Kamis, 09 Juni 2022

BAB II PENGARUH COOPERATIVE LEARNING TIPE PROBING PROMPTING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DI SMP NEGERI 1 ANGKOLA BARAT

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.  Kajian Teori

1. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Probing Prompting

a.    Model Pembelajaran Probing Prompting

1)   Pengertian Model Pembelajaran Probing Prompting

Menurut arti katanya, probing adalah penyelidikan dan pemeriksaan, sementara prompting adalah mendorong atau menuntun. Pembelajaran probing-prompting adalah pembelajaran dengan menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali gagasan siswa sehingga dapat menjelitkan proses berpikir yang mampu mengaitkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya, siswa mengkonstruksi konsep prinsip dan aturan menjadi pengetahuan baru, dan dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.[1]

Pembelajaran probing-prompting sangat erat kaitannya dengan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada saat pembelajaran ini disebut probing question. Probing question adalah pertanyaan yang bersifat menggali untuk mendapatkan jawaban lebih dalam dari siswa yang bermaksud untuk mengembangkan kualitas jawaban, sehingga jawaban berikutnya lebih jelas, akurat, dan beralasan. Probing question dapat memotivasi siswa untuk memahami suatu masalah dengan lebih mendalam sehingga siswa mampu mencapai jawaban yang dituju. Selama proses pencarian dan penemuan jawaban atas masalah tersebut, mereka berusaha menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki dengan pertanyaan yang akan dijawab.

Proses tanya jawab dalam pembelajaran dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. Siswa tidak bisa menghindari proses pembelajaran, karena setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Berdasarkan penelitian Priatna, proses probing dapat mengaktifkan siswa dalam belajar yang penuh tantangan, sebab ia menuntut konsentrasi dan keaktifan. Selanjutnya, perhatian siswa terhadap pembelajaran yang sedang dipelajari cenderung lebih terjaga karena siswa selalu mempersiapkan jawaban sebab mereka harus selalu siap jika tiba-tiba ditunjuk oleh guru.[2]

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Probing prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali, sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan sikap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang di pelajari. Selanjutnya siswa mengonstruksi konsep prinsip aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetauan baru tidak diberitahukan.[3]

Dalam pembelajaran model Probing Promting, pendidik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan membuat suasana pembelajaran terasa menyenangkan dan jauh dari kesan kaku. Cara belajar yang dimaksud adalah mengutamakan bagaimana proses peserta didik menjadi tahu dan paham terhadap konsep pembelajaran, membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam menemukan konsep dengan cara gaya belajar siswa masing-masing sesuai dengan keinginanya.

2)   Langkah-langkah Pembelajaran Probing Prompting

Langkah- langkah pembelajaran probing-prompting dijabarkan melalui tujuh tahapan teknik probing yang kemudian dikembangkan dengan prompting sebagai berikut:

a.    Guru menghadapkan siswa pada situasi baru, misalkan dengan memberikan gambar, rumus, atau situasi lainnya yang mengandung permasalahan.

b.    Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil dalam merumuskan permasalahan.

c.    Guru mengajukan persoalan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus (TPK) atau indikator kepada seluruh siswa.

d.   Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil.

e.    Menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan.

f.     Jika jawabannya tepat, maka guru meminta tanggapan kepada siswa lain tentang jawaban tersebut untuk meyakinkan bahwa seluruh siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Namun, jika siswa tersebut mengalami kemacetan jawaban atau jawaban yang diberikan kurang tepat, tidak tepat, atau diam, maka guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang jawabannya merupakan petunjuk jalan penyelesaian jawaban. Kemudian, guru memberikan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, hingga siswa dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator. Pertanyaan yang diajukan pada langkah keenam ini sebaiknya diberikan pada beberapa siswa yang berbeda agar seluruh siswa terlibat dalam seluruh kegiatan probing prompting.

g.    Guru mengajukan pertanyaan akhir pada siswa yang berbeda untuk lebih menekankan bahwa TPK/indikator tersebut benar-benar telah dipahami oleh seluruh siswa.[4]

 

3)   Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Probing Promting

Adapun kelebihan dari metode ini adalah dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar, untuk itu secara rinci dapat dikemukakan sebagai berikut :

a.    Setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, karena harus siap-siap menunggu giliran untuk ditanya.

b.    Siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, karena setiap siswa telah disiapkan pertanyaan oleh guru.

c.    Setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab, karena bisa saja ditanya tanggapannya tentang hasil jawaban temannya.

Adapun kelemahan dari metode ini adalah :

a.    Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, karena siswa takut diajukan pertanyaan kepadanya.

b.    Membuat pertanyaan yang valid atau sesuai dengan kemampuan daya pikir siswa sangat sulit.

c.    Penilaian hanya dilakukan dalam bentuk jawaban lisan sementara jawaban tertulis tidak.

d.   Siswa ada ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan atau jadi salah karena rasa takut menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru kepadanya.[5]

 

2.      Kemampuan Matematika

Russel dalam Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat mendefenisikan bahwa matematika sebagai suatu studi yang dimulai dari pengkajian bagian-bagian yang sangat dikenal menuju arah yang tidak dikenal. Arah yang dikenal itu tersusun baik (konstruktif), secara bertahap menuju arah yang rumit (kompleks) dari bilangan bulat ke bilangan pecah, bilangan rill ke bilangan kompleks, dari penjumlahan dan perkalian ke deferensial dan itegral, dan menuju matematika yang lebih tinggi.[6]

Berdasarkan jenisnya, kemampuan matematika dapat diklasifikasikan dalam lima kompetensi utama yaitu: pemahaman matematik (mathematical understanding), pemecahan masalah (mathematical problem solving), komunikasi matematik (mathematical comunication), konenksi matematik (mathematical connection) dan penalaran matematik (mathematical reasoning). Kemampuan matematik lainnya yang lebih tinggi adalah kemampuan berpikir kiritis matematik dan kemampuan berpikir kreatif matematik.[7] Dalam penelitian ini, peneliti hanya membahas pada kemampuan berpikir kreatif matematika.

3.      Kemampuan Berpikir Kreatif

a.    Pengertian

Berpikir adalah memanipulasi atau mengelola dan menstransformasikan informasi dalam memori. Ini sering dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah. Murid dapat berpikir tentang hal-hal yang konkret dan mereka bisa berpikir tentang hal-hal yang lebih abstrak.[8]

Kemampuan berpikir adalah berhubungan dengan tepatnya seorang individu menggunakan kedua-dua domain kognitif dan afektif dalam usaha untuk mendapatkan atau memberikan informasi, menyelesaikan masalah atau membuat keputusan. Dengan lain kata, kemampuan berpikir adalah kemampuan seseorang menggunakan otak (domain kognitif/ akal) dan hati (domain afektif/ qalbu) nya sebagai landasan kepada keyakinan (belief) atau tindakan (actions)”.

Seseorang yang kreatif selalu mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba, pertualang, suka bermain-main, serta intuitif dan berpotensi untuk menjadi yang kreatif.[9] Kreatif berhubungan dengan penemuan sesuatu, mengenai hal yang menghasilkan sesuatu yang baru dengan menggunakan sesuatu yang telah ada. Ini sesuai dengan perumusan kreativitas secara tradisional. Secara tradisional kreativitas dibatasi sebagai mewujudkan sesuatu yang baru itu mungkin berupa tingkah laku.[10]

Menurut Richard Paul dalam bukunya yang berjdul “The Center for Critical Thinking”, salah satu pusat berpikir yang terkenal di Amerika Serikat. Beliau menyatakan bahwa kemampuan berpikir dibagi kepada dua komponen yang penting yaitu : (i) kemempuan berpikir secara kritis, dan (ii) kemampuan berpikir secara kreatif.[11]

 

Kemampuan secara kreatif dilakukan dengan menggunakan pemikiran dalam mendapatkan ide-ide yang baru, kemungkinan yang baru, ciptaan yang baru berdasarkan kepada keaslian dalam penghasilannya. Ia dapat diberikan dalam bentuk ide yang nyata ataupun abstrak.[12]

b.   Ciri-ciri berpikir kreatif

Sund dalam Slameto menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut:

a.       Hasrat keingintahuan yang cukup besar

b.      Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru

c.       Panjang akal

d.      Keinginan untuk menemukan dan meneliti

e.       Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit

f.       Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan

g.      Memiliki dedikasi bergairah ssecara aktif dalam meaksanakan tugas

h.      Berpikir feksibel

i.        Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak

j.        Kemampuan membuat analisis dan sintesis

k.      Memiliki semangat bertanya serta meneliti

l.        Memiliki daya abstraksi yang cukup baik

m.    Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.[13]

 

Kepekaan berpikir dapat diukur dengan indikator-indikator yang telah ditemukan para ahli, salah satu menurut Torrance, kemampuan berpikir kreatif terbagi menjadi menjadi tiga hal yaitu:

1.      Fluency (kelancaran), yaitu menghasilkan banyak ide dalam berbagai kategori/ bidang.

2.      Originality (Keaslian), yaitu memiliki ide-ide baru untuk memecahkan persoalan.

3.      Elaboratio  (Penguraian), yaitu kemampuan memecahkan masalah secara detail.

 

Menurut Guilford dalam M. Nur Ghufron &Rini Risnawati S perilaku siswa yang termasuk dalam keterampilan kognitif kreatif siswa sebagai berikut:

Tabel 2.1: Perilaku Siswa Dalam Keterampilan Kognitif Kreatif[14]

Perilaku

Arti

a.       Berpikir Lancar

-          Menghasilkan banyak gagasan /jawaban yang relevan

-          Arus pemikiran lancer

b.      Berpikir Luwes (fleksibel)

-          Menghasilkan gagasan-gagasan yang seragam

-          Mampu mengubah cara atau pendekatan

-          Arah pemikiran yang berbeda

c.       Berpikir Orisinil

-          Memberikan jawaban yang tidak lazim, yang lain dari yang lain, yang jarang diberikankebanyakan orang

d.      Berpikir Terperinci (elaborasi)

-          Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan

-          memperinci detail-detail

-          memperluas suatu gagasan

 

Dari indikator diatas maka kemampuan berpikir kreatif yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu:

a.    Kelancaran (fluency), adalah kemampuan untuk memberikan respon

b.    Keluwesan (flexiblity), adalah kemampuan untuk memberikan berbagai macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah

c.    Keaslian (originality), adalah kemampuan untuk mencetus ide-ide baru

d.   Elaborasi (elaboration), adalah kemampuan untuk menguaraikan sebuah obyek tertentu secara terperinci.

4.    Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

a.    Pengertian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

SPLDV adalah suatu persamaan yang mengandung dua peubah yang masing-masing berderajat satu.[15]

                 Bentuk umum sistem persamaan linear dua variabel:

                                               

                                                 

b.    Menentukan Himpunan Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

1)      Metode eliminasi

Mengeliminasi salah satu variabel berarti menghilangkan salah satu variabel. Dengan metode eliminasi kita dapat menentukan himpunan penyelesaian dengan cara menghilangkan variabel atau peubah  lebih dahulu atau menghilangkan variabel  lebih dahulu.[16]

2)      Metode substitusi

Substitusi artinya mengganti, yaitu menggantikan variabel yang kita pilih pada persamaan pertama dan digunakan untuk mengganti variabel sejenis pada persamaan kedua. Substitusi dapat diartikan mengganti sesuatu dengan yang lain.[17]

3)      Metode campuran (Eliminasi dan Substitusi)

Metode campuran pada SPLDV kita dapat menyelesaikannya dengan menggabungkan antara eliminasi dan substitusi.[18]

B.  Penelitian yang Relevan

Untuk memperkuat penelitian ini, maka peneliti mengambil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu :

1.      Penelitian Megariati yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Turunan Fungsi Menggunakan Teknik Probing Prompting Di Kelas XI Ipa 1 Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Palembang” menyimpulkan bahawa pada hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika, yaitu pada siklus 1 rata-rata kelas 65,9 meningkat pada siklus 2 menjadi 78,8. Ketuntasan belajar klasikal dengan KKM yang ditetapkan 75% , pada siklus 1 belum terpenuhi yaitu hanya 68,25% namun pada siklus 2 menjadi 85,0% . Disamping itu aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran juga mengalami kenaikan dari siklus 1 ke siklus 2 Hal itu menunjukkan bahwa teknik probing prompting dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Penelitian ini merekomendasikan bahwa teknik probing prompting efektif untuk digunakan sebagai salah satu alternatif teknik mengajar dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa.[19]

2.      Anita Sulistyawati, dkk, “Analysis of Mathematic Creative Thinking Ability and Metacognition of Student on Probing Prompting Learning Models with Scaffolding Strategy”  Hasilnya menunjukkan bahwa Probing mendorong model pembelajaran dengan strategi Scaffolding efektif untuk kemampuan berpikir kreatif dan metakognitif matematis. Metakognitif memiliki efek positif pada kemampuan berpikir kreatif matematis dengan Probing Prompting model belajar dengan strategi Scaffolding.[20]

Tabel 2.2: Persamaan dan Perbedaan Penelitian terdahulu dengn Penelitian Peneliti

 

No.

Nama/ Judul Skripsi

Persamaan

Perbedaan

1

Megariati, “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Turunan Fungsi Menggunakan Teknik Probing Prompting di Kelas XI IPA 1 Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Palembang

1.      Dalam penelitian Mregariati dan peneliti mempunyai variabel bebas yang sama yaitu yaitu model pembelajaran Probing Promting

1.      Variabel terikat pada penelitian Megariati adalah hasil belajar

2.      Jenis penelitian Megariati adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

No.

Nama/ Judul Skripsi

Persamaan

Perbedaan

2

Anita Sulistyawati, dkk, “Analysis of Mathematic Creative Thinking Ability and Metacognition of Student on Probing Prompting Learning Models with Scaffolding Strategy”

1.      Dalam penelitian Anita Sulistyawati, dkk dan peneliti mempunyai variabel bebas yang sama yaitu model pembelajaran Probing Promting

2.      Variabel terikat pada penelitian Anita Sulistyawati, dkk adalah berpikir kreatif

1.      Jenis penelitian Anita Sulistyawati, dkk adalah metode mixed dengan tipe concurrent embedded design.

 

 

 

 

C.  Kerangka Berpikir

Model pembelajaran Probing Prompting  membuat siswa aktif dalam memilih dan mengelola informasi, model pembelajaran ini sangat cocok digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa, karena model pembelajaran Probing Prompting dimulai dengan pemberian masalah, dimana masalah yang biasanya memiliki konteks dengan dunia nyata. Dimana dengan pemberian masalah siswa lebih aktif mengeluarkan idea atau gagasan yang terbaik dalam pembelajaran. Model pembelajaran Probing Prompting mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga kemampuan berpikir kreatif siswa pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar pada prisma dan limas juga berbeda.

Apabila tipe ini diterapkan dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran matematika. Maka dapat diduga bahwa terdapat pengaruh pembelajaran Probing Prompting terhadap kemampuan berfikir kreatif matematika siswa di kelas VIII SMP Negeri 1 Angkola Barat. Dapat peneliti gambarkan dalam diagram hubungan kedua variabel diatas yang akan diteliti, sebagai berikut.

Berpikir kreatif siswa rendah

Model pembelajaran menggunakan Kooperatif tipe Probing Prompting

        Probing Prompting

 

 


                                               

Ada pengaruh model Probing Prompting

Berpikir kreatif siswa meningkat

 

 


D.  Hipotesis

Hipotesis berasal dari dua kata yaitu hypo (belum tentu benar) dan tesis (kesimpulan). Menurut Sekaran dalam Juliansyah Noor, menedefenisikan hipotesis sebagai hubungan yang diperkirakn secara  logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkap dalam bentuk pertanyaan yang dapat di uji. Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian.[21]

Bedasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini adalah ada pengaruh Cooperative Learning Tipe Probing Prompting terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di SMP Negeri 1 Angkola Barat.



[1]  Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hlm. 281.

[2] Ibid., hlm. 282.

[3]Istarani dan Muhammad Ridwan, 50 Tipe Strategi dan Teknik Pembelajaran Kooperatif (Medan: Media Persada, 2015), hlm.111. 

[4] Ibid., hlm. 282-283.

[5] Istarani dan Muhammad Ridwan, 50 Tipe Strategi dan Teknik Pembelajaran Kooperatif (Medan: Media Persada, 2015), hlm.111-112. 

[6] Hamzah B.Uno dan Masri Kuadrat, Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 108.

[7]Heris Hendriana dan Utari Soemarmo, Penilaian Pembelajaran Matematika (Bandung: PT Refika Aditama, 2016), hlm. 19.

[8] Jonh W Santrock, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 357.

[9] Wiko Haripahargio, Pengembangan Kreativitas dan Entreneurship Dalam Bendidikan Nasional (Jakarta: PT Kompas Media Nusantar, 2012), hlm. 59.

[10] Slameto, Belajar & Faktor-faktor  yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 145.

[11]  Iskandar, Psikologi Pendidikan :Sebuah Orientasi Baru (Cipayung: Gaung Persada (GP) Press, 2009), hlm. 86.

[12] Ibid.

[13] Slameto., Op.Cit., hlm. 147-148.

[14] M. Nur Ghufron dan Rini Risnawati S, Teori-Teori Psikologi (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 106-111. 

[15]  Endah Budi Rahaju, dkk,  Contextual Teaching and Learning Matematika: Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII  (Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm.92.

[16] Ibid., hlm.100

[17] Ibid., hlm.103.

[18] Ibid., hlm.105

[19] Megariati, “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Turunan Fungsi Menggunakan Teknik Probing Prompting di Kelas XI IPA 1 Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Palembang”, Jurnal Pendidikan Matematika Sriwijaya, vol.5 no.1 Tahun 2011, di akses pada 18 Oktober 2018, Pukul 13.25 WIB.

[21] Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya Ilmiah (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), hlm. 79.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...