiap pertemuan, tentunya siswa akan merasa bosan dan minat belajarnya akan menurun. Selain itu kemampuan dan cara belajar siswa yang berbeda-beda mengakibatkan perlunya strategi pembelajaran yang aktif untuk meningkatkan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika.

Model pembelajaran kooperatif (kelompok) merupakan salah satu strategi pembelajaran aktif yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan sistem belajar kelompok ini guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan, atau sejauh mana hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Disamping itu strategi ini dapat mengubah aktifitas kelas menjadi menarik dan menyenangkan.

Materi Faktorisasi Suku Aljabar adalah materi yang cukup abstrak bagi siswa. Guru perlu mencari solusi dari masalah  ini seperti menyimbolkan sesuatu yang abstrak dengan benda yang konkrit agar siswa dapat cepat menyerap materi yang disampaikan. Untuk membuat materi Faktorisasi Suku Aljabar tampak lebih konkrit bagi siswa dibutuhkan alat peraga atau media yang tepat.

Blok Aljabar merupakan media atau model yang sesuia untuk membantu siswa memfaktorkan bentuk aljabar. Dengan Blok Aljabar siswa akan merasa visualisasi (mengungkapkan gagasan) variabel-variabel yang abstrak pada bentuk fisik Blok Aljabar tersebut. Dengan demikian siswa akan lebih mudah dalam berfikir dan merasa senang seperti bermain.

Berdasarkan kerangka berfikir tersebut, maka digambarkan kerangka berfikir Ssebagai berikut:

Skema Kerangka Berfikir

Gambar 2.2

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional

Pembelajaran kurang optimal

Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan blok aljabar

Meningkatkan hasil belajar

Kondis akhir

perlakuan

Kondisi awal

 

 

 

 

 

 

 

 


D.  Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji akan kebenarannya. Berdasarkan hal tersebut hipotesis penelitian ini yaitu: “Penerapan model pembelajaran kooperatif disertai dengan penggunaan blok aljabar dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VIII M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara”.



[1]Saifuddin Mahmud dan Muhammad Idham, “Srategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia”, Tesis, (Bandung: Syiah Kuala University Press, 2017), hlm. 15 – 16.

[2]Fahrurrozi dan Syukrul Hamdi, Metode Pembelajaran Matematika (NTB: Universitas Hamzanwadi Press, 2017), hlm. 8.

[3] Yuharsimi, “Pendekatan Realistik dalam Pembelajaran Matematika”, Jurnal Peluang, volume 1, No. 1, Oktober 2012.

[4]Lefudin, Belajar dan Pembelajaran (Yogyakarta: Deepublish, 2017), hlm. 172 - 173.

[5]Siti Mina Tamah, “Pernak – Pernik Kinerja Kelompok Berbasis Pembelajaran Kooperatif” Tesis, (Surabaya: Universitas Katolilk Widya Mandala, 2017), hlm. 20 – 22.

[6]Pardi Kururu, “Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses alam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Belajar IPA Siswa SLTP” www.dediknas.co.id, diakses 06 Agustus 2020 pukul 10.15 WIB.  

[7]Aris Kurniawan, “Pembelajaran Kooperatif” https://www.gurupendidikan.co.id/pembelajaran-kooperatif, diakses 02 Juni 2021 Pukul 10.08 WIB 

[8]Zuriatun Hasana, “Model Pembelajaran Kooperatif Dalam Menumbuhkan Kreatif Belajar Siswa”, Jurnal Studi Kemahasiswaan, vol. 1 no. 1 2021 (https://jurnal.stituwjombang.ac.id/index.php/irsyaduna, diakses 11 Juni 2021 pukul 10.40 WIB).

[9]M. Cholik A. Sugijono, Matematika Untuk SMP Kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 4 – 24. 

[10]Netty J. Marlin Gella dan Yusak , Aljabar Linier Dasar Berbasis IT (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2020), hlm. 1.

[11]Joko Untoro, Buku Pintar Matematika SMP Untuk Kelas 1, 2 dan 3 (Jakarta: Wahyu Media, 2017), hlm. 69. 

[12]Prasetya Adhi Nugroho dan Dedy Gunarto, Soal – Bahas Matematika SMP/MTs Kelas VII, VIII & IX (Jakarta Selatan: Wahyu Media, 2013), hlm. 151.

[13]Wahyudin dan Sudrajad, Ensiklopedia Matematika (Jakarta: C.V Tarity Samudra Berlian, 2004), hlm. 118 – 119.

[14]Indah Lestari, “Pengaruh Waktu Belajar Dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 3, no. 2 (2015): hlm,115–25, https://doi.org/10.30998/formatif.v3i2.118.

[15]Edy Syahputra, Snowball Throwing Tingkatkan Minat Dan Hasil Belajar (Sukabumi: Haura Publishing, 2020), hlm. 12 – 14.

[16]Endang Sri Wahyuni, Model Pembelajaran Mastery Learning Upaya Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa (Yogyakarta: Deepublish,2020), hlm. 65.

[17]Endang Sri Wahyuni, Model Pembelajaran…, hlm. 65.

[18]Mirdanda Arsyi, Motivasi Berprestasi dan Disiplin Peserta Didik Serta Hubungannya dengan Hasil Belajar (Pontianak: Yudha English Gallery, 2018), hlm. 36 - 37.

[19]Rif’atul Muthi’ah, “Penggunaan Blok Aljabar Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) Pada Materi Faktorisasi Suku Aljabar Di Kelas VIII MTs Siti Mariam Banjarmasin Tahun Pelajaran 2014/2015” Skripsi Banjarmasin 2014.

[20]Christiana Erlin Disasmitowati, dari prodi matematika Universitas Sanata Dharma dengan judul “Penggunaan Blok Aljabar Untuk Membelajarkan Persamaan Kuadrat Dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik” Tesis Yogyakarta 2020.

[21]Nurul Astuty Yensi, “Penerapan Active Learning Dengan Menggunakan Blok Aljabar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIB Pada Materi Persamaan Kuadrat”, Skripsi JPMIPA FKIP UNIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...