Kamis, 09 Juni 2022

CHAPTER I PENGARUH COOPERATIVE LEARNING TIPE PROBING PROMPTING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DI SMP NEGERI 1 ANGKOLA BARAT

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Sains (IPTEKS) sangat pesat terutama dalam bidang telekomunikasi dan informasi. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tersebut, arus informasi datang dari berbagai penjuru dunia secara cepat dan melimpah ruah. Untuk tampil unggul pada keadaan yang selalu berubah dan kompetitif ini, kita dituntut memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi, kemampuan untuk dapat berfikir secara kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemampuan untuk dapat bekerja sama secara efektif. Oleh sebab itu, untuk memiliki kemampuan tersebut dibutuhkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan merupakan pengalaman belajar diberbagai lingkungan yang berlangsung seumur hidup dan berpengaruh positif bagi kemampuan dan perkembangan individu. Dalam pendidikan mengandung transformasi pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan yang diperlukan. Oleh sebab itu peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu tujuan utama dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga diperlukan manusia yang utuh, yaitu manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan namun mempunyai kemampuan untuk berpikir rasional, kritis, dan kreatif terhadap masalah-masalah yang ada.

Pentingnya memiliki kemampuan berpikir kreatif matematika tercermin dari pendapat beberapa pakar, yaitu:

1.      Siswono menyatakan bahwa salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan denagan melalui pengembangan pemikiran divergen, original, rasa ingin tahu , membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba.  Hal ini mengisyaratkan pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematika melalui aktivitas-aktivitas kreatif dalam pembelajaran matematika.

2.      Dwijanto menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematikaperlu dikembangkan kemampuan berpikir kreatif matematik, yaitu kemampuan untuk manyelesaikan masalah matematika secara kreatif. Kemampuan berpikir kreatif matematik meliputi kemampuan untuk menyelesaikan masalahdan atau membangun berpikir dalam struktur, menyatakan pernyataan yang berbeda dengan logika deduktif yang biasa, dan mengemukakan konsep yang umum untuk menyatukan hal yang penting dalam matematika.[1]

Dimana matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang memiliki peranan penting dalam mengembangkan ilmu-ilmu lainnya, terutama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dan modern. Itulah mengapa pentingnya ilmu matematika bagi pengembangan ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu, di setiap jenjang pendidikan perlu diajarkan matematika.Akantetapi, kebanyakan terdapat di lapangan bahwa selama proses pembelajaran matematika berlangsung sering terjadi bahwa siswa tidak mau tahu terhadap pembelajaran, mereka seolah-olah tidak menghiraukan kegiatan belajar mengajar.

faktor dari guru juga dapat membuat kesulitan siswa, yakni kurang tepatnya penggunaan pembelajaran yang digunakan oleh guru. kebanyakan guru masih menggunakan pendekatan konvensional. Siswa hanya menerima materi sebatas yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa cenderung pasif dan keaktifan siswa kurang diperhatikan. Selain itu ketika siswa diberi permasalahan siswa cebnderung memiiki jawaban yang sama, dan terkadang hanya mengikuti lagkah-langkah yang ada di buku paket atau cara yang telah ada. Belum tampak adanya penemuan ide baru maupun mengaitkan materi dengan dunia nyata yang dilakukan oleh siswa. Selain itu guru kurang mengarahkan dan memotivasi siswa untuk mengaitkan permasalahan yang dehadapi dengan kehidupan sehari-hari dan memunculkan ide-ide kreatif melalui penyelesaian permasalahan. Hal ini menyebabkan rendahnya kreativitas siswa dalam belajar matematika, karena siswa tidak diberik kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa.

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka banyak strategi, model, pendekatan, dan metode pengajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Namun dalam penerapannya, perlu disadari bahwa tidak setiap strategi, model, pendekatan, atau pun metode sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu penyebab terjadinya siswa tidak aktif dalam pembelajaran matematika pada umumnya adalah karena penerapan strategi, model, pendekatan, atau pun metode mengajar yang kurang tepat. Padahal strategi, model, pendekatan, atau pun metode mengajar sangat mempengaruhi kemampuan atau hasil belajar siswa.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika  di SMP Negeri 1Angkola Barat, dari hasil observasi menunjukkan bahwa siswa yang sedang mengerjakan soal matematika akan mengalami kesulitan apabila guru memberikan tugas atau tes yang tidak sesuai dengan contoh soal maupun yang lebih kompleks dari yang dijelaskan guru pada saat proses pembelajaran matematika berlangsung di kelas.[2]

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara peneliti dengan seorang guru matematika di SMP Negeri 1 Angkola Barat Ibu Nurholila mengatakan bahwa ketika siswa diberikan soal yang berbeda dari contoh soal siswa akan merasa kesulitan dalam mengerjakannya disebabkan kemampuan berpikir kreatif siswa masih rendah karena dalam proses pembelajaran peserta didik masih banyak yang pasif, mereka cenderung duduk, diam, mendengarkan tanpa mampu mengembangkan informasi dari dalam diskusi maupun penjelasan guru. selain itu, siswa jarang memberikan pertanyaan tentang materi yang disampaikan, padahal guru sudah berusaha sebaik mungkin untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa.[3]

Seperti yang dikemukakan oleh Ibu Agustini bahwa siswa masih kurang menganalisis dan mengevaluasi dalam mengajukan berbagai pertanyaan sesuai dengan konsep pembelajaran, menjawab pertanyaan sesuai dengan konsep pertanyaan, penyelesaian masalah yang masih jauh dari yang diharapkan yang sesuai dengan konsep pembelajaran, mengkomunikasikan gagasan/ide baru sesuai dengan konsep pembelajaran, menarik kesimpulan sesuai dengan konsep pembelajaran.[4]

Berdasrkan obsevasi dan pengalaman peneliti di sekolah tersebut yang merupakan tempat PPL, diperoleh bahwa pada umumnya siswa hanya terbiasa mengerjakan soal yang mudah dan yang sesuai dengan contoh soal yang diberikan guru. Sehingga dengan mudah siswa hanya langsung menggunakan rumus yang ada bahkan meniru contoh soal yang sudah ada. Hal ini disebabkan karena siswa tidak menguasai atau memahami konsep dasar mengenai pembelajaran matematika. Sebagian siswa hanya menghafal rumus yang sudah ada, sehingga saat soal sedikit diubah atau diberikan soal yang lebih kompleks, siswa akhirnya tidak dapat menyelesaikan soal yang diberikan.

Jadi, berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti akan menerapkan suatu model pembelajaran yang dianggap lebih efektif bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif pada pokok bahasan SPLDV. Model pembelajaran yang dianggap tepat adalah model pembelajaran probing prompting. Model pembelajaran probing prompting merupakan model pembelajaran yang dimulai dengan menyajikan serangkaian pertanyaan yang bersifat menuntun dan menggali gagasan siswa sehingga dapat menjelitkan proses berpikir yang mampu mengaitkan pengtahuan dan pengalaman siswa dengan pengtahuan yang baru yang sedang dipelajari.[5] Dengan model pembelajaran ini, proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa  secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau haris berpartisipasi aktif, siswa tidak bias menghindari dari proses pembelajaran, karena setiap saat ia bisa di libatkan dalam proses tanya jawab.

Penerapan model ini menjadi jalan alternative untuk mempermudah siswa melakukan akomodasi dan membangun pengetahuannya sendiri. Siswa mengkonstruksi sendiri konsep, prinsip, dan aturan menjadi pengetahuan baru. Aktivitas siswa yang diharapkan dalam pembelajaran adalah siswa dapat melakukan observasi (dengan cara mengamati, mengukur,  atau mencatat data, menjawab pertanyaan, dan mengajukan pertanyaan atau sanggahan). Sehinga dalam penerapam model ini, terdapat dua aktivitas yang saling berhubungan, yaitu aktivitas siswa yang meliputi aktivitas berpikir dan pisik yang berusaha membangun pengetahuannya dan aktivitas guru yang berusaha membimbing siswanya.[6]

Berdasarkan masalah diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Cooperative Learning tipe Probing Promting Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Pada Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di SMP Negeri 1 Angkola Barat”. 

B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas peneliti mengidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

1.      Siswa yang tidak terbiasa belajar mandiri, mereka cenderung pasif dan mereka akan menunjukkan ketidaksiapan mereka dalam belajar.

2.      Belum optimalnya proses pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran guna untuk mengembangkan pola pikir terutama di dalam pembelajaran matematika yang memerlukan praktik dan percobaan.

3.      Belum optimalnya penggunaan model pembelajaran yang mampu membuat siswa dapat memcahkan masalah dengan ide-ide yang di dapatkannya.

4.      Sarana-prasarana yang menghambat proses berjalannya pembelajaran sehingga siswa terhambat dalam berpikir dan belajar.

5.      Kemampuan berpikir siswa di dalam menyelesaikan soal-soal matematika masih rendah sehingga mendapatkan siswa dapat berpikir kreatif, sangat tergantung pada usaha siswa itu sendiri, yaitu sikap dalam mencari setiap solusi dari permasalahan yang ada.

 

C.  Batasan Masalah

Dalam suatu penelitian, permasalahan tidak perlu terlalu luas karena dikhawatirkan pembahasnya tidak terarah dan tidak mencapai sasaran yang diharapkan. Oleh karena itu, dari berbagai masalah yang teridentifikasi di atas, maka penulis memberikan batasan masalah yaitu hanya mengkaji tentang model kooperatif tipe probing prompting yang dapat mempengaruhi berpikir kreatif siswa. Penelitian ini di lakukan di kelas VIII SMP Negeri 1 Angkola Barat.

D.  Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:Apakah ada pengaruh yang signifikan penggunaan model Kooperatif tipe Probing Prompting terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Angkola barat?

E.  Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang signifikan antara model Cooperative Learning Tipe Probing Prompting terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di SMP NEGERI 1 Angkola Barat.

F.   Defenisi Operasional Variabel

1. Pembelajaran Probing Promting

Probing Prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali, sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan sikap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengonstruksi konsep prinsip aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.[7]

2. Kemampuan Berpikir Kreatif

Menurut The Liang Gie berpikir kreatif adalah suatu proses dari budi manusia yang dapat menciptakan gagasan baru dari gambaran angan-angan, ingatan, keterangan, dan konsep yang telah dimiliki.[8] Menurut Iskandar kemampuan secara kreatif dilakukan dengan menggunakan pemikiran dalam mendapatkan ide-ide yang baru, kemungkinan yang baru, ciptaan yang baru berdasarkan kepada keaslian dalam penghasilannya. Ia dapat diberikan dalam bentuk ide yang nyata ataupun abstrak.[9]

Jadi, kemampuan berpikir kreatif menurut peneliti adalah kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan atau soal-soal matematika dengan cara baru tanpa terfokus pada rumus yang ada.

G.    Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari hasil penelitian ini, yaitu meliputi:

1.    Kegunaan bersifat teoritis: untuk mendukung teori yang telah ada dan sebagai bahan informasi dan perbandingan bagi peneliti sebelumnya yang ingin meneliti masalah yang relevan dengan penelitian ini.

2.    Kegunaan bersifat praktis

a.    Dengan menerapkan model pembelajaran probing prompting siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan mampu menyelesaikan soal matematika yang bersifat kompleks.

b.   Sebagai bahan masukan bagi guru untuk dapat menggunakan model pembelajaran probing prompting agar kemampuan berpikir kreatif siswa dapat meningkat.

c.    Bagi sekolah, sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan pembinaan guru-guru dalam mengajar agar menggunakan model pembelajaran yang bervariasi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

d.   Bagi peneliti, sebagai bahan pertimbangan untuk bekal mengajar dimasa yang akan datang agar lebih efektif dan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

H.      Sistematika Pembahasan

Untuk memudahkan penulisan proposal ini dan memudahkan dalam penyusunannya maka peneliti membuat sistematika pembahasan sebagai berikut:

Bab I pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, defenisi operasional variabel, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penelitian.

Bab II landasan teori meliputi: kerangka teori, penelitian terdahulu, kerangka berpikir, hipotesis.

Bab III Metodologi penelitian meliputi: lokasi dan waktu penelitian, jenis penelitian, populasi dan sampel, instrumen pengumpulan data, uji validitas dan reliabilitas instrumen, analisis data.

Bab IV Hasil penelitian yang meliputi: deskripsi data penelitian, pengujian hipotesis, pembahasan penelitian, dan keterbatasan penelitian.

Bab V yang meliputi kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah disertai dengan saran-saran kemudian dilengkapi dengan literatur.



[1]Amidi M. ZuhairZahid, “MembangunKemampuanBerpikirKreatifMatematisDengan Model PembelajaranBerbasisMasalahBerbantuan E-Learning”, di aksespadahariKamis, tanggal 06 September 2018, pukul 15.53 WIB (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/prisma/article/download/21559/10277).

[2]Obsevasi Peneliti di kelas VIII-B SMP Negeri 1 Angkola Barat, tanggal 14 Oktober 2017, pukul 13.35-12.55 WIB.

[3]Nurholila, Guru Matematika SMP Negeri 1 Angkola Barat, wawancara di SMP Negeri 1 Angkola Barat, Tanggal 16 Oktober 2017, Pukul 08.45 WIB.

[4]Agustini, Guru Matematika SMP Negeri 1 Angkola Barat, wawancara di SMP Negeri 1 Angkola Barat, Tanggal 27 Oktober 2017, Pukul 10.00 WIB.

[5]Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran Dan Pembelajaran (Yogyakarta: PustakaPelajara, 2014), hlm. 281.

[6] Putunda Al Arif hidayatullah, dkk “Pengaruh Model Probing Prompting Terhadap Kemampuan Berpiki Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V”, e-journal MIMBAR PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD, Vol.2 No.1 Tahun 2014, di akses pada 12 Nopember 2018, Pukul 4.24 WIB.

[7]Istaranidan Muhammad Ridwan, 50 TipeStrategidanTeknikPembelajaraKooperatif(Medan: Media Persada, 2015), hlm.111.

[8]The Liang Gie, Cara Belajar yang Efisien (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 1995), hlm. 243.

[9]Iskandar, Psikologi Pendidikan (Cipayung: Gaung Persada (GP) Press, 2009), hlm. 88.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS IV SD NEGERI 100215 PERSIAPAN MOSA JULU

  BAB II  UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATE MATIKA PADA MATE RI BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK DI KELAS I...