Senin, 20 Juni 2022

BAB I PENGGUNAAN BLOK ALJABAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupan.[1] Pendidikan bagi manusia adalah proses menemukan dan mengembangkan diri sendiri dalam keseluruhan dimensi kehidupan. Pendidikan adalah interaksi antara pendidik  dengan peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan tersebut. Fungsi pendidikan adalah untuk membimbing peserta didik agar mendapatkan pengetahuan dan keterampilan serta memiliki sikap yang benar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk profesi atau jabatan tetapi juga untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.[2]

Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal dan pengetahuan yang lebih banyak.


2

Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs), jam pelajaran matematika dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu 4 jam perminggu. Tujuan pembelajaran matematika di jenjang SMP dan MTs menurut Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi, yaitu agar siswa memiliki atau mempunyai kemampuan:

1.    Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep atau algoritma secara luas, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

2.    Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membantu generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3.    Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang di peroleh.

4.    Memilliki sikap yang merhargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, minat dalam mempelajari matematika, serta sikap yang baik dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Pendidikan selalu berhubungan erat dengan proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan peristiwa yang bertujuan. Kemampuan siswa yang berbeda menjadi alasan lain mengapa guru masih tetap mengalami kesulitan dalam menjelaskan materi meskipun ia menguasai materi dan mampu menyampaikan materinya dengan baik. Untuk mengatasi kedua masalah tersebut, penggunaan alat media pembelajaran merupakan solusi dan akan sangat membantu dalam pemecahan masalah tersebut, dengan kata lain pencapaian tujuan yang kita inginkan dalam pembelajaran dapat diwujudkan dengan mempergunakan alat-alat yang sesuai dengan sifat tujuan.

Dalam buku “Media Pembelajaran” mengungkapkan bahwa pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar dikelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana pendidik dan anak didik bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering terjadi permasalahan-permasalahan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien. Hal tersebut disebabkan kecenderungan verbalisme, ketidak siapan anak didik, kurangnya minat, dan sebagainya. Salah satu untuk mengatasi keadaan ini adalah penggunaan media atau alat peraga dalam proses belajar mengajar.[3]

Materi aljabar sudah mulai diberikan pada pendidikan menengah tingkat pertama semester pertama, khususnya untuk kelas VIII SMP/MTs.[4] Selain materi aljabar terdapat juga materi tentang pola dan barisan bilangan, sistem persamaan linier dua variabel, teorema pyhtagoras, garis singgung lingkaran dan sudut pusat. Dari beberapa pelajaran yang dilewati, siswa merasa kesulitan pada materi pemfaktoran suku aljabar, dimana siswa merasa bingung dengan huruf-huruf yang terdapat dalam buku dan penjelasan guru juga yang tidak mendukung dengan huruf yang abstark tersebut. Materi faktorisasi suku aljabar merupakan materi yang abstrak bagi peserta didik kelas VIII SMP/MTs, kurang memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan. Meskipun pada usia tersebut peserta didik memasuki fase operasi konkrit dan berkembang ke fase operasi formal yang berarti peserta didik mulai mampu memecahkan persoalan dalam pikirannnya, namun pada dasarnya mereka masih belum mampu memecahkan permasalahan yang belum pernah dihadapi.

Hasil belajar merupakan suatu hal yang dapat dilihat dan diukur, hal ini sesuai menurut Oemar Hamalik bahwa: “Hasil belajar terlihat pada perubahan tingkah laku pada siswa yang dapat diamati dan terukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik”. Hasil belajar adalah puncak dari kegiatan belajar yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan tingkah laku (psikomotor) yang berkesinambungan dan dinamis serta dapat diukur atau diamati. Matematika adalah ilmu tentang bilangan, bangun, hubungan-hubungan konsep, dan logika dengan menggunakan bahasa atau simbol dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses belajar mengajar yang mana dalam proses tersebut terjadi interaksi antara guru dan siswa yaitu adanya penyampaian pengetahuan atau ilmu yang bertujuan untuk mencapainya suatu perubahan perilaku, kemampuan dan keterampilan.[5]

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Merihat Evawana salah satu guru mata pelajaran matematika di kelas VIII di M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara diperoleh data bahwa Kriteria Ketuntusan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara adalah 75, sementara berdasarkan hasil evaluasi siswa yang kebanyakan masih rendah dari yang sudah paham yang masih belum mencapai nilai KKM (75%)  dikarenakan masih kebanyakan siswa yang kurang kemampuan dasar matematikanya, misalnya dalam menjumlah, mengurang, membagi, dan perkalian padahal itu kemampuan yang harus dimiliki siswa sewaktu masih di sekolah dasar. Dalam kegiatan pembelajaran ketika guru menerangkan dan ditanya apakah mereka sudah memahami pelajaran mereka hanya sedikit yang menjawab, sehingga sulit mengetahui apakah mereka sudah faham dengan materi yang sedang disampaikan dan juga masih banyak siswa yang lambat memahami materi dikarenakan masih ada guru yang menggunakan model pembelajaran konvesional.[6]

Berdasarkan hasil wawancara siswa yang bernama Siti Aisyah, menyatakan bahwa pelajaran matematika ialah pelajaran yang sulit karena selalu mengaitkan dengan banyaknya rumus, sehingga ia mudah bosan dan kurang memahami pelajaran tersebut, maka dari itu diperlukan model pembelajaran yang dapat mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar dapat memancing kemampuan berpikir.[7]

Selanjutnya berdasarkan wawancara siswa yang bernama Elina Harahap menyatakan bahwa pelajaran matematika menyenangkan jika dilakukan dengan rileks dan tidak gugup karena mereka hanya terfokus pada rumus-rumus saja, dan melibatkan siswa itu sendiri agar terjadi interaksi dengan guru agar siswa itu sendiri tidak mengantuk dan mudah bosan.[8]

Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa pembelajaran matematika dilakukan kurang melibatkan siswa sehingga tidak keseluruhan siswa ikut bagian dalam kegiatan pembelajaran, dan itu dikarenakan juga karena kemampuan dasar siswa yang masih kurang dan masih menggunakan model pembelajaran konvesional dan kurangnya buku pelajaran matematika, sehingga siswa kurang merespon materi yang diberikan guru, itu terlihat ketika peneliti mewawancarai salah satu siswa dan saya menanyakan materi apa yang baru saja dipelajari, dan siswa tersebut tidak mengetahui  apa materi yang dipelajari.

Berbeda dengan setelah peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif menggunakan blok aljabar, yang dimana siswa kelihatan lebih bersemangat dalam pembelajaran, lebih berkonsentrasi, dan kreatif dalam belajar. Selama proses pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran kooperatif menggunakan blok aljabar, siswa lebih cepat menangkap pelajaran dan memahami materi yang disampaikan, kelihatan diwaktu peneliti menguji siswa dengan membuat siswa menjawab soal yang dibuat dipapan tulis dan menguji siswa dengan jawaban langsung dengan pertanyaan yang disampaikan peneliti. Dari model pembelajaran kooperatif menggunakan blok aljabar membuat minat siswa dan hasil belajar yang semakin meningkat. [9]  

Blok aljabar merupakan suatu model pembelajaran yang berorientasi pada masalah dunia nyata untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah yang dikombinasikan dengan alat peraga, pemberian pernyataan yang bersifat menggali, mengarahkan, serta menuntun sehingga siswa dapat memperoleh informasi serta pengetahuan. [10]

Dengan masalah siswa dalam pembelajaran matematika yang disampaikan guru dimana sebagian siswa kurang memahami materi yang disampaikan, dengan model pembelajaran kooperatif menggunakan blok aljabar membuat siswa lebih memahami materi yang disampaikan, karena dengan model pembelajaran ini membuat siswa lebih kreatif dalam belajar, bisa bertukar pikiran dengan teman satu kelompok dan paham dengan materi yang disampaikan. Berbeda dengan pembelajaran sebelum menggunakan model kooperatif menggunakan blok aljabar, yang membuat siswa bosan dan tidak paham dengan materi yang dijelaskan. Pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan metode blok aljabar juga dapat memotivasi siswa untuk memahami suatu permasalahan dengan lebih mendalam, sehingga siswa mampu mencapai jawaban yang dituju.

Muhibin Syah dalam buku “psikologi pendidikan” (Dengan Pendekatan Baru) menyatakan bahwa fasilitas fisik memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Hal ini terbukti dengan kurang memadainya hasil pembelajaran para siswa yang bersekolah didaerah-daerah tertinggal karena secara praktis mereka menghadapi masalah dalam penyediaan fasilitas tersebut.[11] Penting bagi guru untuk memilih metode yang sesuai dalam kegiatan belajar mengajar dan sebaiknya guru tidak menggunakan satu metode saja dalam melaksanakan pembelajaran dalam kurun waktu yang panjang. Guru harus menggunakan metode yang bervariasi agar pengajaran tidak berjalan membosankan dan dapat menarik perhatian anak didik untuk mengikuti pembelajaran. Metode pembelajaran memiliki kedudukan dalam proses kegiatan belajar mengajar yaitu sebagai alat motivasi ekstrinsik yang artinya metode dapat berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan minat seseorang dalam belajar.[12]

Salah satu metode yang baik untuk digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pembelajaran model kooperatif. Suparlan dalam artikelnya mengatakan: “Gunakan metode kelompok kecil dalam proses pembelajaran. Manusia  adalah makhluk sosial, homo social. Tidak seorangpun manusia yang dapat hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. Salah satu pilar pendidikan menurut UNESCO adalah “learning to live together” atau belajarlah untuk hidup bersama orang lain. Oleh karena itu, pembelajaran matematikapun memerlukan kerja sama dengan orang lain. Metode kelompok kecil memerlukan salah satu metode mengajar matematika”.[13]

Pembelajaran kooperatif dapat menjadi pondasi yang baik untuk meningkatkan dorongan berprestasi siswa. Pembelajaran model kooperatif akan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan suatu masalah, mendengarkan pendapat orang lain dan memacu siswa untuk bekerjasama, saling membantu untuk memecahkan masalah.

Berdasarkan beberapa alasan diatas akhirnya peneliti mengangkat penelitian di M.Ts Negeri. 2 Padang Lawas Utara dengan judul “Penggunaan Blok Aljabar Dengan Metode Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika”.

B.  Identifikasi Masalah

Memahami latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:

1.    Siswa menganggap matematika merupakan pelajaran yang kurang disenangi.

2.    Guru tidak menggunakan alat peraga atau media pembelajaran berupa benda konkrit yang membantu siswa memahami konsep dan menyelesaikan permasalahan tersebut.

3.    Rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.

4.    Kurangnya fasilitas sekolah berupa buku pelajaran matematika dan guru yang monoton dalam menjelaskan sehingga minat siswa dalam mengikuti pembelajara tidak ada.

5.    Rendahnya pemahaman siswa dalam saat proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa tidak seperti yang diharapkan.

6.    Proses belajar yang kurang efektif, metode atau model pembelajaran yang konvensional atau metode ceramah.

C.  Batasan Masalah

Peneliti menyadari adanya keterbatasan yang dimiliki seperti waktu, tenaga, biaya dan kemampuan dalam melakukan penelitian. Maka peneliti membatasi masalah pada penelitian ini yaitu masalah minat dan hasil belajar siswa menggunakan blok aljabar dengan model pebelajaran kooperatif kelas VIII M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara.

D.  Batasan Istilah

Adapun batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a.    Blok aljabar merupakan suatu model pembelajaran yang berorientasi pada masalah dunia nyata untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah yang dikombinasikan dengan alat peraga, pemberian pernyataan yang bersifat menggali, mengarahkan, serta menuntun sehingga siswa dapat memperoleh informasi serta pengetahuan.[14]

b.    Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan eksistensi kelompok. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kolaborasi dalam memecahkan masalah untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai tujuan pembelajaran, dengan demikian metode pembelajaan kooperatif ini menjadi solusi yang sangat baik dalam proses pemebelajaran dilaksanakan.[15]

c.    Hasil belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan saja perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan dan penghargaan dalam diri pribadi yang belajar. Minat merupakan rasa suka atau tertarik terhadap suatu hal atau aktifitas seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu kegiatan, dan minat juga dikatakan sebagai suatu keinginan atau kemauan yang merupakan dorongan seseorang untuk melakukan suatu hal atau aktifitas tanpa adanya paksaan dari luar dirinya. [16]

Dari uraian tersebut peneliti menarik kesimpulan bahwa minat dan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya yang baru.

E.  Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah penggunaan blok aljabar dengan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan minat dan hasil belajar  faktorisasi bentuk aljabar siswa kelas VIII M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara”?.

F.   Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat dan hasil belajar matematika siswa kelas VIII M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara pada materi Faktorisasi Suku Aljabar menggunakan metode pembelajaran kooperatif dengan alat peraga blok aljabar.

G. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat, antara lain adalah:

1.    Bagi penulis, penelitian ini menjadi awal yang baik untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan diri sebagai calon pendidik ataupun peneliti.

2.    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi guru atau pendidik tentang pentingnya menggunakan media atau alat peraga dalam pembelajaran.

3.    Setelah melaksanakan penelitian ini, diharapkan minat belajar siswa dalam pembelajaran matematika lebih besar dari pada sebelum melaksanakan penelitian, serta dapat lebih memahami bahwa matematika memiliki sisi lain yang menarik dan menyenangkan.

4.    Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan sekaligus wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti – peneliti lain yang ingin mengembangkan dan meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

H.  Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan penelitian ini terdiri dari tiga bab yang terdiri dari sub bab dengan rincian sebagai berikut:

Bab I menjelaskan pendahuluan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, batasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, indikator tindakan, dan manfaat penelitian

Bab II menjelaskan tentang kajian teori, penelitian terdahulu, kerangka teori dan hipotesis tindakan.

Bab III mengkaji tentang metode penelitian, lokasi dan waktu penelitian, jenis penelitian, latar dan subjek penelitian, desain rencana penelitian, tahapan tindakan penelitian, teknik pengumpulan data, dan indikator keberhasilan.

Bab IV, merupakan hasil penelitian yang mencakup keseluruhan uraian temuan penelitian yang akan menjadi jawaban dari permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Adapun isi dari hasil penelitian meliputi deskripsi data, pengujian persyaratan analisis, uji hipotesis, pembahasan, dan keterbatasan penelitian.

Bab V, merupakan penutup yang mencakup dari kesimpulan dan saran-saran.

 



[1]Muhammad Soleh, Pokok – Pokok Pengajaran Matematika Sekolah (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998), hlm. 7.

[2]Elsa Susanti, “Penerapan Model Pembelajaran Probing Prompting Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas XI. IPA MAN 1 Kota Bengkulu,” Journal of Chemical Information and Modeling 53, No. 9 (2013): 1689–99, https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.

        [3]Asnawir, dkk. Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2003), hlm. 13. 

[4]M. Cholik dan  A. Sugijono, Matematika Untuk SMP Kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm, iii. 

[5]Huri Suhendri, “Pengaruh Kecerdasan Matematis–Logis Dan Kemandirian Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 1, no. 1 (2011): 29 – 39, https://doi.org/10.30998/formatif.v1i1.61.

[6]Merihat Evawana, Guru Matematika Kelas VIII, Wawancara di M.Ts Negeri 2 Padang Lawas Utara Hari sabtu, Tanggal 17 Oktober, Pada Pukul 10:30 WIB

[7]Siti Aisyah Siswa Kelas VIII-2 Sains, Wawancara di Siunggam Jae Pada Hari Minggu, Tanggal 25 Oktober, Pada Pukul 16:50 WIB

[8]Elina Harahap Kelas VIII-2 Sains, Wawancara di Siunggam Jae Pada Hari Minggu, Tanggal 25 Oktober, Pada Pukul 17:00 WIB       

[9]Hasil Observasi Peneliti di Siungam Jae, 28 Oktober 2020.

[10]Nurul Astuty, “Penerapan Active Learning Dengan Menggunakan Blok Aljabar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIB Pada Materi Persamaan Kuadrat” Skripsi (Lampung: Universitas Lampung, 2013), hlm. 6.

[11]Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 249.

[12]Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Straegi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996), hlm. 83.

[13]Suparlan, “Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan menyenangkan” http://www.suparlan.com/v5/pages/posts/kilas-balik-pppg-matematika-tahhun-2004, diakses 06 Agustus 2020 puku 10.05 WIB.

[14]Nurul Astuty, “Penerapan Active Learning…, hlm. 6.

[15]Siti Mina Tamah, “Pernak – Pernik Kinerja Kelompok Berbasis Pembelajaran Kooperatif” Tesis, (Surabaya: Universitas Katolilk Widya Mandala, 2017), hlm. 20 – 22.

[16]Indah Lestari, “Pengaruh Waktu Belajar Dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 3, no. 2 (2015): hlm,115–25, https://doi.org/10.30998/formatif.v3i2.118.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...