BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan
pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan
dirinya, sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam
kehidupan.[1] Pendidikan bagi manusia adalah proses menemukan dan mengembangkan
diri sendiri dalam keseluruhan dimensi kehidupan. Pendidikan adalah interaksi
antara pendidik dengan peserta didik
agar mencapai tujuan pendidikan tersebut. Fungsi pendidikan adalah untuk
membimbing peserta didik agar mendapatkan pengetahuan dan keterampilan serta
memiliki sikap yang benar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak
hanya mempersiapkan para siswanya untuk profesi atau jabatan tetapi juga untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.[2]
Pendidikan
adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan
berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan.
Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan
pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal dan
pengetahuan yang lebih banyak.
2
1. Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep atau algoritma secara
luas, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membantu
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.
3. Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang di peroleh.
4. Memilliki
sikap yang merhargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa
ingin tahu, perhatian, minat dalam mempelajari matematika, serta sikap yang
baik dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dalam buku “Media Pembelajaran”
mengungkapkan bahwa pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses
komunikasi. Kegiatan belajar mengajar dikelas merupakan suatu dunia komunikasi
tersendiri dimana pendidik dan anak didik bertukar pikiran untuk mengembangkan
ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering terjadi permasalahan-permasalahan
sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien. Hal tersebut disebabkan
kecenderungan verbalisme, ketidak siapan anak didik, kurangnya minat, dan
sebagainya. Salah satu untuk mengatasi keadaan ini adalah penggunaan media atau
alat peraga dalam proses belajar mengajar.[3]
Materi
aljabar sudah mulai diberikan pada pendidikan menengah tingkat pertama semester
pertama, khususnya untuk kelas VIII SMP/MTs.[4]
Selain materi aljabar terdapat juga materi tentang pola dan barisan bilangan,
sistem persamaan linier dua variabel, teorema pyhtagoras, garis singgung
lingkaran dan sudut pusat. Dari beberapa pelajaran yang dilewati, siswa merasa
kesulitan pada materi pemfaktoran suku aljabar, dimana siswa merasa bingung
dengan huruf-huruf yang terdapat dalam buku dan penjelasan guru juga
yang tidak mendukung dengan huruf yang abstark tersebut. Materi faktorisasi
suku aljabar merupakan materi yang abstrak bagi peserta didik kelas VIII
SMP/MTs, kurang memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan. Meskipun
pada usia tersebut peserta didik memasuki fase operasi konkrit dan berkembang
ke fase operasi formal yang berarti peserta didik mulai mampu memecahkan
persoalan dalam pikirannnya, namun pada dasarnya mereka masih belum mampu
memecahkan permasalahan yang belum pernah dihadapi.
Hasil belajar merupakan suatu hal yang dapat dilihat dan diukur,
hal ini sesuai menurut Oemar Hamalik bahwa: “Hasil belajar terlihat pada
perubahan tingkah laku pada siswa yang dapat diamati dan terukur dalam bentuk
perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut diartikan
sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik”. Hasil belajar
adalah puncak dari kegiatan belajar yang menghasilkan perubahan dalam
pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan tingkah laku (psikomotor) yang
berkesinambungan dan dinamis serta dapat diukur atau diamati. Matematika adalah
ilmu tentang bilangan, bangun, hubungan-hubungan konsep, dan logika dengan
menggunakan bahasa atau simbol dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam
kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan suatu proses belajar mengajar yang mana dalam proses
tersebut terjadi interaksi antara guru dan siswa yaitu adanya penyampaian
pengetahuan atau ilmu yang bertujuan untuk mencapainya suatu perubahan
perilaku, kemampuan dan keterampilan.[5]
Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Merihat Evawana salah satu
guru mata pelajaran matematika di kelas VIII di M.Ts Negeri 2 Padang Lawas
Utara diperoleh data bahwa Kriteria Ketuntusan Minimal (KKM) yang ditetapkan
oleh M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara adalah 75, sementara berdasarkan hasil
evaluasi siswa yang kebanyakan masih rendah dari yang sudah paham yang masih
belum mencapai nilai KKM (75%)
dikarenakan masih kebanyakan siswa yang kurang kemampuan dasar
matematikanya, misalnya dalam menjumlah, mengurang, membagi, dan perkalian
padahal itu kemampuan yang harus dimiliki siswa sewaktu masih di sekolah dasar.
Dalam kegiatan pembelajaran ketika guru menerangkan dan ditanya apakah mereka
sudah memahami pelajaran mereka hanya sedikit yang menjawab, sehingga sulit
mengetahui apakah mereka sudah faham dengan materi yang sedang disampaikan dan
juga masih banyak siswa yang lambat memahami materi dikarenakan masih ada guru
yang menggunakan model pembelajaran konvesional.[6]
Berdasarkan
hasil wawancara siswa yang bernama Siti Aisyah, menyatakan bahwa pelajaran matematika ialah pelajaran yang sulit karena selalu
mengaitkan dengan banyaknya rumus, sehingga ia mudah bosan dan kurang memahami
pelajaran tersebut, maka dari itu diperlukan model pembelajaran yang dapat
mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar dapat memancing kemampuan
berpikir.[7]
Selanjutnya
berdasarkan wawancara siswa yang bernama Elina Harahap menyatakan bahwa pelajaran matematika menyenangkan jika dilakukan dengan rileks dan
tidak gugup karena mereka hanya terfokus pada rumus-rumus saja, dan
melibatkan siswa itu sendiri agar terjadi interaksi dengan guru agar siswa itu
sendiri tidak mengantuk dan mudah bosan.[8]
Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa pembelajaran matematika
dilakukan kurang melibatkan siswa sehingga tidak keseluruhan siswa ikut bagian
dalam kegiatan pembelajaran, dan itu dikarenakan juga karena kemampuan dasar
siswa yang masih kurang dan masih menggunakan model pembelajaran konvesional
dan kurangnya buku pelajaran matematika, sehingga siswa kurang merespon materi
yang diberikan guru, itu terlihat ketika peneliti mewawancarai salah satu siswa
dan saya menanyakan materi apa yang baru saja dipelajari, dan siswa tersebut
tidak mengetahui apa materi yang
dipelajari.
Berbeda dengan setelah peneliti menggunakan model pembelajaran
kooperatif menggunakan blok aljabar, yang dimana siswa kelihatan lebih
bersemangat dalam pembelajaran, lebih berkonsentrasi, dan kreatif dalam
belajar. Selama proses pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran
kooperatif menggunakan blok aljabar, siswa lebih cepat menangkap pelajaran dan
memahami materi yang disampaikan, kelihatan diwaktu peneliti menguji siswa
dengan membuat siswa menjawab soal yang dibuat dipapan tulis dan menguji siswa
dengan jawaban langsung dengan pertanyaan yang disampaikan peneliti. Dari model
pembelajaran kooperatif menggunakan blok aljabar membuat minat siswa dan hasil
belajar yang semakin meningkat. [9]
Blok
aljabar merupakan suatu model
pembelajaran yang berorientasi pada masalah dunia nyata untuk membantu siswa
mengembangkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah yang dikombinasikan
dengan alat peraga, pemberian pernyataan yang bersifat menggali, mengarahkan,
serta menuntun sehingga siswa dapat memperoleh informasi serta pengetahuan.
[10]
Dengan masalah siswa dalam pembelajaran matematika yang disampaikan
guru dimana sebagian siswa kurang memahami materi yang disampaikan, dengan
model pembelajaran kooperatif menggunakan blok aljabar membuat siswa lebih
memahami materi yang disampaikan, karena dengan model pembelajaran ini membuat
siswa lebih kreatif dalam belajar, bisa bertukar pikiran dengan teman satu
kelompok dan paham dengan materi yang disampaikan. Berbeda dengan pembelajaran
sebelum menggunakan model kooperatif menggunakan blok aljabar, yang membuat
siswa bosan dan tidak paham dengan materi yang dijelaskan. Pembelajaran
berbasis masalah dengan menggunakan metode blok aljabar juga dapat memotivasi
siswa untuk memahami suatu permasalahan dengan lebih mendalam, sehingga siswa
mampu mencapai jawaban yang dituju.
Muhibin
Syah dalam buku “psikologi pendidikan”
(Dengan Pendekatan Baru) menyatakan bahwa fasilitas fisik memiliki pengaruh
besar dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Hal ini terbukti dengan
kurang memadainya hasil pembelajaran para siswa yang bersekolah didaerah-daerah
tertinggal karena secara praktis mereka menghadapi masalah dalam penyediaan
fasilitas tersebut.[11]
Penting bagi guru untuk memilih metode yang sesuai dalam kegiatan belajar
mengajar dan sebaiknya guru tidak menggunakan satu metode saja dalam
melaksanakan pembelajaran dalam kurun waktu yang panjang. Guru harus
menggunakan metode yang bervariasi agar pengajaran tidak berjalan membosankan
dan dapat menarik perhatian anak didik untuk mengikuti pembelajaran. Metode
pembelajaran memiliki kedudukan dalam proses kegiatan belajar mengajar yaitu
sebagai alat motivasi ekstrinsik yang artinya metode dapat berfungsi sebagai
alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan minat seseorang dalam
belajar.[12]
Salah
satu metode yang baik untuk digunakan dalam pembelajaran matematika adalah
pembelajaran model kooperatif. Suparlan dalam artikelnya mengatakan: “Gunakan
metode kelompok kecil dalam proses pembelajaran. Manusia adalah makhluk sosial, homo social. Tidak seorangpun manusia yang dapat hidup sendiri,
tanpa bantuan orang lain. Salah satu pilar pendidikan menurut UNESCO adalah “learning to live together” atau
belajarlah untuk hidup bersama orang lain. Oleh karena itu, pembelajaran
matematikapun memerlukan kerja sama dengan orang lain. Metode kelompok kecil
memerlukan salah satu metode mengajar matematika”.[13]
Pembelajaran
kooperatif dapat menjadi pondasi yang baik untuk meningkatkan dorongan
berprestasi siswa. Pembelajaran model kooperatif akan memberi kesempatan kepada
siswa untuk mendiskusikan suatu masalah, mendengarkan pendapat orang lain dan
memacu siswa untuk bekerjasama, saling membantu untuk memecahkan masalah.
Berdasarkan
beberapa alasan diatas akhirnya peneliti mengangkat penelitian di M.Ts Negeri. 2 Padang Lawas Utara dengan
judul “Penggunaan Blok Aljabar Dengan Metode Pembelajaran Kooperatif Untuk
Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika”.
B. Identifikasi Masalah
Memahami latar belakang diatas, maka
dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:
1.
Siswa
menganggap matematika merupakan pelajaran yang kurang disenangi.
2.
Guru tidak menggunakan
alat peraga atau media pembelajaran berupa benda konkrit yang membantu siswa
memahami konsep dan menyelesaikan permasalahan tersebut.
3. Rendahnya
minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.
4. Kurangnya
fasilitas sekolah berupa buku pelajaran matematika dan guru yang monoton dalam
menjelaskan sehingga minat siswa dalam mengikuti pembelajara tidak ada.
5.
Rendahnya
pemahaman siswa dalam saat proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa
tidak seperti yang diharapkan.
6.
Proses
belajar yang kurang efektif, metode atau model pembelajaran yang konvensional
atau metode ceramah.
C. Batasan
Masalah
Peneliti
menyadari adanya keterbatasan yang dimiliki seperti waktu, tenaga, biaya dan
kemampuan dalam melakukan penelitian. Maka peneliti membatasi masalah pada
penelitian ini yaitu masalah minat dan hasil belajar siswa menggunakan blok
aljabar dengan model pebelajaran kooperatif kelas VIII M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara.
D. Batasan
Istilah
Adapun batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Blok
aljabar merupakan suatu model
pembelajaran yang berorientasi pada masalah dunia nyata untuk membantu siswa
mengembangkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah yang dikombinasikan
dengan alat peraga, pemberian pernyataan yang bersifat menggali, mengarahkan,
serta menuntun sehingga siswa dapat memperoleh informasi serta pengetahuan.[14]
b.
Model
pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan eksistensi
kelompok. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kolaborasi dalam
memecahkan masalah untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai
tujuan pembelajaran, dengan demikian metode
pembelajaan kooperatif ini menjadi solusi yang sangat baik dalam proses
pemebelajaran dilaksanakan.[15]
c.
Hasil
belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan
saja perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan dan
penghargaan dalam diri pribadi yang belajar. Minat
merupakan rasa suka atau tertarik terhadap suatu hal atau aktifitas seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan suatu kegiatan, dan minat juga dikatakan
sebagai suatu keinginan atau kemauan yang merupakan dorongan seseorang untuk
melakukan suatu hal atau aktifitas tanpa adanya paksaan dari luar dirinya. [16]
Dari uraian tersebut peneliti menarik kesimpulan bahwa minat dan
hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya yang baru.
E. Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
“Apakah penggunaan blok aljabar dengan model pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan minat dan hasil belajar
faktorisasi bentuk aljabar siswa kelas VIII M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara”?.
F. Tujuan Penelitian
Tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat dan hasil belajar matematika siswa
kelas VIII M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara pada materi Faktorisasi Suku
Aljabar menggunakan metode pembelajaran kooperatif dengan alat peraga blok
aljabar.
G. Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian ini mempunyai beberapa manfaat, antara lain adalah:
1. Bagi
penulis, penelitian ini menjadi awal yang baik untuk mengasah dan mengembangkan
kemampuan diri sebagai calon pendidik ataupun peneliti.
2. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi guru
atau pendidik tentang pentingnya menggunakan media atau alat peraga dalam
pembelajaran.
3. Setelah
melaksanakan penelitian ini, diharapkan minat belajar siswa dalam pembelajaran
matematika lebih besar dari pada sebelum melaksanakan penelitian, serta dapat
lebih memahami bahwa matematika memiliki sisi lain yang menarik dan
menyenangkan.
4. Penelitian
ini diharapkan dapat memberi sumbangan sekaligus wawasan ilmu pengetahuan dan
pengalaman bagi peneliti – peneliti lain yang ingin mengembangkan dan
meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
H.
Sistematika
Pembahasan
Sistematika pembahasan penelitian ini terdiri dari tiga bab yang
terdiri dari sub bab dengan rincian sebagai berikut:
Bab I menjelaskan pendahuluan mengenai latar belakang masalah,
identifikasi masalah, batasan masalah, batasan istilah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, indikator tindakan, dan manfaat penelitian
Bab II menjelaskan tentang kajian teori, penelitian terdahulu,
kerangka teori dan hipotesis tindakan.
Bab III mengkaji tentang metode penelitian, lokasi dan waktu
penelitian, jenis penelitian, latar dan subjek penelitian, desain rencana
penelitian, tahapan tindakan penelitian, teknik pengumpulan data, dan indikator
keberhasilan.
Bab
IV, merupakan hasil penelitian yang mencakup keseluruhan uraian temuan
penelitian yang akan menjadi jawaban dari permasalahan penelitian yang telah
dirumuskan. Adapun isi dari hasil penelitian meliputi deskripsi data, pengujian
persyaratan analisis, uji hipotesis, pembahasan, dan keterbatasan penelitian.
Bab
V, merupakan penutup yang mencakup dari kesimpulan dan saran-saran.
[1]Muhammad
Soleh, Pokok – Pokok Pengajaran
Matematika Sekolah (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998),
hlm. 7.
[2]Elsa Susanti, “Penerapan Model Pembelajaran Probing
Prompting Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas
XI. IPA MAN 1 Kota Bengkulu,” Journal of
Chemical Information and Modeling 53, No. 9 (2013): 1689–99,
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.
[4]M.
Cholik dan A. Sugijono, Matematika Untuk SMP Kelas VIII
(Jakarta: Erlangga, 2004), hlm, iii.
[5]Huri Suhendri, “Pengaruh Kecerdasan Matematis–Logis
Dan Kemandirian Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA
1, no. 1 (2011): 29 – 39, https://doi.org/10.30998/formatif.v1i1.61.
[6]Merihat
Evawana, Guru Matematika Kelas VIII, Wawancara di M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara Hari sabtu,
Tanggal 17 Oktober, Pada Pukul 10:30 WIB
[7]Siti
Aisyah Siswa Kelas VIII-2 Sains, Wawancara di Siunggam Jae Pada Hari
Minggu, Tanggal 25 Oktober, Pada Pukul 16:50 WIB
[8]Elina
Harahap Kelas VIII-2 Sains, Wawancara di Siunggam Jae Pada Hari Minggu,
Tanggal 25 Oktober, Pada Pukul 17:00 WIB
[9]Hasil
Observasi Peneliti di Siungam Jae, 28 Oktober 2020.
[10]Nurul
Astuty, “Penerapan Active Learning Dengan Menggunakan Blok Aljabar Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIB Pada Materi
Persamaan Kuadrat” Skripsi (Lampung: Universitas Lampung, 2013), hlm. 6.
[11]Muhibin
Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 249.
[12]Syaiful
Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Straegi
Belajar Mengajar (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996), hlm. 83.
[13]Suparlan,
“Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan menyenangkan” http://www.suparlan.com/v5/pages/posts/kilas-balik-pppg-matematika-tahhun-2004,
diakses 06 Agustus 2020 puku 10.05 WIB.
[14]Nurul
Astuty, “Penerapan Active Learning…, hlm. 6.
[15]Siti
Mina Tamah, “Pernak – Pernik Kinerja
Kelompok Berbasis Pembelajaran Kooperatif” Tesis, (Surabaya: Universitas Katolilk Widya Mandala, 2017), hlm.
20 – 22.
[16]Indah Lestari, “Pengaruh Waktu Belajar Dan Minat
Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Formatif:
Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 3, no. 2 (2015): hlm,115–25,
https://doi.org/10.30998/formatif.v3i2.118.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar