PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA TERHADAP
KOGNITIF SISWA
PADA MATERI PERSAMAAN LINEAR
SATU VARIABEL
DI KELAS VII MTs S SYAHBUDDIN MUSTAFA NAULI
KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar dan
bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia. Pendidikan adalah investasi
sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi
kelangsungan peradaban manusia di dunia.[1]
Oleh karena itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai
sesuatu yang penting dan utama dalam konteks membangun bangsa dan negara.
Begitu juga di Indonesia menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang sangat
penting dan utama.
Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggung jawab. Untuk mencapai
tujuan pendidikan tersebut diperlukan adanya pendidikan yang berkualitas dan
bermutu serta guru yang profesional, guru juga harus bisa menciptakan suasana
belajar yang kreatif dan menyenangkan sehingga harapan dan tujuan dari
pendidikan yang diinginkan dapat terwujud.
Di Indonesia, system pendidikan terus
menerus mengalami perubahan, baik perubahan kurikulum maupun proses belajar
mengajar seperti yang berlangsung sekarang ini. Oleh karena itu, guru sebagai
tenaga pendidik mempunyai tujuan utama dalam kegiatan belajar mengajar
disekolah supaya dapat mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan,
sehingga dapat berdampak baik terhadap pencapaian hasil belajar (kognitif) yang
merupakan kontribusi guru yang diupayakan sejak kegiatan belajar mengajar. Dari
hasil belajar inilah dapat dilihat suatu keberhasilan siswa terhadap pemahaman
tentang materi atau bahan ajar.
Matematika adalah salah satu cabang ilmu
yang diajarkan di sekolah dan juga merupakan salah satu mata pelajaran yang
memiliki peranan penting baik dalam pendidikan, lingkungan maupun dalam
kehidupan sosial lainnya. Prestasi Matematika siswa di Indonesia sungguh sangat
memprihatinkan. Salah satu penyebab rendahnya prestasi Matematika siswa adalah
masih banyaknya siswa yang tidak suka Matematika, bahkan mendengar kata
“Matematika” saja rasanya ia tidak senang. Nah, dengan keadaan begitu bagaimana
bisa seorang siswa mengembangkan potensinya? Sedangkan mempelajari Matematika
itu saja mereka setengah hati. Dengan permasalahan seperti itu, tugas seorang
guru Matematika bertambah, yaitu bagaiman seorang guru mengajarkan pelajaran
yang dianggap seperti monster bagi siswa, agar pembelajaran bisa lebih
menyenangkan dan bermakna., sehingga hasil belajar siswa pun meningkat. Apalagi
dalam pembelajaran Matematika yang kajiannya adalah bidang abstrak, karena
keabstrakannya ini kebanyakan guru kesulitan dalam mengembangkan pembelajaran
Matematika.
Guru merupakan faktor penting dalam
menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru adalah orang yang memberikan ilmu
pengetahuan kepada anak didik.[2]
Guru juga adalah semua orang yang berwenang dan bertanggungjawab untuk
membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal di
sekolah maupun di luar sekolah. Dalam hal tersebut pemilihan model dan media
(alat peraga) pembelajaran merupakan bagian terpenting yang harus dipilih
seorang guru. Penggunaan alat peraga pembelajaran harus disesuaikan dengan
materi pembelajaran. Apabila guru salah dalam memilih alat peraga pembelajaran
maka akan berakibat pada hasil belajar siswa. Alat peraga (media) secara garis
besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat
siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.[3]
Ada beberapa fungsi dari media atau alat
peraga pembelajaran dalam bidang Matematika, diantaranya sebagai berikut:
Dengan adanya media pembelajaran,
anak-anak akan mengikuti pembelajaran dengan gembira sehingga minatnya dalam
mempelajari Matematika semakin besar. Anak-anak senang, terangsang, tertarik
dan bersikap positif terhadap pembelajaran Matematika.
Dengan disajikannya konsep
Matematika dalam bentuk konkret, maka siswa pada tingkat-tingkat yang lebih
rendah akan lebih mudah dan mengerti.
Media pembelajaran dapat membantu
daya tilik ruang, karena anak tidak dapat membayangkan bentuk-bentuk geometri
ruang sehingga gambar dan benda-benda nyata menjadi media pemahamannya tentang
ruang.
Anak akan menyadari adanya
hubungan antara pembelajaran dengan benda-benda yang ada disekitarnya, atau
antara ilmu dengan alam sekitar dan masyarakat.[4]
Setelah peneliti melakukan observasi,
ternyata dorongan siswa untuk mempelajari Matematika pada MTs S Syahbuddin
Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara tergolong rendah. Rendahnya hasil
belajar siswa belajar Matematika dapat dilihat dari kurangnya semangat belajar
siswa. Adapun faktor rendahnya hasil belajar siswa untuk mempelajari Matematika
yaitu seperti hasil wawancara siswa dan guru:
Sindy Fauziah Simamora menyatakan bahwa
“guru dalam menjelaskan terlalu monoton pada buku dan membosankan karena jarang
menggunakan alat peraga untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan”.[5]
Dan hasil wawancara dari guru
Matematika, Ibu
Tukma Lubis bahwa “minat dan semangat siswa dalam belajar Matematika masih
sangat kurang, karena mereka merasa pelajaran Matematika itu sangat sulit, jadi
dari pemikiran itulah siswa tidak terlalu tertarik dalam belajar Matematika.
Begitu juga karena keterbatasan fasilitas sekolah yang masih kurang membuat
siswa dan guru terbatas dalam mengembangkan pembelajaran sehingga membuat hasil
belajar siswa menurun. Dalam proses pembelajaran banyak siswa yang tidak
memiliki semangat belajar Matematika karena guru hanya menggunakan media buku
paket dan papan tulis. Hal ini membuat siswa merasa bosan, malas dan kesulitan
dalam memahami pelajaran Matematika serta anggapan siswa bahwa Matematika
kurang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya hal ini mengakibatkan
siswa tidak dapat mencapai hasil optimal. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya
nilai ulangan harian siswa dalam belajar Matematika dan berakibat pada hasil
belajar Matematika siswa yang tuntas mencapai 38,5 % dan tidak tuntas sebesar
61,5 %.[6]
Alat peraga adalah alat yang digunakan
pengajar untuk mewujudkan atau mendemonstrasikan bahan pelajaran guru dengan
memberikan pengajaran yang jelas tentang pelajaran yang diberikan, dalam hal
ini lebih menolong siswa untuk lebih mudah memahami pelajaran dengan menguasai
isi dan kecekatan pelajaran dengan baik.[7]
Alat peraga merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk memusatkan
perhatian siswa agar terfokus dalam pembelajaran. Alat peraga bisa dikatakan
sebagai alat yang bisa merangsang siswa untuk terjadinya proses belajar. Media
pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan perangkat
lunak yang mengadung pesan. Media tidak hanya berupa alat atau bahan, tetapi
juga hal lain yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan.[8]
Media pembelajaran sangat menunjang
tingkat pemahaman peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar secara
langsung. Untuk meningkatkan hasil belajar, siswa harus memperhatikan dan
berprestasi dalam proses pembelajaran. Banyak alat peraga yang dipakai untuk
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi persamaan linear satu variabel,
namun peneliti tertarik untuk menerapkan alat peraga kartu variabel dan kartu konstanta.
Alat peraga kartu variabel dan kartu konstanta untuk materi persamaan linear
satu variabel dalam penelitian ini adalah alat peraga yang terbuat dari Styrofoam yang dibagian tengah dibuat
garis pemisah antara ruas kanan dan ruas kiri, juga kertas warna-warni yang
bertulis dengan huruf dan angka. Karena alat peraga ini mudah untuk digunakan
oleh siswa. Alat peraga ini juga dapat dengan mudah diaplikasikan dalam
pembelajaran materi persamaan linear satu variabel.
Dari uraian permasalahan di atas, peneliti
menduga bahwa penggunaan alat peraga inilah yang menjadi faktor utama dalam
penentuan tinggi rendahnya hasil belajar siswa pada umumnya. Dalam hal yang
dikemukakan tersebut di atas maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi
dengan judul “Pengaruh Penggunaan Alat
Peraga Terhadap Kognitif Siswa Pada Materi Persamaan Linear Satu Variabel di
Kelas VII MTs S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara”.
B.
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat didefenisikan sebagai
berikut:
1. Guru
belum mampu menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan
2. Guru
masih jarang menggunakan media atau alat peraga yang tepat dalam pembelajaran
khususnya Matematika
3. Sebagian
siswa memiliki kemampuan kognitif Matematika yang belum maksimal.
4. Minat
belajar siswa pada mata pelajaran Matematika khususnya pada materi persamaan
linear satu variabel masih sangat rendah
C.
Batasan
Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di
atas, maka peneliti membatasi permasalahan pada Penggunaan Alat Peraga Terhadap
Kognitif Siswa Pada Materi Persamaan Linear Satu Variabel di Kelas VII MTs S
Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.
D.
Defenisi
Operasional Variabel
Defenisi operasional dimaksudkan untuk
menghindari kesalahan pemahaman dan perbedaan penafsiran yang berkaitan dengan
istilah-istilah dalam judul penelitian ini. Maka defenisi operasional yang
perlu dijelaskan sesuai dengan judul yaitu:
1. Alat
Peraga
Yang
dimaksud dengan alat peraga adalah media alat bantu pembelajaran, dan segala
macam benda yang digunakan untuk memperagakan materi pelajaran. Alat peraga
mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang masih bersifat abstrak,
kemudian dikonkretkan dengan menggunakan alat agar dapat dijangkau dengan pikiran
yang sederhana dan dapat dilihat, dipandang, dan dirasakan. Alat peraga lebih
khusus dari media dan teknologi pembelajaran karena berfungsi hanya untuk
memperagakan materi pelajaran yang bersifat abstrak.[9]
Alat peraga yang dimaksud disini ialah alat-alat yang digunakan guru yang
berfungsi membantu guru dalam proses belajarnya dan alat yang digunakan pada
penelitian ini adalah alat peraga kartu variabel dan kartu konstanta.
Alat
peraga kartu variabel dan kartu konstanta adalah alat peraga yang digunakan
guru untuk mempermudah dan membuat siswa lebih tertarik dalam proses belajar
mengajar yang terbuat dari styrofoam
seperti dan kertas warna-warni (origami) diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
Dapat
disimpulkan bahwa alat peraga adalah alat-alat yang digunakan guru yang
berfungsi membantu guru dalam proses mengajarnya dan membantu peserta didik
dalam proses belajarnya.
2. Kognitif
Siswa
Kemampuan
kognitif merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa selain
dari kemampuan efektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif adalah kemampuan
yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari aspek
mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analysing), menilai (evaluating), menciptakan (creating). Dalam penelitian ini peneliti
memfokuskan pada kemampuan kognitif siswa yaitu pada aspek pengetahuan,
pemahaman, dan aplikasi.
E.
Rumusan
Masalah
Sejalan dengan judul penelitian dan
masalah yang telah dipaparkan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana
nilai pre test kelas eksperimen dan
kelas kontrol pada materi persamaan linear satu variabel?
2. Bagaimana
nilai post test kelas eksperimen dan
kelas kontrol pada materi persamaan linear satu variabel?
3. Apakah
ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan alat peraga terhadap kognitif siswa pada materi persamaan
linear satu variabel di kelas VII MTs S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten
Padang Lawas Utara?
F.
Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah
dirumuskan, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui:
1. Untuk
mengetahui bagaimana nilai pre test
kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi persamaan linear satu variabel.
2. Untuk
mengetahui bagaimana nilai post test
kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi persamaan linear satu variabel.
3. Untuk
mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan alat peraga
terhadap kognitif siswa pada materi persamaan linear satu variabel di kelas VII
MTs S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara.
G.
Kegunaan
Penelitian
1. Teoritis
Hasil
penelitian ini nantinya diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan
sebagai bahan kajian dalam upaya meningkatkan ilmu pendidikan khususnya di
bidang pendidikan Matematika.
2. Praktis
a. Bagi
siswa
Sebagai
bahan motivasi bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar
Matematika.
b. Bagi
guru
1) Memberikan
masukan pada guru, khususnya guru Matematika dalam melaksanakan proses
pembelajaran.
2) Sebagai
sumbangan penelitian untuk meningkatkan kualitas pengajaran Matematika untuk
mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan dan sebagai bahan pertimbangan bagi
guru pada bidang studi Matematika untuk memilih media atau alat peraga
pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
c. Bagi
sekolah
Bagi
pengelola pendidikan terutama kepala sekolah, penelitian ini diharapkan akan
mampu memberikan umpan balik bagi pengembangan dan pembinaan pendidikan, baik
mengenai rencana dan solusi pembelajaran maupun penelitian media pembelajaran.
H.
Sistematika
Pembahasan
Untuk memudahkan pembahasan dan penulisan
penelitian ini, peneliti membagi pada beberapa bab untuk tiap-tiap bab terdiri
dari sub bab. Adapun perincian dan sistematika penulisan tersebut adalah:
Bab I, merupakan pendahuluan yang
menjadi pengantar umum dari keseluruhan isi tulisan. Adapun bab ini membahas
tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, defenisi
operasional variabel, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,
dan sistematika pembahasan.
Bab II, merupakan landasan teori yang
membahas tentang kerangka teori, penelitian yang relevan, kerangka berpikir,
dan hipotesis.
Bab III, merupakan metodologi penelitian
yang menjelaskan tentang tempat dan waktu penelitian, jenis dan metode
penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, validasi instrumen,
teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
Bab IV, merupakan hasil penelitian yang
mencakup keseluruhan uraian temuan penelitian yang akan menjadi jawaban dari
permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Adapun isi dari hasil penelitian
meeliputi deskripsi data, pengujian persyaratan analisis, uji hipotesis,
pembahasan, dan keterbatasan penelitian.
Bab V, merupakan penutup yang mencakup
dari kesimpulan dan saran-saran.
[1]Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2011), hlm. 2
[2]Syaiful Bahri
Djamarah, Guru dan Anak Didik, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2010), hlm . 31.
[3]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta; Raja
Grafindo Persada, 2013), hlm. 3
[4]Hamzah B. Uno dan Nina
Lamatenggo, Teknologi Komunikasi dan
Informasi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 141
[5]Sindy Fauziah Simamora
Kelas VII, Wawancara di MTs S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas
Utara Pada 26 November 2019 jam 10.00
WIB
[6]Tukma Lubis Wawancara
dengan Guru Matematika Kelas VII MTs S Syahbuddin Mustafa Nauli Kabupaten Padang Lawas Utara pada 26 November
2019 jam 11.154
[7]Warty Soemanto dan
Hendyat Soetopo, Dasar dan Teori
Pendidikan Dunia Tantangan Bagi Para Pemimpin Pendidik, (Surabaya: Usaha Nasional,
1995), hlm. 156.
[8]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm 244.
[9]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2013), hlm. 9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar